Peristiwa itu terjadi setelah hujan menyebabkan air meluap dan merendam permukiman warga. Di tengah upaya membersihkan genangan, korban diduga masih terhubung dengan aliran listrik saat memasang pompa sehingga mengalami kecelakaan fatal.
Menantu korban Aziz mengaku, mendengar teriakan dari arah lokasi tempat korban bekerja. Saat menghampiri, ia mendapati mertuanya telah terjatuh dengan kondisi memegang kabel.
“Beliau sedang memasang pompa celup untuk membuang air, kemungkinan listriknya belum diputus. Tiba-tiba terdengar teriakan,” ujar Aziz.
Melihat kondisi tersebut, ia segera melepaskan kabel dari tangan korban dan memberikan pertolongan pertama. Menurut keterangannya, saat itu Jamaludin masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan sehingga keluarga segera membawanya ke rumah sakit.
“Saya langsung mencabut kabelnya dan mengangkat beliau. Waktu itu masih bernapas, tetapi perjalanan ke rumah sakit terkendala kemacetan,” katanya.
Meski telah mendapat penanganan secepat mungkin, nyawa korban akhirnya tidak dapat diselamatkan. Kejadian tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus menggugah kembali keluhan warga mengenai persoalan banjir yang terus berulang.
Ia menyebut genangan mulai muncul sejak pagi setelah hujan mengguyur kawasan tersebut. Dalam waktu singkat, air mencapai ketinggian sekitar selutut orang dewasa dan memasuki halaman hingga bagian dalam rumah.
“Setengah jam hujan saja air sudah meluap. Saluran drainase tidak mampu menampung debit air,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang memadai. Setelah banjir surut, warga juga harus membersihkan endapan lumpur yang tertinggal di dalam rumah.
“Kami sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada pemerintah. Selalu ada janji penanganan, tetapi banjir masih terus terjadi setiap hujan turun,” tutupnya.
Editor: Erwin