Selasa, 18/08/2026
Selasa, 18/08/2026
Cuaca terik menyelimuti Kota Samarinda di tengah periode kemarau. (Ayu/Korankaltim.com)
Selasa, 18/08/2026

Cuaca terik menyelimuti Kota Samarinda di tengah periode kemarau. (Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Warga Kota Tepian masih perlu bersiap menghadapi cuaca kemarau dalam beberapa pekan ke depan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda memprakirakan curah hujan pada dasarian kedua dan ketiga Agustus 2026 masih berada dalam kategori sangat rendah, yakni di bawah 30 milimeter dalam periode 10 hari. Meski hujan tetap berpotensi turun, tetapi intensitasnya diprediksi cenderung ringan.
“Kalau untuk hujan mungkin saja terjadi, tetapi intensitas curah hujannya ringan,” kata Forecaster BMKG Samarinda Fiona Alya Hanifah, Selasa (18/8/2026).
Kondisi ini diprakirakan berlangsung hingga akhir musim kemarau. Untuk wilayah Samarinda dan sekitarnya, periode kemarau diprediksi berjalan sekitar sembilan dasarian atau tiga bulan sejak dimulai pada akhir Juni, lalu berakhir kisaran September atau Oktober.
Mengenai potensi kemarau ekstrem, BMKG masih melakukan pemantauan intensif. Sebab, karakteristik kemarau tahun ini diprakirakan menyerupai kondisi yang pernah terjadi pada 1997 dan 2023.
“Kalau untuk yang paling kering, masih kami pantau,” ujarnya.
Fenomena itu turut memicu kenaikan suhu udara di Kota Tepian. Jika suhu maksimum pada Juli tercatat 34,1 derajat Celsius, maka pada Agustus ini diprakirakan menyentuh angka 35 derajat Celsius. Lonjakan suhu dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan serta rendahnya tingkat kelembapan udara.
“Maksimumnya 35 (derajat Celsius). Kalau bulan kemarin masih 34,1, tetapi bulan ini tampaknya akan menyentuh 35,” tuturnya.
Sebagai langkah mitigasi krisis air bersih, kebakaran lahan, serta ancaman intrusi air laut ke Sungai Mahakam, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) sebelumnya menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berupa pembuatan hujan buatan.
Skema ini disiapkan apabila kondisi kekeringan tidak kunjung membaik hingga rentang 22–27 Agustus 2026.
Pada langkah ini, BMKG berperan memantau kondisi atmosfer guna mendukung penyemaian garam melalui armada pesawat di area sasaran pembentukan awan hujan.
Kendati demikian, Fiona menegaskan keberhasilan operasi sangat bergantung pada dinamika cuaca saat pelaksanaan di lapangan.
“Secara umum, BMKG melakukan pemantauan kondisi cuacanya. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada kecepatan angin dan kelembapan udara,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Selasa, 18/08/2026
Cuaca terik menyelimuti Kota Samarinda di tengah periode kemarau. (Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER