Senin, 24/08/2026
Senin, 24/08/2026
Ilustrasi sumur bor yang diusulkan oleh BWS guna antisipasi ketersediaan air bagi pertanian. (Foto: Ai/Gemini/Adnan/Korankaltim)
Senin, 24/08/2026

Ilustrasi sumur bor yang diusulkan oleh BWS guna antisipasi ketersediaan air bagi pertanian. (Foto: Ai/Gemini/Adnan/Korankaltim)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Ancaman berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau mendorong Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satu upaya yang tengah didorong ialah pemanfaatan air tanah melalui pembangunan sumur sebagai sumber air cadangan.
Kepala BWS Kalimantan IV Andri R Wibowo mengatakan, skema tersebut disiapkan untuk membantu daerah irigasi yang tidak lagi memiliki pasokan air permukaan yang mencukupi. Saat ini, terdapat 16 daerah irigasi yang telah diusulkan untuk memperoleh pembangunan sumur air tanah.
Meski demikian, Andri meminta jumlah tersebut tidak dianggap sebagai angka pasti pembangunan. Sebab, usulan tersebut masih harus melalui proses pembahasan dan penentuan anggaran di tingkat pemerintah pusat.
“Yang kita usulkan ada 16 daerah irigasi. Tetapi bukan berarti 16 itu semuanya nanti pasti dibangun. Kita masih menunggu dan melihat kemampuan anggarannya,” ujar Andri, Senin (24/8/2026).
Jika nantinya anggaran tidak mampu mengakomodasi seluruh usulan, pembangunan akan diarahkan ke wilayah yang dinilai paling membutuhkan. Beberapa lokasi yang telah menjadi perhatian BWS Kalimantan IV antara lain Serayu, Tanah Merah dan Makroman.
Menurut Andri, keberadaan sumur air tanah akan menjadi pilihan ketika debit sungai tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan irigasi. Selama sumber air permukaan masih tersedia, pemanfaatan sungai tetap menjadi pilihan utama.
“Kalau sungainya masih ada dan debitnya cukup, tentu kita ambil dari sungai. Yang menjadi persoalan adalah daerah yang sudah tidak punya sumber air,” jelasnya.
Di sisi lain, BWS Kalimantan IV tetap memantau perkembangan kondisi sumber daya air di sejumlah wilayah. Pemantauan dilakukan di antaranya di kawasan Sepaku, Sebakung, Serayu dan Tanah Merah untuk melihat perubahan debit serta ketersediaan air.
Andri juga mengajak masyarakat mengurangi penggunaan air yang tidak diperlukan. Menurutnya, penghematan penting dilakukan bersama selama musim kemarau agar kebutuhan dasar masyarakat tetap dapat terpenuhi.
“Air harus digunakan seperlunya. Untuk kondisi seperti sekarang, kebutuhan untuk minum harus menjadi yang utama,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Senin, 24/08/2026
Ilustrasi sumur bor yang diusulkan oleh BWS guna antisipasi ketersediaan air bagi pertanian. (Foto: Ai/Gemini/Adnan/Korankaltim)
TERPOPULER