Selasa, 25/08/2026
Selasa, 25/08/2026
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian usai menggelar diskusi dengan guru di Hotel Mercure Samarinda, Senin (24/8/2026). (istimewa).
Selasa, 25/08/2026

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian usai menggelar diskusi dengan guru di Hotel Mercure Samarinda, Senin (24/8/2026). (istimewa).
Penulis : M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dinilai tidak lagi bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Namun pemanfaatan teknologi tersebut di lingkungan madrasah harus tetap dikendalikan oleh nilai, etika, dan peran guru sebagai pembentuk karakter peserta didik.
Anggota Komisi VIII DPR RI dari daerah pemilihan Kaltim Hetifah Sjaifudian mengatakan, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan posisi guru. “Mau tidak mau, AI akan menjadi bagian dari pendidikan. Tugas kita memastikan AI hadir untuk memperkuat guru, bukan menggantikan guru,” ujar Hetifah.
Menurut Hetifah, perubahan teknologi telah memengaruhi cara peserta didik mendapatkan informasi dan pengetahuan. Kondisi itu membuat guru perlu meningkatkan kemampuan agar perkembangan AI dapat dimanfaatkan secara tepat dalam kegiatan belajar mengajar.
AI dapat membantu guru menyiapkan bahan ajar, menyederhanakan materi, membuat contoh soal, menyusun simulasi, merangkum pembelajaran hingga mengembangkan media dan evaluasi.
Namun kemudahan tersebut tidak boleh membuat peserta didik kehilangan proses belajar yang membangun kemampuan berpikir dan karakter. “Semakin cerdas teknologi, semakin penting karakter manusia,” tegasnya.
Hetifah menilai posisi guru justru semakin penting ketika teknologi semakin berkembang. Di madrasah, guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan kejujuran, tanggung jawab, etika, kemampuan berpikir kritis dan nilai-nilai keagamaan.
Karena itu, ia mendorong guru tidak sekadar mengenal AI, tetapi juga memahami cara kerja, keterbatasan, risiko dan etika penggunaannya. “AI boleh membantu guru mengajar, tetapi guru tetap bertugas membentuk manusia,” tegas politikus Partai Golkar tersebut.
Sementara Kepala Kantor Kemenag Kota Samarinda Nasrun mengakui AI sudah semakin dekat dengan kehidupan peserta didik. Menurutnya, dunia pendidikan tidak bisa mengambil sikap menolak perkembangan tersebut. “AI ini tidak bisa dilawan. Anak-anak zaman sekarang bertanya sedikit-sedikit ke AI,” ujarnya.
Sementara Kepala Badan Riset dan Informasi Daerah (BRIDA) Kaltim Fitriansyah mengatakan tantangan utama bukan lagi apakah AI dapat digunakan atau tidak, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
“AI menjadi tantangan sendiri. Awalnya gelagapan. Kita tidak bisa menolak teknologi, kita harus bisa memanfaatkan, terutama dalam hal etika,” katanya.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, Hetifah mengingatkan penggunaan AI tetap memiliki sejumlah risiko. Di antaranya plagiarisme, referensi tidak valid, hallucination atau munculnya informasi keliru yang disajikan seolah benar, manipulasi data, bias algoritma, persoalan kepengarangan hingga privasi. Karena itu, penggunaan AI di lingkungan pendidikan perlu dibarengi transparansi, akuntabilitas, kejujuran ilmiah, validasi oleh manusia dan penerapan etika.
Bagi Hetifah, transformasi digital di madrasah tidak cukup diukur dari seberapa mahir guru menggunakan teknologi. Hal yang lebih penting adalah memastikan AI benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa menghilangkan sentuhan manusia dalam proses pendidikan.
Dengan demikian, AI diharapkan menjadi mitra guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, kreatif dan relevan, sementara pembentukan karakter tetap menjadi tanggung jawab utama pendidik.
Selasa, 25/08/2026
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian usai menggelar diskusi dengan guru di Hotel Mercure Samarinda, Senin (24/8/2026). (istimewa).
TERPOPULER