Senin, 07/09/2020

Makam Tak Terawat di Jalan Arjuna, Saksi Bisu Kehidupan Bangsa Eropa di Samarinda

Senin, 07/09/2020

Makam tua di Jalan Arjuna, yang jadi saksi bisu kehidupan Bangsa Belanda di Kota Samarinda (Foto: Claudius Vico/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Makam Tak Terawat di Jalan Arjuna, Saksi Bisu Kehidupan Bangsa Eropa di Samarinda

Senin, 07/09/2020

logo

Makam tua di Jalan Arjuna, yang jadi saksi bisu kehidupan Bangsa Belanda di Kota Samarinda (Foto: Claudius Vico/Korankaltim.com)

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Siang cukup terik, ketika tim Korankaltim.com tiba di kawasan Jalan Arjuna, Kota Samarinda. Lalu lalang kendaraan, memenuhi badan jalan yang tergolong kecil itu. Lokasi yang ingin didatangi tim Korankaltim.com, adalah sebuah kuburan tua, yang terletak di Jalan Arjuna. Tepatnya di depan Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Samarinda. Nyaris tak ada aktifitas di makam tua itu. Terang saja. Berdasarkan informasi yang didapat media ini dari Niki Dila, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi makam, menyebutkan jika kuburan itu sudah kurang lebih 20 tahun tak lagi digunakan. 

"Iya sudah sekitar 20 tahun enggak ada kegiatan pemakaman di situ," ujar wanita muda itu saat tim Korankaltim.com, mendatangi makam, satu hari di pekan pertama September 2020.

Berbekal penuturan Dila pula-lah, diketahui jika dulu makam ini sempat digunakan sebagai lokasi penguburan umat Kristen di Kota Samarinda. Tapi, setelah lama tak terawat, banyak keluarga yang membongkar makam, dan memindahkannya ke Pemakaman Kristen di kawasan Tanah Merah.

Secara kasat mata, hampir tidak ada penanda apapun yang menggambarkan bahwa tempat tersebut adalah makam. Hanya ada gerbang tua, dengan tembok yang membatasi bagian luarnya. Nisan maupun penanda makam nyaris tak terlihat, lantaran ditutupi tumbuhan merambat. Hadirnya pohon besar dengan ranting dan daun yang rindang di pojok bagian depan makam, seperti menegaskan kalau lokasi ini benar-benar tak terawat. 

Hal ini, juga secara tak langsung meniadakan hal-hal mistis yang kerap disandingkan dengan kuburan tua. "Engga ada sih, cerita-cerita seram gitu," ugkap Dila. 


Saksi Bisu Kehidupan Bangsa Belanda di Samarinda 

Perkataan pendiri bangsa Ir Soekarno, ihwal mengenal sejarah negeri adalah apa yang membawa tim Korankaltim.com, mendatangi makam itu. Musababnya, beberapa literatur mengantarkan pada kesimpulan kalau makam itu, bukan makam biasa. Ketua Lembaga Studi Sejarah Lokal "Komunitas Samarinda Bahari" Fajar Alam, menuturkan bahwa berdasarkan tinjauan lapangan dengan bukti-bukti tulisan yang terdapat pada makam itu, kuburan tua ini merupakan satu diantara bukti kehidupan Bangsa Eropa, khususnya Belanda, pada era Kolonialisme di Kota Samarinda. Kepada Korankaltim.com, Fajar mengatakan bahwa makam itu, aktif digunakan pada awal abad ke-19. Hal ini, diketahui dari penelusuran tulisan-tulisan berbahasa Belanda, yang terpahat pada nisan-nisan di makam tersebut. "Misalnya makam dengan nisan bertuliskan MARIA LOISE CAROLD. Ditulis dalam Bahasa Belanda, yang dapat diartikan bahwa MARIA LOISE CAROLD, lahir di Sungai Mariam pada April 1918, lalu dalam usianya yang baru 4 bulan, ia meninggal di Sanga-Sanga pada Agustus 1918," kata Fajar. Selanjutnya, ada pula makam dari salah satu pegawai Borneo Petrleum Maatschappij atau BPM, tak lain perusahaan perminyakan milik Belanda, yang menjadi cikal bakal eksplorasi perut bumi di Kaltim, saat ini. Nisan-nisan itu, lanjut Fajar dibubuhi pahatan petikan puisi dari Pendeta Katolik Roma Guido Gezelle. Sang Pendeta yang lahir di Bruges, Belgia pada 1830 dan meninggal pada Mei 1899,  masyhur dengan gubahan puisi bertema alam, persahabatan hingga kematian. Tercantumnya petikan puisi-puisi tersebut, menandakan bahwa si empunya makam saat itu juga memeluk agama Katolik.


Luput Dari Perhatian 

Dengan nilai historis sebesar itu, sayangnya keberadaan makam di Jalan Arjuna ini tak mendapat perhatian dari pemerintah. Fajar sendiri, mengaku melakukan peninjauan lapangan, guna identifikasi serta pencatatan sejarah di makam itu pada 2015 lalu. Ia bersama tim, menemukan setidaknya 7 makam tua. 6 diantaranya kala itu masih bisa diidentifikasi. Sementara makam ke-7, disebut tak bisa lagi diidentifikasi karena kondisinya yang teramat rusak. Di tahun 2020, tentu kerusakan kian menjadi-jadi. "Saya merasa nisannya (sekarang), tidak selengkap sebelumnya," sesal Fajar. Ia juga menyayangkan, minimnya perhatian pemerintah daerah (Pemda) baik Kota Samarinda terlebih Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), terhadap peninggalan sejarah tersebut. "Di banyak kota lain yang ada Kerkhof (Bahasa Belanda untuk pekuburan)nya, biasanya diperhatikan oleh Pemda setempat," ucap Fajar. Sebut saja Kerkhof Peuceut di Aceh. Selain menjadi situs sejarah, pemakaman serdadu Belanda di Serambi Mekah itu, juga menjadi lokasi wisata edukasi.

Secara umum, lanjut Fajar Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Kaltim tergolong rendah dalam skala nasional. IPK Kaltim adalah 52,78, di bawah rata-rata nasional di 53,74. Di Kalimantan, Kaltim kalah terhadap Kalsel (53,79) dan Kalteng (53,23).

Kebudayaan sebenernya meliputi kebudayaan tak benda (intangible) dan kebudayaan benda (bisa berupa cagar budaya). 

Kebudayaan yang biasanya dipahami oleh Pemerintah Daerah, adalah yang intangible itu, yang kemudian dibuat beberapa programnya: Pelestarian/lomba seputar kesenian daerah: tari/busana/makanan/bahasa/ukir/lukis dan lainnya. 

"Tapi, kebudayaan yang bersifat artefaktual atau bangunan/benda/lokasi/kawasan yg dianggap bernilai cagar budaya menurut kaedah tertentu, bisa dibilang kurang," bebernya. 

Namun demikian, Fajar mengapresiasi Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda, yang terbilang cukup menyadari pentingnya keberadaan Tim Ahli Cagar Budaya. Kaltim telah punya TACB Kaltim. Samarinda telah punya TACB Samarinda. Semuanya hasil uji kompetensi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

"Saya sendiri masuk dalam TACB Samarinda," tandasnya. 


Tanggpan Pemerintah Daerah 

Korankaltim.com, menghubungi Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi (Pj Sekdaprov) Kaltim Muhammad Sa'bani, guna mengetahui bagaimana langkah pemerintah, terkait upaya pelestarian makam bernilai sejarah itu. Sa'bani sapaan akrab Muhammad Sa'bani, mengaku menyerahkan urusan itu kepada pihak yang kompeten. Dalam hal ini, TACB. Namun untuk lahan atau keberadaan makam secara khusus, Sa'bani mengaku hal itu ada di bawah wewenang Pemkot Samarinda.

"Sebaiknya kalau urusan makam ditanyakan kepada pemkot (Samarinda). 

Kalau makam pahlawan Indonesia, sudah ada   di (Jalan) Kesuma Bangsa Samarinda,  yang kami rawat," ungkap Sa'bani. 

Guna mendapatkan penjelasan lebih rinci. Korankaltim.com, menghubungi Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang terkait hal ini. Namun, hingga berita ini ditulis, Wali Kota Samarinda 2 periode itu, belum merespons pesan maupun panggilan telepon tim Korankaltim.com.[]


Tim Penulis : 

1. Claudius Vico

2. Permata S Rahayu 


Editor : Rusdianto

Makam Tak Terawat di Jalan Arjuna, Saksi Bisu Kehidupan Bangsa Eropa di Samarinda

Senin, 07/09/2020

Makam tua di Jalan Arjuna, yang jadi saksi bisu kehidupan Bangsa Belanda di Kota Samarinda (Foto: Claudius Vico/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait