Kamis, 03/09/2026

Sudah 9 Hotspot Padam, BPBD Mahulu Ingatkan Titik Api Masih Bisa Bertambah

Kamis, 03/09/2026

Karhutla di Mahulu, sudah mulai berkurang berkat penangangan cepat BPBD setempat. (Foto: Dok.Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Sudah 9 Hotspot Padam, BPBD Mahulu Ingatkan Titik Api Masih Bisa Bertambah

Kamis, 03/09/2026

logo

Karhutla di Mahulu, sudah mulai berkurang berkat penangangan cepat BPBD setempat. (Foto: Dok.Korankaltim.com)

Penulis: Julika Hengin

KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Hingga Selasa (1/9/2026) malam lalu, ada sembilan titik panas atau hotspot di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) yang berhasil dipadamkan dan tak lagi terlihat pada Rabu (2/9/2026) pagi kemarin.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (‎Kalaksa BPBD) Mahulu Agus Darmawan menjelaskan, dari pemantauan terakhir hingga pukul 24.00 WITA ada sembilan hotspot yang terdeteksi di wilayah Mahulu. ‎

Namun meski sudah ada yang padam, saat pemantauan kemarin pagi kembali menunjukkan adanya satu titik panas yang terdeteksi melalui aplikasi Sipongi, berada di wilayah Long Bagun dan sudah dalam penanganan.

Jumlah titik api masih berpotensi bertambah, terutama karena aktivitas masyarakat dalam membuka lahan masih berlangsung di tengah kondisi kekeringan. Mahulu memiliki aktivitas pembukaan lahan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat sehingga tidak mudah dihentikan hanya melalui instruksi maupun imbauan pemerintah.

 ‎"Terus terang Mahakam Ulu punya aktivitas-aktivitas yang perlu dilestarikan dan perlu dijaga. Tidak bisa dihentikan hanya dengan instruksi yang ada atau imbauan yang ada,” sebut Agus kepada Korankaltim.com Kamis (3/9/2026).

Karena itu, BPBD Mahulu memilih mendorong pendampingan dan keterlibatan masyarakat untuk mencegah aktivitas pembukaan lahan berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. ‎

“Kami selalu mengimbau libatkan masyarakat, libatkan MPA (Masyarakat Peduli Api) yang sudah dibentuk, libatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang ada di kampung untuk menjaga semua,” tegasnya.

Pencegahan kebakaran tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Kondisi geografis Mahulu yang memiliki sejumlah wilayah sulit dijangkau juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas ketika terjadi kebakaran. Terdapat beberapa kecamatan yang sulit dijangkau karena berada di seberang sungai, seperti Kecamatan  Laham. ‎Kondisi tersebut membuat pengerahan personel dan peralatan pemadam kebakaran tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat.

Karena itu keterlibatan masyarakat di tingkat kampung dinilai penting sebagai bagian dari upaya penanganan awal ketika muncul titik api. BPBD sendiri tetap melakukan pendampingan selama lokasi dapat dijangkau petugas. Sementara masyarakat yang berada di wilayah yang sulit dijangkau diharapkan dapat membantu melakukan pemantauan dan penanganan awal.

Kalau titik api dapat segera diketahui dan dijangkau, BPBD berupaya melakukan penanganan secepat mungkin. Dalam kondisi tertentu, titik api yang terpantau dapat dipadamkan dalam waktu maksimal sekitar empat jam.

Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, BPBD Mahulu meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam mencegah kebakaran.  ‎Pengawasan bersama di tingkat kampung dinilai penting agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan kembali memperburuk kondisi udara di Mahulu.

Editor: Aspian Nur

Sudah 9 Hotspot Padam, BPBD Mahulu Ingatkan Titik Api Masih Bisa Bertambah

Kamis, 03/09/2026

Karhutla di Mahulu, sudah mulai berkurang berkat penangangan cepat BPBD setempat. (Foto: Dok.Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait