Senin, 15/06/2026
Senin, 15/06/2026
Ilustrasi aktivitas nelayan di Kaltim. (Foto: Istimewa)
Senin, 15/06/2026

Ilustrasi aktivitas nelayan di Kaltim. (Foto: Istimewa)
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalimantan Timur menilai potensi ekonomi sektor kelautan dan perikanan daerah belum dimanfaatkan secara maksimal. Sejumlah komoditas unggulan Kaltim masih dikirim ke luar daerah dalam kondisi mentah, sehingga nilai tambah ekonominya justru dinikmati wilayah lain.
Sekretaris DPD HNSI Kaltim, Hasrun Jaya, mengatakan komoditas bernilai tinggi seperti udang windu, kepiting, hingga sarang burung walet masih banyak dipasarkan ke luar pulau untuk menjalani proses pengolahan lanjutan.
Menurutnya, aktivitas pembersihan, pengemasan, hingga persiapan ekspor seharusnya dapat dilakukan di Kaltim agar manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak keluar dari daerah.
“Pabrikasi pembersihan sarang burung walet atau olahan ikan itu harusnya dilakukan di Kaltim. Kalau sudah bersih dan siap ekspor dari sini, nilai jualnya jauh lebih besar, PAD Kaltim juga ikut terangkat,” kata Hasrun kepada Korankaltim.com, Senin (15/6/2026).
Ia menilai hilirisasi menjadi kebutuhan mendesak bagi sektor perikanan Kaltim, terutama di tengah tantangan yang masih dihadapi nelayan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur menunjukkan subsektor perikanan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026.
Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) tercatat turun 0,67 persen menjadi 105,28. Penurunan terjadi karena kenaikan harga hasil perikanan yang diterima nelayan tidak sebanding dengan peningkatan biaya yang harus mereka keluarkan.
Bagi HNSI, kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah yang lebih besar untuk memperkuat ekonomi nelayan, tidak hanya melalui peningkatan produksi, tetapi juga dengan menciptakan nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan.
Hasrun menilai selama ini Kaltim masih lebih banyak berperan sebagai pemasok bahan mentah. Padahal, apabila proses pengolahan dilakukan di daerah sendiri, keuntungan yang diperoleh dapat meningkat berkali-kali lipat.
Ia mencontohkan sarang burung walet yang masih banyak dikirim ke luar daerah untuk dibersihkan dan dikemas sebelum diekspor. Hal serupa juga terjadi pada sejumlah komoditas perikanan yang memiliki nilai jual tinggi.
Menurutnya, keberadaan industri pengolahan akan membuka lapangan kerja baru, memperkuat rantai pasok perikanan, sekaligus meningkatkan kontribusi sektor kelautan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kalau pengolahan dilakukan di daerah sendiri, manfaat ekonominya akan jauh lebih besar untuk masyarakat dan daerah,” ujarnya.
HNSI berharap pemerintah daerah dapat mendorong investasi pada sektor hilirisasi agar komoditas unggulan Kaltim tidak lagi hanya dijual dalam bentuk bahan baku, melainkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan dan perekonomian daerah.
Editor: Erwin
Senin, 15/06/2026
Ilustrasi aktivitas nelayan di Kaltim. (Foto: Istimewa)
TERPOPULER