Selasa, 23/06/2026
Selasa, 23/06/2026
Ilustrasi. (Dok. Ai Gemini Flash/Muhammad Anshori)
Selasa, 23/06/2026

Ilustrasi. (Dok. Ai Gemini Flash/Muhammad Anshori)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Minimnya akses terhadap lapangan pekerjaan formal mendorong ratusan penyandang disabilitas di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencari alternatif sumber penghasilan.
Keterbatasan lowongan kerja yang ramah disabilitas membuat mereka harus berupaya lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebagai bentuk ikhtiar untuk bertahan dan mandiri secara ekonomi, para penyandang disabilitas kini mengembangkan sektor pertanian mandiri. Mereka memanfaatkan lahan di sekitar sekretariat yang difasilitasi Dinas Sosial di Jalan Cut Nyak Dien, Kecamatan Tenggarong, untuk bercocok tanam secara swadaya.
Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kukar, Fitriansyah, mengatakan terbatasnya kesempatan kerja di sektor formal menjadi alasan utama para penyandang disabilitas beralih ke bidang pertanian.
Menurutnya, usaha mandiri melalui sektor pertanian merupakan pilihan yang paling realistis di tengah minimnya peluang kerja yang tersedia bagi penyandang disabilitas.
“Tak adanya akses kerja membuat kami harus berdaya secara swadaya,” ujar Fitriansyah, Selasa (23/6/2026).
Saat ini, aktivitas bercocok tanam tersebut menjadi ruang bagi mereka untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk tetap produktif.
Potensi tenaga kerja dari kelompok disabilitas ini sebenarnya sangat besar jika diakomodasi oleh sektor industri.
Kata dia, tercatat penyandang disabilitas di Kukar mencapai 1.200, namun, ada sekitar 200 orang yang aktif bergerak di lapangan.
“Selama ini, operasional pertanian murni mengandalkan urunan uang pribadi kami dan bantuan bibit ala kadarnya dari relawan,” ungkapnya.
Mengingat banyaknya anggota potensial yang membutuhkan pekerjaan layak, kelompok disabilitas Kukar mendesak pemerintah daerah dan pihak swasta untuk menegakkan aturan kuota pekerja disabilitas di perusahaan.
Selain itu, mereka sangat mengharapkan adanya bantuan permodalan usaha agar mereka bisa mandiri secara ekonomi meski di luar sektor formal.
Meski mulai mandiri di sektor pertanian, komunitas ini menegaskan kondisi ini bukanlah solusi jangka panjang yang ideal.
“Kami tetap menyuarakan hak kami untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di sektor formal, sesuai dengan amanat undang-undang,” tutupnya.
Editor: Erwin
Selasa, 23/06/2026
Ilustrasi. (Dok. Ai Gemini Flash/Muhammad Anshori)
TERPOPULER