Kamis, 11/06/2026
Kamis, 11/06/2026
Tempat Penampungan Air di WTP Lawe-lawe, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. (Foto: Dinda/korankaltim.com)
Kamis, 11/06/2026

Tempat Penampungan Air di WTP Lawe-lawe, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. (Foto: Dinda/korankaltim.com)
Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Pasokan air baku di wilayah Lawe-Lawe, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) saat ini dalam status aman dan melimpah. Hal ini dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang terjadi di kawasan hulu dalam sepekan terakhir.
Hal itu diungkapkan Direktur Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) PPU Abdul Rasyid kepada Korankaltim.com Kamis (11/6/2026) hari ini.
Melimpahnya air baku terlihat dari adanya volume air yang tidak tertampung di pabrik pengolahan dan terbuang menuju hilir jembatan kuning hingga ke laut. Hal ini terjadi karena keterbatasan infrastruktur penampungan yang dimiliki daerah saat ini.
"Air yang terbuang itu langsung mengalir melewati jembatan kuning menuju laut. Sayang memang, karena kita belum memiliki embung atau bendungan tambahan. Embung yang ada sekarang sebenarnya sudah terisi penuh karena semua kapasitasnya telah kita maksimalkan," sebut Rasyid.
Meski kondisi saat ini surplus dengan kapasitas produksi mencapai 110 liter per detik meningkat signifikan dibanding bulan lalu yang hanya berkisar 80 liter per detik, pihak AMDT tetap bersiap menghadapi potensi kemarau panjang. Berdasarkan prediksi, puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada bulan Oktober hingga November mendatang.
Sebagai langkah mitigasi apabila terjadi penurunan debit air hingga 50 persen, akibat absennya hujan selama satu hingga dua bulan, AMDT telah menyiapkan skema penanganan darurat.
"Kalau kondisi darurat terjadi, langkah pertama yang akan kami lakukan adalah menerapkan sistem subsidi silang antarwilayah. Ada beberapa daerah yang pasokan airnya terhitung stabil dan tidak pernah habis, salah satunya adalah wilayah Waru," kata Rasyid.
Teknis penanganan tersebut nantinya akan memanfaatkan interkoneksi jaringan pipa dari Waru menuju jaringan Petung, yang kemudian diteruskan ke wilayah Penajam. Namun, skema ini diakui memerlukan operasional pompa tambahan yang cukup besar.
Rasyid juga membeberkan kondisi melimpahnya air di Lawe-Lawe tidak serta-merta terjadi di seluruh wilayah PPU. Beberapa titik, seperti wilayah Sotek justru mulai menunjukkan tren penurunan debit air secara perlahan, meski saat ini masih mampu bertahan di angka 90 liter per detik.
Diharapkan intensitas hujan tetap terjaga pada periode menuju puncak kemarau untuk menghindari terulangnya krisis air bersih parah seperti yang pernah terjadi pada tahun 2019 silam. Saat itu, debit air di Lawe-Lawe sempat merosot tajam hingga menyentuh angka 10 liter per detik akibat kemarau panjang selama delapan bulan tanpa hujan.
"Kami tentu berharap hujan tetap turun di bulan-bulan mendatang. Biasanya, jika cuaca terlalu panas, kami menyebutnya 'panas yang mengusir air'. Fenomena itu membuat hujan yang turun langsung terserap habis oleh bumi yang kering dan tidak bisa ditampung secara maksimal," pungkasnya.
Editor : Aspian Nur
Kamis, 11/06/2026
Tempat Penampungan Air di WTP Lawe-lawe, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. (Foto: Dinda/korankaltim.com)
TERPOPULER