Rabu, 10/06/2026
Rabu, 10/06/2026
Camat Loa Janan, Hery Rusnadi. (Foto: Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Rabu, 10/06/2026

Camat Loa Janan, Hery Rusnadi. (Foto: Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Angka kasus stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini menyentuh angka 15,9 persen secara keseluruhan.
Berdasarkan laporan rutin dari pusat kesehatan masyarakat setempat, Kecamatan Loa Janan menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi tertinggi di Kukar, yakni mencapai 572 jiwa atau berkisar 12 persen.
Camat Loa Janan, Hery Rusnadi, menegaskan penanggulangan masalah ini tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja. Diperlukan intervensi yang menyeluruh dan terpadu mulai dari jajaran desa hingga ke tingkat kabupaten.
“Penanganan stunting ini tidak bisa dilakukan sendirian, baik oleh pemerintah kecamatan atau pihak puskesmas saja,” ujar Heri Rusnadi, Rabu (10/6/2026).
Heri menjelaskan ada banyak faktor internal perilaku yang memicu tingginya angka stunting di wilayahnya. Beberapa di antaranya meliputi, masih terjadinya pernikahan di usia dini, kurangnya edukasi dan sosialisasi pencegahan sejak dini dan kondisi ibu hamil dengan risiko tinggi serta minimnya asupan gizi yang optimal selama masa kehamilan.
Selain itu, tingginya angka stunting di Loa Janan dipengaruhi oleh letak geografisnya sebagai wilayah perbatasan, sekaligus menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Kukar setelah Kecamatan Tenggarong. Sebagai kawasan yang padat industri dan perusahaan, mobilitas penduduk di daerah ini sangat tinggi.
“Banyak dari kasus yang tercatat sebenarnya bukan penduduk asli Loa Janan tapi mereka warga pendatang dari luar daerah yang bekerja dan menyewa rumah di sini. Kalau untuk penduduk asli sendiri sebenarnya tidak terlalu banyak,” jelasnya.
Ia menilai pengaruhnya tidak terlalu dominan jika dibandingkan dengan faktor perilaku internal rumah tangga. Meski begitu, pihaknya tetap berupaya meminimalisasi risiko lingkungan, seperti perbaikan fasilitas sanitasi (WC) dan kelayakan rumah tinggal yang kurang memenuhi standar kesehatan.
Kini, Pemerintah Kecamatan Loa Janan terus bergerak menekan laju pertumbuhan kasus baru agar anak-anak yang berada di ambang batas (borderline) tidak jatuh ke kategori stunting. Strategi utama yang dijalankan adalah penguatan konvergensi anggaran dan sinergi posko di lapangan.
Penanganan komprehensif ini didukung penuh oleh pemanfaatan alokasi Dana Desa (DD) serta Anggaran Dana Desa (ADD) yang diarahkan khusus untuk program pemenuhan gizi dan kesehatan. Seluruh elemen di tingkat tapak kini bahu-membahu bergerak bersama.
“Kita bergerak secara terpadu melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat kecamatan, kader posyandu, petugas PLKB, Dinas Sosial, hingga penguatan dari kepala desa. Dukungan pengawasan di lapangan juga dibantu penuh oleh rekan-rekan dari Polsek (Babinkamtibmas) serta Koramil (Babinsa),” tambahnya.
Selain penguatan gizi bagi balita, edukasi kepada masyarakat juga dilakukan secara masif dan berkelanjutan melalui pelaksanaan agenda rembuk stunting yang rutin digelar di hampir seluruh desa di Kecamatan Loa Janan.
“Kami optimis melalui langkah ini angka stunting di wilayah Loa Janan dapat ditekan dan diturunkan secara bertahap demi melahirkan generasi masa depan yang lebih sehat,” harapnya.
Editor: Erwin
Rabu, 10/06/2026
Camat Loa Janan, Hery Rusnadi. (Foto: Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
TERPOPULER