Selasa, 25/08/2026
Selasa, 25/08/2026
Kondisi terkini sawah di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Selasa, 25/08/2026

Kondisi terkini sawah di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani) Kota Samarinda tercatat 654,5 hektare lahan pertanian mulai terdampak kekeringan.
Tanaman tersebut meliputi padi, jagung, singkong, ubi dan kacang-kacangan serta komoditas hortikultura seperti sayuran.
Kepala Dinas Ketapangtani Samarinda, Muhammad Darham mengungkapkan, potensi gagal panen terhadap tanaman pangan khususnya padi akibat dampak kekeringan masih relatif kecil karena mayoritas sedang memasuki masa panen.
Kendati demikian, persoalan air berpotensi membayangi musim tanam padi di periode berikutnya lantaran tanah membutuhkan pasokan air setelah panen.
“Kalau potensi gagal panen itu sedikit saja, karena kebetulan saat ini sedang masa panen,” kata Darham, Selasa (25/8/2026).
Selain penurunan debit air, ancaman intrusi air laut ke sungai turut memukul kawasan pertanian berbasis pasang surut, seperti di Pulau Atas. Kondisi air asin membuat potensi panen empat kali setahun di wilayah tersebut terancam merosot.
“Mudah-mudahan masih bisa mencapai target dua atau tiga kali panen,” ujarnya.
Guna memitigasi krisis air, Pemkot Samarinda memetakan kebutuhan mendesak petani, seperti pemanfaatan sumur bor, bantuan selang, benih, hingga pompa berkapasitas besar untuk menjangkau lahan di dataran lebih tinggi.
Dinas Ketapangtani telah menyusun usulan anggaran sekitar Rp183 juta yang kini dalam proses seleksi dan penyesuaian.
Wilayah rawan seperti kawasan Serayu, Kelurahan Tanah Merah, turut menjadi prioritas intervensi. Jika tidak teraliri air selama sebulan, potensi gagal panen di kawasan tersebut dipastikan melonjak.
Pemerintah bahkan mempertimbangkan opsi distribusi air darurat menggunakan mobil tangki dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jika bantuan pompa tak memadai.
Kondisi kekeringan ini dirasakan langsung oleh Mislan (50), petani di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake. Lahan pertaniannya sempat mengalami kekeringan hingga beberapa bulan sejak awal musim kemarau.
“Sempat putus asa kemarin kalau tidak ada air,” ungkap Mislan.
Meski saat ini aliran air relatif aman usai adanya bantuan pembukaan pintu air dari bagian hulu, Mislan tetap cemas akan penurunan debit air sungai mengingat jadwal panen normal baru berlangsung pada Desember mendatang.
“Kalau debit air di atas mencukupi, harapannya cukup supaya tidak gagal panen,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Selasa, 25/08/2026
Kondisi terkini sawah di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER