Rabu, 04/02/2026

Kapal Rute Samarinda–Melak Belum Beroperasi, Warga Kubar Kesulitan Akses Berobat ke Samarinda

Rabu, 04/02/2026

Dermaga Pelabuhan Melak tampak sepi karena kapal milir rute Melak – Samarinda belum tersedia. (Foto: Adi/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Kapal Rute Samarinda–Melak Belum Beroperasi, Warga Kubar Kesulitan Akses Berobat ke Samarinda

Rabu, 04/02/2026

logo

Dermaga Pelabuhan Melak tampak sepi karena kapal milir rute Melak – Samarinda belum tersedia. (Foto: Adi/Korankaltim.com)

Penulis: Kusmas Riadi

KORANKALTIM.COM, SENDAWAR – Aktivitas kapal angkutan penumpang dan barang reguler di Pelabuhan Melak, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), hingga kini masih terhenti. Kapal reguler dengan rute Samarinda–Melak belum kembali beroperasi sejak pelayaran terakhir pada Kamis, (22/1/2026) lalu. 

Berdasarkan pantauan Korankaltim.com, hingga Rabu (4/2/2026) di Pelabuhan Melak menunjukkan kondisi tampak sepi dari aktivitas kapal angkutan reguler. Tidak terlihat kapal sandar maupun berangkat dari dermaga utama. 

Kondisi ini berdampak langsung pada mobilitas masyarakat Kubar, terutama warga yang selama ini bergantung pada transportasi sungai untuk berbagai keperluan, termasuk akses berobat ke Samarinda.

Situasi tersebut dirasakan langsung oleh Iwan (49), warga Kecamatan Barong Tongkok. Ia datang ke Pelabuhan Melak dengan harapan dapat berangkat ke Samarinda untuk menjalani kontrol kesehatan istrinya. Namun kapal angkutan penumpang dan barang yang biasa melayani rute tersebut belum juga beroperasi.

Iwan mengungkapkan, istrinya menderita penyakit batu empedu dan gangguan lambung. Jadwal kontrol ke Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda bahkan telah terlewat empat hari.

Selama ini, mereka rutin setiap bulan menjalani pengobatan di Samarinda karena penanganan medis yang dibutuhkan belum dapat sepenuhnya dilakukan di Kubar.

“Hari ini kali ke tiga kembali ke pelabuhan untuk cek jadwal kapal dengan harapan sudah ada. Ternyata masih belum, padahal istri saya sudah lewat jadwal kontrol,” ujarnya kepada Korankaltim.com

Ia menjelaskan, jalur darat menggunakan bus Damri atau travel tidak memungkinkan ia gunakan karena kondisi jalan yang rusak dan waktu tempuh yang panjang. Sementara itu, penggunaan speedboat juga dinilai kurang aman bagi pasien karena guncangan yang cukup keras.

“Bukan soal biaya transportasi. Istri saya memang tidak kuat kalau harus lewat darat atau naik speedboat. Kapal penumpang itu lebih tenang, bisa beristirahat di perjalanan, dan lebih memudahkan jika ingin ke toilet,” katanya.

Hingga kini, masih banyak warga Kubar yang harus bergantung pengobatan ke Samarinda karena keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah, termasuk untuk penanganan lanjutan dan layanan rujukan penyakit tertentu. Kondisi ini membuat transportasi sungai menjadi kebutuhan penting, terutama bagi pasien yang sedang sakit. 

Terlebih, kapal angkutan penumpang selama ini dinilai sangat membantu karena tarif yang relatif terjangkau serta perjalanan yang lebih nyaman dan stabil dibandingkan jalur darat.

Sementara itu, Kepala UPT Pelabuhan Melak Kubar, Yunus Parwito, mengatakan seluruh kapal angkutan penumpang dan barang rute Melak-Samarinda saat ini masih berada di Samarinda. Hingga kini, belum ada kepastian kapan kapal-kapal tersebut kembali beroperasi.

“Seluruh kapal masih sandar di Samarinda. Penghentian operasional ini karena pasokan BBM bersubsidi belum jelas,” ujarnya.

Yunus menjelaskan, para pengusaha kapal masih menunggu terbitnya rekomendasi dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebagai dasar pembelian BBM subsidi untuk kebutuhan operasional kapal.

Untuk sementara, transportasi penumpang hanya dilayani oleh moda speedboat. Namun keterbatasan daya angkut serta biaya operasional yang lebih tinggi membuat layanan tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan peran kapal angkutan reguler.

Selain menghambat mobilitas warga, terhentinya kapal angkutan reguler juga berdampak pada distribusi barang. Pasokan kebutuhan pokok dari Samarinda terganggu dan memicu kenaikan harga di sejumlah komoditas. Para pekerja pelabuhan pun menjadi kelompok yang paling terdampak karena tidak adanya aktivitas bongkar muat.

Editor: Erwin

Kapal Rute Samarinda–Melak Belum Beroperasi, Warga Kubar Kesulitan Akses Berobat ke Samarinda

Rabu, 04/02/2026

Dermaga Pelabuhan Melak tampak sepi karena kapal milir rute Melak – Samarinda belum tersedia. (Foto: Adi/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait