Selasa, 25/08/2026
Selasa, 25/08/2026
Pantauan udara titik api yang membakar lahan di Bantuas hingga kini masih menyala. (Foto: Dok.BPBD Kota Samarinda)
Selasa, 25/08/2026

Pantauan udara titik api yang membakar lahan di Bantuas hingga kini masih menyala. (Foto: Dok.BPBD Kota Samarinda)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kebakaran lahan kembali melanda wilayah Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran, Samarinda, Selasa (25/8/2026).
Api yang muncul di sejumlah titik tersebut terus meluas hingga diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare, sementara petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda masih melakukan penanganan di lokasi.
TRC BPBD Kota Samarinda, Nusa Indah mengatakan, kebakaran lahan di Bantuas sebenarnya telah terjadi sejak awal Agustus. Beberapa titik sebelumnya bahkan masing-masing mencapai luasan sekitar 15 hektare.
“Untuk di Bantuas itu sudah beberapa hari terjadi kebakaran lahan. Mulai awal Agustus sudah ada penampakan titik api, awalnya masih kecil. Kemudian yang paling besar kemarin sampai 15 hektare dan itu terjadi dua kali,” ujar Nusa saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, jika seluruh titik kebakaran yang telah ditangani maupun yang masih dalam proses penanganan dihitung, luas lahan terdampak di kawasan Bantuas diperkirakan mencapai 50 hektare lebih.
“Kalau dua kali yang 15 hektare itu sudah 30 hektare. Sekarang semakin luas dan masih dalam proses penanganan. Anggota masih membuka jalur dan membagi tim ke beberapa titik. Untuk sementara kurang lebih 50 hektare ada,” jelasnya.
Nusa menyebut kebakaran tidak terjadi di satu lokasi saja. Sejumlah titik kecil turut muncul dan tetap masuk dalam pendataan BPBD.
“Ini bukan satu titik, tetapi terbagi di beberapa titik. Ada titik pertama yang besar sekitar 15 hektare, titik kedua lebih dari 15 hektare, kemudian ada titik-titik kecil lainnya. Kalau ditotal, sekitar 50 hektare lebih,” katanya.
Terkait penyebab, BPBD menduga kebakaran dipicu aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Selain itu, pembakaran sampah di sekitar lahan juga disebut berpotensi memicu api merambat ke area yang lebih luas.
“Kebanyakan yang kita tangani itu karena pembukaan lahan atau orang membakar sampah. Ada kesengajaan dalam pembakaran untuk membuka lahan. Sampah dibakar, kemudian apinya merambat ke mana-mana,” ungkapnya.
Dalam penanganan, BPBD menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan unit tangki dan akses menuju lokasi kebakaran. Beberapa titik berada di area perbukitan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
“Kalau kendalanya jelas keterbatasan unit tangki, karena sekarang titik lahan yang terbakar banyak. Di Bantuas juga aksesnya cukup jauh. Kalau titik api berada di atas bukit seperti Bukit Teletubbies, tidak bisa ditangani menggunakan tangki maupun portable karena posisinya di puncak,” tuturnya.
Untuk titik yang sulit dijangkau kendaraan, petugas dan relawan melakukan pemadaman secara manual menggunakan tangki punggung atau back pump berkapasitas lima hingga 10 liter.
“Kalau tidak bisa dijangkau mobil tangki maupun portable, penanganannya manual. Relawan yang sudah dibentuk bersama BPBD melakukan pemadaman menggunakan tangki punggung, ada yang kapasitas lima liter dan ada yang 10 liter,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Selasa, 25/08/2026
Pantauan udara titik api yang membakar lahan di Bantuas hingga kini masih menyala. (Foto: Dok.BPBD Kota Samarinda)
TERPOPULER