Minggu, 14/06/2026
Minggu, 14/06/2026
Antrean BBM di SPBU Kilometer 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, beberapa waktu lalu. (Foto: Dinda/Korankaltim.com)
Minggu, 14/06/2026

Antrean BBM di SPBU Kilometer 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, beberapa waktu lalu. (Foto: Dinda/Korankaltim.com)
Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) khawatir konsumsi Pertalite akan meningkat setelah selisih harga dengan Pertamax semakin melebar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membebani kuota subsidi dan memicu kelangkaan BBM bersubsidi.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemkab PPU, Hadi Saputro, mengungkapkan bahwa besarnya selisih harga saat ini berpotensi mengubah perilaku konsumsi pemilik kendaraan roda empat secara drastis.
“Kalau dulu Pertamax di angka Rp12.000 dan sekarang di Rp16.000, selisih harga dari Pertalite ke Pertamax terlalu jauh. Kalau kemarin selisihnya hanya Rp2.000 dengan harga BBM eceran di pasar, orang masih memilih Pertamax. Tapi kalau sekarang gap-nya terlalu jauh,” kata, Minggu (14/6/2026).
Menurut Hadi, situasi ini dikhawatirkan memicu migrasi atau peralihan penggunaan dari konsumen Pertamax ke Pertalite. Akibatnya, kelompok masyarakat yang seharusnya berhak menerima subsidi justru harus berebut dengan kendaraan kelas menengah atas yang ikut berburu Pertalite.
“Pertalite ini kan dikhususkan untuk mobil bersubsidi, sekarang dicari semua yang bisa mencari Pertalite karena selisihnya terlalu jauh. Kuota harian yang dipatok juga bisa saja melampaui batas dan memicu kelangkaan,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Minggu, 14/06/2026
Antrean BBM di SPBU Kilometer 9 Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, beberapa waktu lalu. (Foto: Dinda/Korankaltim.com)
TERPOPULER