Rabu, 19/08/2026
Rabu, 19/08/2026
Kekurangan pasokan air akibat musim kemarau mengancam produktivitas tanaman pangan di Samarinda. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Rabu, 19/08/2026

Kekurangan pasokan air akibat musim kemarau mengancam produktivitas tanaman pangan di Samarinda. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta mengganggu ketersediaan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Suwarso menyatakan, pemetaan dampak terus dilakukan mengingat kondisi kering diproyeksikan bertahan hingga Oktober.
Apalagi berdasarkan catatan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), cuaca ekstrem sejauh ini telah memicu 61 kejadian karhutla dengan luas area terdampak mencapai 83 hektare.
“Di awal kita mitigasi, identifikasi persoalan atau potensi risiko jika kemarau ini berlanjut sampai September bahkan mungkin Oktober,” kata Suwarso pada Rabu, (19/8/2026).
Selain ancaman kebakaran, krisis pasokan air berpotensi memicu gagal tanam maupun gagal panen. Salah satunya di kawasan Jalan Serayu, Kecamatan Samarinda Utara, sekitar 50 hektare lahan pertanian disebut terancam gagal panen apabila tidak memperoleh curah hujan atau bantuan irigasi buatan dalam waktu dekat.
Kondisi serupa mengintai komoditas hortikultura seperti cabai dan sayuran, hingga sektor budidaya perikanan air tawar. Seluruh data wilayah rawan kini dihimpun dari dinas terkait sebagai bahan laporan kepada Wali Kota Samarinda, Andi Harun, guna menentukan intervensi bantuan, dengan tetap mempertimbangkan ketersediaan anggaran daerah.
“Mungkin (bantuan) dengan menggerakkan beberapa peralatan yang dimiliki OPD maupun perusahaan. Pokoknya, konsepnya kolaborasi, kita gerakkan semuanya,” terangnya.
Dari sisi pemenuhan kebutuhan masyarakat, BPBD juga berkoordinasi dengan Perumda Tirta Kencana menginventarisasi permukiman yang berpotensi rawan krisis air bersih.
Penyaluran bantuan disiapkan melalui armada mobil tangki hingga penempatan tandon publik di fasilitas umum seperti tempat ibadah maupun lingkungan RT.
“Kita bisa mempersiapkan suplai air bersih ke daerah-daerah yang air bersihnya terbatas,” jelasnya.
Kendati indikator kualitas udara sejauh ini masih tergolong baik, pemerintah tetap mewaspadai risiko intrusi air laut ke sumber air baku.
Masyarakat pun diimbau untuk bijak menghemat serta mengamankan cadangan air selagi distribusi utama masih berjalan normal.
“Penghematan air bersih ini paling penting. Masyarakat diimbau untuk mulai menampung air dalam kondisi masih normal saat ini” tandasnya.
Editor: Erwin
Rabu, 19/08/2026
Kekurangan pasokan air akibat musim kemarau mengancam produktivitas tanaman pangan di Samarinda. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER