Jumat, 03/07/2026
Jumat, 03/07/2026
Forum dialog antara PHI, SKK Migas, dan insan media di Balikpapan, Kamis (2/7/2026). (Foto: Dok.PHI)
Jumat, 03/07/2026

Forum dialog antara PHI, SKK Migas, dan insan media di Balikpapan, Kamis (2/7/2026). (Foto: Dok.PHI)
Penulis: La Eko
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri yang masih jauh melampaui kapasitas produksi nasional.
Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengungkapkan Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 1,6 juta barel minyak per hari. Sementara itu, produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 605 ribu barel per hari, sehingga kekurangannya masih harus dipenuhi melalui impor.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat setiap barel minyak yang diproduksi dari lapangan migas domestik memiliki nilai strategis bagi ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Dony menjelaskan tantangan industri hulu migas saat ini semakin kompleks. Selain dipengaruhi dinamika geopolitik global, sebagian besar lapangan migas yang berproduksi telah memasuki tahap secondary recovery dan tertiary recovery, sehingga proses produksi membutuhkan teknologi, biaya, dan pengelolaan operasi yang lebih optimal.
“Pada tahap ini, operasi harus berjalan lancar tanpa kendala yang berarti agar kegiatan produksi tetap memiliki nilai keekonomian,” ujarnya melalui siaran pers tertulis pada Jumat (3/7/2026).
Ia menambahkan, keberlangsungan operasi hulu migas juga memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan media.
Menurutnya, pemberitaan yang akurat, berimbang, dan edukatif dapat membantu meningkatkan pemahaman publik mengenai pentingnya industri hulu migas bagi pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Sebaliknya, informasi yang tidak tepat dikhawatirkan dapat memengaruhi dukungan masyarakat terhadap kegiatan operasi migas. Jika produksi menurun, beban impor energi akan semakin besar dan berdampak pada meningkatnya pengeluaran devisa negara.
PHI juga menjelaskan kepada insan media mengenai rangkaian kegiatan industri hulu migas, mulai dari eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga produksi.
Pemahaman tersebut dinilai penting agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai tantangan dan kontribusi sektor hulu migas.
Sementara itu, Analis Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul), Khusnul Istiqomah, mengatakan media memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi mengenai kinerja industri hulu migas kepada masyarakat.
Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan SKK Migas dan perusahaan migas dalam mendukung ketahanan energi nasional akan lebih mudah dipahami publik apabila disampaikan melalui pemberitaan yang profesional, akurat, dan informatif.
Pandangan tersebut disampaikan dalam forum dialog antara PHI, SKK Migas, dan insan media di Balikpapan, Kamis (2/7/2026).
Kegiatan itu juga diisi dengan sesi pengembangan kapasitas mengenai pengelolaan perubahan sebagai bekal menghadapi dinamika dunia kerja.
Sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, PHI mengelola operasi hulu migas Regional 3 Kalimantan yang meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10 dengan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Sepanjang 2025, PHI membukukan produksi sebesar 58 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 630 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD), sebagai kontribusi dalam mendukung keberlanjutan produksi migas nasional.
Editor: Erwin
Jumat, 03/07/2026
Forum dialog antara PHI, SKK Migas, dan insan media di Balikpapan, Kamis (2/7/2026). (Foto: Dok.PHI)
TERPOPULER