Selasa, 25/08/2026
Selasa, 25/08/2026
Kondisi langit di wilayah Kota Samarinda yang bersih dari awan saat musim kemarau. (Foto: Surya/Korankaltim.com)
Selasa, 25/08/2026

Kondisi langit di wilayah Kota Samarinda yang bersih dari awan saat musim kemarau. (Foto: Surya/Korankaltim.com)
Penulis: Rahmat Surya
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bukan teknologi untuk menciptakan hujan.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan OMC dilakukan dengan memanfaatkan potensi awan hujan yang telah terbentuk di atmosfer.
Selain itu, menurutnya pelaksanaan OMC bergantung pada keberadaan awan yang memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
“Jadi bukan menciptakan hujan, tetapi kita memanfaatkan potensi awan hujan yang ada,” ujarnya.
Dia mengatakan, kondisi musim kemarau yang berlangsung saat ini, sebenarnya bukan berarti sama sekali tidak terdapat potensi awan hujan. Namun perlu diakuinya, kemunculan awan tersebut tidak terjadi setiap hari sehingga perlu dipantau dan dioptimalkan ketika kondisi memungkinkan.
Secara sederhana, Budi menjelaskan, OMC dilakukan dengan menginjeksikan bahan semai ke dalam awan.
“Bahan ini kemudian berfungsi menambah inti kondensasi sehingga proses pembentukan butiran air di dalam awan dapat berlangsung lebih cepat,” ucapnya.
Budi juga menerangkan, pada dasarnya awan merupakan kumpulan partikel uap air. Dalam kondisi normal, partikel tersebut dapat bertemu dengan aerosol atau partikel yang melayang di atmosfer dan kemudian berkembang menjadi butiran air.
“Kita juga mengakui, dalam pelaksanaan OMC di tengah musim kemarau seperti sekarang memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan potensi awan hujan yang tersedia,” katanya.
Selain itu, kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga dapat mengganggu proses pertumbuhan awan. Lapisan asap yang pekat bisa menghambat masuknya radiasi matahari sehingga perkembangan awan menjadi tidak optimal.
“Sudah musim kemarau, kondisi udara hanya lembab. Begitu ada potensi, tetapi radiasi mataharinya tidak bisa masuk karena ada layar asap, itu juga bisa mengganggu pertumbuhan awan,” terangnya.
Karena itu, Budi menyebut karhutla secara tidak langsung dapat memperburuk kondisi kekeringan. Asap pekat yang dihasilkan kebakaran dapat menghambat pertumbuhan awan yang sebenarnya berpotensi menghasilkan hujan.
Editor: Erwin
Selasa, 25/08/2026
Kondisi langit di wilayah Kota Samarinda yang bersih dari awan saat musim kemarau. (Foto: Surya/Korankaltim.com)
TERPOPULER