Selasa, 01/09/2026
Selasa, 01/09/2026
Rapat koordinasi penanganan karhutla di Comand Center Diskominfo Kukar (Dok.BPBDKukar)
Selasa, 01/09/2026

Rapat koordinasi penanganan karhutla di Comand Center Diskominfo Kukar (Dok.BPBDKukar)
Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kian mengkhawatirkan di tengah puncak musim kemarau. Hingga kini, luas lahan terdampak mencapai 1.304,58 hektare, sementara kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan melonjak hingga 200 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam rapat koordinasi tim penanganan Karhutla Kukar yang digelar di Command Center Diskominfo Kukar, Tenggarong, Selasa (1/9/2026). Sekda Kukar Sunggono menyampaikan, berdasarkan perkiraan BMKG terdapat 144 titik panas di wilayah Kukar. Titik panas tinggi terpantau di Desa Sabintulung dan Desa Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman.
“Menurut ramalan BMKG, bulan Agustus merupakan puncak kemarau,” ungkap Sunggono. Ancaman karhutla kini tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Kasus ISPA di Kukar dilaporkan meningkat hingga 200 persen, dengan kelompok usia 5-18 tahun menjadi yang paling banyak terpapar.
Jika kondisi kabut asap terus memburuk dan mulai mengancam kesehatan pelajar, Pemkab Kukar mempertimbangkan penerapan pembelajaran secara daring. Untuk mengantisipasi dampak asap, Pemkab Kukar menyiapkan 40.000 masker yang akan dibagikan kepada masyarakat terdampak.
Pemerintah juga meminta seluruh puskesmas dan puskesmas pembantu (Pustu) mendata serta melaporkan ketersediaan air bersih. Persoalan air tawar turut dihadapi sejumlah desa di kawasan pesisir akibat tingginya kadar garam.
Di sisi penanganan lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar diminta memastikan dukungan bahan bakar minyak (BBM) dan logistik bagi personel yang melakukan pemadaman. Selain langkah teknis, salat Istisqa dijadwalkan digelar serentak di Kukar sebagai ikhtiar menghadapi kemarau panjang.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menegaskan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Saat ini, terdapat 11 titik api yang menjadi perhatian, terutama di kawasan lahan gambut yang masih menyimpan bara.
“Kemarau panjang yang terjadi saat ini, jangan sampai kita lengah,” tegasnya. Keterlibatan perusahaan menjadi salah satu perhatian dalam penanganan karhutla. Rapat koordinasi tersebut diikuti camat se-Kukar, TNI-Polri, BPBD, Damkarmatan, perangkat daerah, kejaksaan, serta perusahaan yang beroperasi di Kukar. Sebanyak 25 peserta mengikuti rapat secara tatap muka, sementara 305 perusahaan mengikuti secara daring melalui Zoom. Bupati meminta perusahaan dan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) meningkatkan patroli aktif di wilayah masing-masing.
Masyarakat juga diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan yang berpotensi memicu kebakaran. Bupati menegaskan korporasi yang membuka lahan dengan cara membakar dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Ia juga meminta proses peminjaman mobil tangki dan peralatan pemadaman di tingkat kecamatan tidak dipersulit.
Dukungan tersebut dinilai penting agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat. Permintaan itu disampaikan setelah adanya laporan dari sejumlah kecamatan mengenai perusahaan yang disebut tidak bersedia melakukan pemadaman api di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) maupun HGU mereka.
“Forkopimcam, segera lakukan rapat koordinasi. Laporkan kepada kami mana perusahaan yang terlibat aktif dan yang tidak terlibat dalam pemadaman Karhutla,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Selasa, 01/09/2026
Rapat koordinasi penanganan karhutla di Comand Center Diskominfo Kukar (Dok.BPBDKukar)
TERPOPULER