Minggu, 20/09/2026

Akun Kelas Pintar Diduga Ditukar, Belasan Siswa di Balikpapan Trauma hingga Enggan Sekolah

Minggu, 20/09/2026

Rina bersama tiga orang tua lainnya tengah meminta pendampingan hukum untuk kasus yang didera anaknya. (Foto: Januar/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Akun Kelas Pintar Diduga Ditukar, Belasan Siswa di Balikpapan Trauma hingga Enggan Sekolah

Minggu, 20/09/2026

logo

Rina bersama tiga orang tua lainnya tengah meminta pendampingan hukum untuk kasus yang didera anaknya. (Foto: Januar/Korankaltim.com)

Penulis: Muhammad Solih Januar

KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Sejumlah orang tua siswa di salah satu sekolah dasar di Kota Balikpapan mengaku anak mereka mengalami perubahan perilaku dan penurunan semangat belajar setelah akun aplikasi pembelajaran Kelas Pintar diduga ditukar oleh wali kelas.

Rina (42), salah seorang orang tua siswa, menceritakan bahwa kejadian itu bermula saat anaknya yang kala itu masih menginjak bangku kelas 6 SD pada Maret 2024 lalu pulang ke rumah dalam keadaan menangis. 

Sang anak diminta oleh Wali kelasnya untuk mengeluarkan akun aplikasi pembelajaran miliknya (logout) dan digantikan dengan akun milik siswa lain dari kelas berbeda.

"Saya tidak tahu alasan akun anak saya ditukar. Saat itu anak saya sudah menuntaskan tugas dan mendapat nilai 100, sedangkan akun yang diterimanya belum dikerjakan dan nilainya 80," kata Rina, Minggu (20/9).

Menurutnya, ketika anaknya mencoba mempertanyakan alasan pergantian akun tersebut kepada pihak guru, tidak ada penjelasan logis yang diberikan oleh wali kelasnya.

"Anak saya sempat mempertanyakan kepada wali kelas, tetapi hanya dijawab, 'Enggak apa-apa, ganti saja,'" tuturnya.

Merasa dirugikan, Rina bersama sejumlah orang tua murid lain mendatangi pihak sekolah dan para wali kelas untuk meminta klarifikasi. Namun, pihak sekolah hanya berdalih penukaran akun dilakukan untuk penyesuaian administratif.

Lantaran tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, para orang tua melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Kota Balikpapan.

Menurut Rina, pejabat yang menangani aplikasi pembelajaran di Dinas Pendidikan Kota Balikpapan menyebut penukaran akun antarsiswa tidak dibenarkan karena dapat memengaruhi rekam jejak dan nilai siswa.

"Saya diberi tahu bahwa akun tidak boleh ditukar karena dapat berdampak pada nilai anak. Saya kemudian diminta menyelesaikan persoalan tersebut melalui sekolah dan tidak melapor ke mana-mana," ujar Rina.

Kendati dijanjikan akan menyelesaikan masalah di internal sekolah, pada kenyataannya akun yang tertukar tersebut tetap digunakan hingga pelaksanaan ujian sekolah usai. 

Rina mengungkapkan, setelah kasus ini bergulir, oknum wali kelas berinisial UA sempat menghubungi dirinya secara pribadi untuk menyampaikan permohonan maaf atas tindakan unilateral tersebut.

"Wali Kelas menghubungi saya dan meminta maaf karena menukar akun dengan alasan ada anak yang tidak mau mengerjakan tugas," ungkap Rina.

Persoalan ini belakangan berdampak serius terhadap kondisi mental dan psikologis sang anak. Dampak trauma tersebut terus berlanjut hingga korban menginjak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana anak tersebut mengalami penurunan semangat belajar secara drastis, sering bolos sekolah, tidur di kelas, hingga bersembunyi di lingkungan sekolah saat jam pelajaran berlangsung demi menghindari tugas.

"Anak saya pernah mengatakan takut mengerjakan tugas karena khawatir nilainya kembali ditukar," kata Rina.

Dampak serupa dialami oleh siswa lain di sekolah yang sama. Orang tua murid lainnya, Ida (51) dan Rahmaniah (57), membeberkan bahwa anak mereka juga menjadi korban penukaran akun. 

Anak Ida bahkan mengalami ketakutan ekstrem yang membuatnya menolak melanjutkan pendidikan selama hampir satu tahun.

"Setelah lulus, anak saya sebenarnya diterima di SMP negeri, tetapi dia menolak sekolah. Saat saya tanya alasannya, dia bilang, 'Nanti pakai akun lagi, Kak,'" paparnya.

Alhasil Ida terpaksa menyekolahkan anaknya ke SMP swasta di Balikpapan meskipun harus mengeluarkan biaya lebih, namun setelah pendaftaran dan pembayaran dilunasi, anaknya hanya bertahan selama dua hari.

"Sempat setahun tidak sekolah, karena khawatir pakai akun belajar itu dan ditukar nilainya. Setelah saya bujuk, baru mau sekolah lagi, tapi di pondok pesantren di seberang (PPU)," cetus Ida.

Berdasarkan penelusuran orang tua murid, setidaknya terdapat 11 akun siswa yang diduga ikut ditukar secara tidak sah di sekolah tersebut. Persoalan ini sejatinya sempat dilaporkan ke pihak kepolisian, namun Rina menyebut laporan tersebut tidak berlanjut setelah petugas menyatakan persoalan itu belum memenuhi unsur pidana.

Meski demikian, mengingat kondisi anak-anak yang terus dibayangi trauma, pihak keluarga bersama kuasa hukumnya memutuskan untuk tetap membawa kasus dugaan manipulasi akun pembelajaran ini ke jalur hukum guna membidik oknum tenaga pendidik yang terlibat dan menuntut keadilan. 

Editor: Erwin

Akun Kelas Pintar Diduga Ditukar, Belasan Siswa di Balikpapan Trauma hingga Enggan Sekolah

Minggu, 20/09/2026

Rina bersama tiga orang tua lainnya tengah meminta pendampingan hukum untuk kasus yang didera anaknya. (Foto: Januar/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait