Senin, 15/06/2026
Senin, 15/06/2026
Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Himpsi Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)
Senin, 15/06/2026

Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Himpsi Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Munculnya sejumlah aksi melompat dari Jembatan Mahakam dalam beberapa waktu terakhir menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental dan dukungan sosial bagi orang-orang yang sedang mengalami tekanan hidup.
Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Himpsi Kalimantan Timur (Kaltim), Ayunda Ramadhani mengingatkan, agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan stigma negatif kepada individu yang mengalami krisis psikologis.
“Yang perlu dipahami adalah, seseorang yang memiliki keinginan mengakhiri hidup umumnya sedang mengalami penderitaan psikologis yang sangat berat dan merasa sudah tidak sanggup lagi menahannya. Sebenarnya mereka bukan ingin mati, melainkan ingin mengakhiri rasa sakit atau penderitaan yang dirasakan,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh Korankaltim.com, Senin (15/6/2026)
Menurut Ayunda, kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rasa putus asa akibat tekanan hidup yang berkepanjangan, minimnya dukungan sosial, kesulitan mengekspresikan emosi, hingga adanya gangguan kesehatan mental seperti depresi.
Dalam ilmu psikologi juga dikenal teori hopelessness, yakni kondisi ketika seseorang kehilangan harapan setelah berulang kali mengalami kegagalan atau tekanan.
Ia menjelaskan, pencegahan perlu dilakukan dengan memperkuat faktor protektif, seperti kepedulian keluarga, lingkungan pertemanan, serta edukasi mengenai kesehatan mental agar masyarakat lebih memahami cara mengelola stres secara sehat.
Ayunda juga menyoroti bahwa sebagian orang yang berada dalam kondisi krisis kerap meninggalkan pesan atau barang tertentu kepada keluarga. Menurutnya, hal itu bisa menjadi bentuk penyampaian perasaan yang selama ini sulit diungkapkan secara langsung.
“Sering kali mereka ingin menyampaikan sesuatu yang tidak mampu diucapkan secara terbuka karena takut dihakimi atau mendapat stigma negatif. Karena itu, penting bagi orang-orang terdekat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat mengenali tanda-tanda seperti menarik diri dari lingkungan, merasa hidup tidak lagi berarti, atau mulai membagikan barang-barang berharga kepada orang lain.
Jika menemukan kondisi tersebut, keluarga maupun sahabat diharapkan memberikan dukungan dan segera menghubungkan yang bersangkutan dengan tenaga profesional.
“Tidak apa-apa untuk meminta bantuan. Dukungan dari keluarga, sahabat, serta penanganan dari psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah penting agar seseorang mampu melewati masa-masa sulit yang sedang dihadapinya,” tutupnya.
Editor: Erwin
Senin, 15/06/2026
Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Himpsi Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)
TERPOPULER