Selasa, 07/07/2026

Batik ZKS Kampung Panaan Tawarkan Inovasi Pewarnaan Urea

Selasa, 07/07/2026

Proses Pembuatan Batik Khas Berau di salah satu pengrajin di Berau.  (Indri/Korankaltim)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Batik ZKS Kampung Panaan Tawarkan Inovasi Pewarnaan Urea

Selasa, 07/07/2026

logo

Proses Pembuatan Batik Khas Berau di salah satu pengrajin di Berau.  (Indri/Korankaltim)

TANJUNG REDEB – Inovasi terus tumbuh dari sektor ekonomi kreatif Kabupaten Berau. Kali ini, Kampung Panaan menghadirkan terobosan melalui Batik ZKS yang mengusung teknik pewarnaan berbeda dari batik pada umumnya. Dalam proses produksinya, perajin memanfaatkan pupuk urea sebagai bagian dari teknik penguncian warna sehingga menghasilkan motif yang lebih tajam, cerah dan tahan lama.
Inovasi tersebut menjadi salah satu warna baru dalam pengembangan batik khas Berau. Meski menggunakan pupuk urea, bahan tersebut bukan difungsikan sebagai pewarna utama, melainkan sebagai pendukung dalam proses fiksasi atau penguncian warna agar hasil akhir lebih maksimal.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Syamsiah Nawir menjelaskan bahwa penggunaan pupuk urea telah melalui proses penelitian, pengujian, serta pelatihan khusus yang diikuti oleh para perajin sebelum diterapkan dalam produksi.
Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan produk tersebut karena seluruh tahapan telah dipastikan memenuhi aspek keamanan untuk digunakan sebagai bahan pakaian.
“Sudah kami tanyakan langsung kepada pembuatnya. Alhamdulillah aman karena sudah melalui uji dan riset,” ujarnya.
Syamsiah menuturkan, Batik ZKS menjadi batik pertama di Berau yang mengadopsi metode tersebut. Kehadiran inovasi ini diharapkan mampu memperkuat identitas batik lokal sekaligus memberikan ciri khas yang membedakannya dengan produk batik dari daerah lain.
Ia menjelaskan, teknik penguncian warna menggunakan urea mampu menghasilkan tampilan motif yang lebih hidup tanpa mengurangi kenyamanan saat dikenakan. Warna yang dihasilkan terlihat lebih tajam, cerah, namun tetap mempertahankan kesan alami pada kain.
Menurutnya, kualitas tersebut telah dibuktikan secara langsung oleh jajaran Disbudpar Berau yang telah melihat bahkan menggunakan hasil karya Batik ZKS.
“Warna yang dihasilkan lebih menarik, lebih cerah, tetapi tetap terlihat natural. Hasilnya memang bagus dan nyaman digunakan,” katanya.
Disbudpar Berau menilai lahirnya inovasi tersebut menjadi bukti bahwa pelaku ekonomi kreatif di daerah mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan metode produksi tanpa meninggalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap motif batik.
Ke depan, pemerintah daerah akan terus mendorong pengembangan produk-produk ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal agar memiliki daya saing lebih tinggi di pasar regional maupun nasional. Dukungan terhadap promosi, peningkatan kapasitas perajin, hingga penguatan pemasaran menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan produk khas Berau.
Melalui Batik ZKS, Kampung Panaan tidak hanya menghadirkan selembar kain bermotif, tetapi juga menawarkan sebuah inovasi yang menggabungkan kreativitas, riset, dan budaya dalam satu karya. 
“Kami berharap Batik ZKS menjadi identitas baru Berau sekaligus mampu meningkatkan daya saing ekonomi kreatif berbasis budaya lokal,” tutupnya. (*)

Batik ZKS Kampung Panaan Tawarkan Inovasi Pewarnaan Urea

Selasa, 07/07/2026

Proses Pembuatan Batik Khas Berau di salah satu pengrajin di Berau.  (Indri/Korankaltim)

Share

Berita Terkait