Rabu, 10/06/2026
Rabu, 10/06/2026
Lokasi yang diduga jadi tempat meloncat seorang pria beberapa waktu lalu (Adnan Abdul/Korankaltim.com)
Rabu, 10/06/2026

Lokasi yang diduga jadi tempat meloncat seorang pria beberapa waktu lalu (Adnan Abdul/Korankaltim.com)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Rentetan peristiwa dugaan bunuh diri dengan cara melompat dari Jembatan Mahakam I kembali menyoroti aspek keselamatan di salah satu infrastruktur vital Kota Samarinda tersebut.
Pengamat kebijakan publik, Saiful Bahtiar, menilai pemerintah perlu segera melakukan pembenahan secara menyeluruh, baik dari sisi pengamanan fisik maupun sistem pengawasan, guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
Menurut Saiful, sebagai fasilitas publik yang digunakan ribuan masyarakat setiap hari, Jembatan Mahakam I seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarkawasan, tetapi juga mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap penggunanya. Ia menilai standar keselamatan harus menjadi prioritas dalam pengelolaan infrastruktur tersebut.
“Setiap fasilitas publik yang dibangun pemerintah semestinya memenuhi unsur keselamatan, keamanan, kenyamanan, hingga estetika. Itu merupakan hak masyarakat sebagai pengguna yang harus dipenuhi,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Ia menilai kondisi jembatan yang telah berusia puluhan tahun kemungkinan masih mengacu pada standar pembangunan lama sehingga sejumlah aspek perlindungan belum memadai. Salah satu yang menjadi sorotannya adalah pagar pembatas di sisi jembatan yang dinilai masih terlalu rendah untuk memberikan perlindungan optimal, khususnya bagi pejalan kaki.
“Kalau melihat kondisi yang ada sekarang, saya menilai aspek keselamatan dan keamanan belum terpenuhi secara menyeluruh, terutama bagi masyarakat yang melintas dengan berjalan kaki,” katanya.
Saiful mengusulkan agar pemerintah memasang pagar pengaman tambahan atau meninggikan pembatas yang sudah ada. Langkah tersebut dinilai tidak hanya dapat mengurangi potensi aksi bunuh diri, tetapi juga meminimalkan risiko kecelakaan di atas jembatan.
“Perlu ada pelindung yang lebih tinggi dan kokoh sehingga bisa menjadi upaya pencegahan terhadap tindakan berbahaya sekaligus meningkatkan keamanan pengguna jalan,” jelasnya.
Selain pembenahan fisik, ia menekankan pentingnya sistem pengawasan berbasis kamera pengawas yang dipantau secara aktif selama 24 jam. Menurutnya, keberadaan CCTV akan lebih efektif apabila diiringi pemantauan langsung oleh operator yang dapat segera mengoordinasikan respons ketika menemukan situasi mencurigakan.
“CCTV bukan sekadar alat perekam. Jika dipantau secara real time, petugas bisa mendeteksi potensi bahaya lebih dini dan melakukan tindakan cepat sebelum insiden terjadi,” ungkapnya.
Ia juga menyarankan pemerintah mempertimbangkan kembali keberadaan pos pengamanan dan patroli rutin di kawasan jembatan. Menurutnya, kombinasi antara peningkatan infrastruktur keselamatan, pengawasan teknologi, dan kehadiran petugas di lapangan dapat memperkuat perlindungan bagi masyarakat.
Di samping itu, Saiful menilai penataan estetika juga perlu menjadi perhatian, termasuk merapikan kabel-kabel yang terlihat semrawut di sekitar jembatan agar ikon Kota Samarinda tersebut tampil lebih tertata.
“Saya berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan Jembatan Mahakam I. Pembaruan fasilitas pengaman tidak bisa terus ditunda, sehingga jembatan ini benar-benar menjadi ruang publik yang memberikan rasa aman, nyaman, dan perlindungan bagi seluruh masyarakat yang melintas,” tutupnya.
Editor: Erwin
Rabu, 10/06/2026
Lokasi yang diduga jadi tempat meloncat seorang pria beberapa waktu lalu (Adnan Abdul/Korankaltim.com)
TERPOPULER