Senin, 17/08/2026
Senin, 17/08/2026
Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma bersama penari Tari Enggang. (Foto: Istimewa)
Senin, 17/08/2026

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma bersama penari Tari Enggang. (Foto: Istimewa)
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Ekstrakurikuler seni dan budaya di lingkungan sekolah masih menghadapi tantangan dalam menarik minat peserta didik.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun Ajaran 2023/2024 lalu, tingkat partisipasi pelajar dalam ekstrakurikuler seni dan budaya di Indonesia tercatat hanya 9,44 persen, tterpaut cukup jauh dibandingkan dengan partisipasi ekstrakurikuler Pramuka yang mencapai 64,46 persen dan olahraga sebesar 32,66 persen.
Ketua Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma menjelaskan, rendahnya partisipasi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari dominasi kegiatan yang bersifat wajib hingga keterbatasan fasilitas seni di sekolah.
Pramuka menjadi pilihan utama karena memiliki posisi yang kuat dalam kegiatan pendidikan, sementara olahraga juga relatif lebih populer di kalangan remaja karena menawarkan ruang interaksi dan kompetisi.
“Untuk seni dan budaya, tantangannya cukup banyak. Salah satunya fasilitas dan tenaga pelatih yang belum merata. Tidak semua sekolah memiliki instrumen musik, studio tari, maupun pelatih yang memadai,” ujar Barlin kepada Korankaltim.com, Senin (17/8/2026).
Selain itu terdapat anggapan dari sebagian orang tua maupun siswa bahwa kegiatan seni kurang memberikan prospek masa depan dibandingkan bidang akademik, STEM, maupun olahraga kompetitif.
Perubahan tren dikalangan remaja turut memengaruhi minat terhadap seni budaya. Materi seni tradisional yang disampaikan dengan cara konvensional dinilai perlu dikemas lebih menarik agar mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya populer dan konten digital.
“Jangan sampai seni budaya dianggap sesuatu yang kaku. Harus ada inovasi dalam penyampaiannya sehingga anak-anak merasa seni budaya itu dekat dengan kehidupan mereka,” papar Barlin.
Persoalan biaya juga menjadi kendala lain yang dihadapi. Sejumlah kegiatan seni membutuhkan perlengkapan tambahan, seperti alat musik, kostum, properti pertunjukan hingga biaya pementasan yang terkadang harus ditanggung secara mandiri.
Karena itu Barlin mendorong adanya modernisasi dalam pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler seni budaya dengan menggabungkan unsur budaya lokal dan tren kontemporer. Penguatan sarana dan prasarana serta pemerataan dukungan anggaran juga penting dilakukan agar sekolah memiliki ruang yang lebih besar dalam mengembangkan kegiatan seni dan budaya.
“Yang diperlukan adalah kolaborasi. Seni budaya lokal harus tetap dipertahankan, tetapi cara mengemasnya harus mengikuti perkembangan zaman. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga merasa memiliki dan tertarik untuk mengembangkannya,” pungkas Barlin.
Editor: Aspian Nur
Senin, 17/08/2026
Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Samarinda, Barlin Hady Kesuma bersama penari Tari Enggang. (Foto: Istimewa)
TERPOPULER