Kamis, 03/09/2026
Kamis, 03/09/2026
Kabut asap akibat karhutla menyelimuti kawasan Bandar Udara Kalimarau, Berau, yang berdampak terhadap jarak pandang dan operasional penerbangan. (istimewa)
Kamis, 03/09/2026

Kabut asap akibat karhutla menyelimuti kawasan Bandar Udara Kalimarau, Berau, yang berdampak terhadap jarak pandang dan operasional penerbangan. (istimewa)
Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mulai merambah sektor transportasi udara. Kabut asap yang menurunkan jarak pandang di Bandar Udara Kalimarau dalam dua hari terakhir menyebabkan jadwal penerbangan terganggu, bahkan satu pesawat sempat dialihkan (divert) ke Balikpapan.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Bandar Udara Kalimarau, Patah Atabri, mengatakan kondisi penerbangan pada Kamis (3/9/2026) masih terdampak asap. Jarak pandang di kawasan bandara berada pada kisaran 2.000 hingga 4.000 meter.
“Kondisi penerbangan masih terdampak asap, dengan jarak pandang 2.000 sampai 4.000 meter,” ujar Patah.
Meski jarak pandang masih dipengaruhi kabut asap, kondisi operasional penerbangan pada 3 September justru berjalan normal. Tidak terdapat penerbangan yang mengalami keterlambatan maupun pengalihan pendaratan.
“Alhamdulillah, operasional penerbangan berjalan normal, tidak ada delay maupun divert,” katanya.
Kondisi tersebut berbeda dengan sehari sebelumnya. Pada Rabu (2/9/2026), jarak pandang di Bandara Kalimarau berada pada kisaran 1.200 hingga 3.500 meter. Penurunan visibilitas tersebut berdampak terhadap sejumlah penerbangan.
Penurunan jarak pandang itu bukan sekadar mengurangi kenyamanan aktivitas di sekitar bandara. Operasional penerbangan ikut terdampak.
Batik Air rute Jakarta–Berau menjadi salah satu penerbangan yang mengalami gangguan. Pesawat tersebut tidak dapat langsung mendarat di Kalimarau dan harus dialihkan ke Balikpapan. Dampaknya, penerbangan mengalami keterlambatan hingga 3 jam 21 menit.
Sementara itu, Batik Air rute Surabaya–Berau mengalami keterlambatan sekitar 1 jam 20 menit akibat kondisi asap yang memengaruhi jarak pandang.
Gangguan tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan karhutla dapat meluas dari persoalan lingkungan menjadi persoalan konektivitas. Bandara Kalimarau merupakan salah satu pintu utama mobilitas masyarakat dan distribusi aktivitas ekonomi Berau melalui jalur udara.
Pada Kamis (3/9/2026), kondisi penerbangan berangsur normal. Pesawat yang dijadwalkan melayani penerbangan ke Berau sudah dapat mendarat di Bandara Kalimarau. Namun, asap masih menjadi faktor yang harus diwaspadai karena kondisi jarak pandang dapat berubah mengikuti konsentrasi asap di sekitar wilayah bandara.
Pihak bandara pun terus memantau perkembangan jarak pandang untuk memastikan operasional penerbangan tetap memperhatikan aspek keselamatan.
“Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Kondisi dua hari terakhir menjadi sinyal bahwa karhutla tidak hanya meninggalkan persoalan asap bagi masyarakat, tetapi juga mulai menguji ketahanan konektivitas udara Berau.
Jika kabut asap kembali menebal dan jarak pandang kembali turun, potensi keterlambatan hingga pengalihan penerbangan bukan tidak mungkin terjadi lagi. Kondisi itu pada akhirnya dapat berimbas pada penumpang, jadwal perjalanan, hingga aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran akses udara.
“Selama kondisi memungkinkan, penerbangan tetap kami layani, tetapi keselamatan tidak bisa ditawar,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Kamis, 03/09/2026
Kabut asap akibat karhutla menyelimuti kawasan Bandar Udara Kalimarau, Berau, yang berdampak terhadap jarak pandang dan operasional penerbangan. (istimewa)
TERPOPULER