Senin, 24/08/2026
Senin, 24/08/2026
Ilustrasi/AI Gemini
Senin, 24/08/2026

Ilustrasi/AI Gemini
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Nasib malang menimpa Sri Yuliati, wanita berusia 32 tahun di Tenggarong. Ibu satu anak itu mengalami kelumpuhan saat hendak menjalani operasi pencabutan gigi di rumah sakit.
Orang tua korban, Wati (51) bercerita, korban awalnya mengeluhkan sakit pada bagian gigi geraham atas dan dirujuk untuk mendapatkan tindakan operasi. Di rumah sakit, korban rencananya menjalani operasi kecil pencabutan gigi.
Namun, ia seketika lumpuh sesaat setelah disuntik oleh tim medis. Sejak ditangani April hingga Juli 2026, kondisi eks karyawan Makan Bergizi Gratis (MBG) itu terus memburuk.
"Padahal awalnya anak saya baik-baik saja. Dia sudah pernah operasi dua kali, operasi tangan sama operasi melahirkan, itu semua aman. Tapi pas mau operasi gigi, kondisinya langsung lemas dan tidak bisa bangun setelah disuntik," jelas Wati, Senin (24/8/2026).
Korankaltim.com, melihat langsung kondisi Sri Yuliati. Di kediaman ibunya di kawasan Pal 5 Kelurahan Timbau, ia hanya bisa terbaring tak berdaya di atas kasur. Di hidungnya, terdapat selang yang berfungsi untuk memasukkan makanan.
Beberapa kali korban terlihat histeris. Menurut Wati, setelah kejadian itu, korban diperbolehkan dokter pulang ke rumah. Namun, seminggu kemudian ia dibawa kembali ke rumah sakit karena mengalami sesak napas. Dokter, kata Wati, menduga ada sistem saraf anaknya yang terkena dampak fatal.
Ia telah menjalani dua kali pemindaian (CT Scan) serta pemeriksaan laboratorium mendalam yang sampelnya dikirim khusus ke Kota Samarinda. Namun, hasilnya justru menyisakan tanda tanya besar bagi pihak keluarga.
"Hasil lab penyakit dalam itu negatif semua. Tapi anehnya, keadaan anak saya parah begini, kami jelas bingung," ungkapnya.
Kejelasan mulai menemui titik terang saat korban dirawat di ruang ICU yang tertutup. Di sana, baru terdeteksi adanya reaksi alergi obat pada tubuh pasien. Pihak keluarga menyayangkan pihak rumah sakit yang diduga tidak melakukan skrining atau tes alergi obat terlebih dahulu sebelum menyuntikkan anestesi atau obat operasi.
Dampak gangguan saraf ini membuat kondisi Sri Yuliati sangat tidak stabil. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, korban sering kali memberontak di atas kasur secara tak terkendali. Hal ini memaksa tim medis memindahkan posisi jarum infus setiap hari ke titik pembuluh darah yang berbeda.
Keluarga berharap transparansi informasi dan rekam medis yang jelas dari pihak rumah sakit.
"Kami hanya meminta keadilan dan pertanggungjawaban nyata atas nasib malang yang merenggut masa depan anak saya," tegasnya.
Lurah Timbau, Muhammad Furqan, membenarkan, korban merupakan warganya yang aktif sebagai pekerja di salah satu dapur SPPG . Ia menyebut pihak kelurahan sudah menjenguk korban dan menyalurkan bantuan dana hasil patungan dari anggota PKK.
"Awalnya dia itu sehat, mau operasi gigi. Nah, pas mau operasi disuntik, setelah disuntik itulah kondisinya memburuk," ungkal Furqan.
Terkait langkah hukum atau tuntutan, Furqan menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada pihak keluarga korban. Namun, ia menegaskan pihak kelurahan akan melakukan cross-check lebih lanjut mengenai duduk perkara kasus ini.
"Harapannya mudah-mudahan pihak terkait atau rumah sakit bisa meninjau ulang kenapa itu bisa terjadi," harapnya.
Editor: Supiansyah
Senin, 24/08/2026
Ilustrasi/AI Gemini
TERPOPULER