Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan dan mensucikan tanah dan diyakini dapat mendukung pertumbuhan tanaman yang subur, menjaga kesehatan, dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat setempat.
Menurut Alex Lus Lung, tokoh masyarakat Kampung Tering Lama, ritual ini melibatkan 24 rangkaian upacara yang dilakukan dalam rentang waktu 15 hari hingga satu bulan. Kepercayaan terhadap Dewi Kesuburan menjadi dasar dari tradisi ini, di mana masyarakat meyakini bahwa roh para leluhur turut hadir saat dilangsungkannya tari Hudoq, menciptakan dialog dua arah antara dunia manusia dan roh leluhur.
Meskipun seharusnya acara ini diselenggarakan setiap Oktober, namun pada tahun ini acara tersebut harus digelar pada November karena beberapa kendala. Kepala Adat Tering Lama, Johan menyatakan, sekitar 500 warga ikut serta dalam acara adat Laliq Ugal tahun ini.
Ritual ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya agraris masyarakat Dayak. Mereka meyakini bahwa keberhasilan Laliq Ugal dapat menentukan pertumbuhan subur tanaman, mencerminkan keharmonisan hidup mereka dengan alam. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat Tering Lama menjaga dan meneruskan tradisi ini secara turun temurun untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Editor: Maruly Z