Kamis, 26/11/2020
Kamis, 26/11/2020
Aksi tangan Tuhan Diego Maradona ke gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton di Stadion Azteca, sudah berlalu 34 tahun namun akan terus dikenang sepanjang masa. (Foto: dailymail)
Kamis, 26/11/2020

Aksi tangan Tuhan Diego Maradona ke gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton di Stadion Azteca, sudah berlalu 34 tahun namun akan terus dikenang sepanjang masa. (Foto: dailymail)
KORANKALTIM.COM, BUENOS AIRES – Hand of God alias Tangan Tuhan menjadi kutipan olahraga paling ikonik sepanjang masa, tetapi dunia tak mengetahui ucapan tajam Diego Armando Maradona tentang golnya yang terkenal saat Argentina menang 2-1 atas Inggris dalam Piala Dunia Meksiko 1986 tersebut.
Koresponden olahraga Reuters Rex Gowar berada di Stadion Azteca setelah pertandingan itu ketika Maradona mengaku sebagai orang yang paling sering dibicarakan dalam hal berbuat curang dalam sejarah sepak bola.
"Saat itu adalah liputan Piala Dunia pertama saya bersama Reuters," kata Gowar, yang pertama kali bertemu dengan Maradona saat masih remaja di Buenos Aires sebagai fotografer untuk sebuah surat kabar Argentina, mengenang Maradona yang meninggal dunia dalam usia 60 tahun Rabu (25/11/2020) kemarin akibat serangan jantung.
"Kami berada dekat ruang ganti dengan sekelompok penulis sepak bola Argentina, saat itu adalah semacam perdebatan biasa yang Anda alami setelah pertandingan sepenting itu," imbuhnya. Jauh sebelum adanya ponsel, media sosial dan berita 24 jam non stop, kemarahan sudah muncul setelah tayangan ulang TV dengan jelas memperlihatkan Maradona menggunakan tangannya untuk menepis bola guna melewati kiper Inggris Peter Shilton.
Fakta bahwa gol keduanya yang dia ciptakan beberapa menit kemudian adalah karya jenius yang dibayangi oleh kontroversi liar atas gol pertamanya seolah menuangkan bensin ke dalam api, Maradona kemudian mengucapkan kata-kata yang lalu menjadi berita besar di seluruh dunia.
"Un poco con la cabeza de Maradona y otro poco con la mano de Dios (sedikit berkat kepala Maradona dan sedikit berkat tangan Tuhan)," kata Maradona kepada beberapa wartawan terpilih yang mengendus kutipan terkenal hari itu. Kutipan itu laksana emas. "Saya adalah bagian dari kaget mendengar kutipan itu," kata Gowar yang meliput keempat Piala Dunia yang diikuti Maradona.
"Kutipan itu keluar dari kami saat kami menanyai dia. Tidak ada yang tahu persis kepada siapa dia mengatakan kalimat itu, tetapi tentu saja begitu saya mendengar kutipan itu, saya terkesan dan tentu saja meja sunting saya terkesan," paparnya.
Media massa Inggris berusaha mempelajari sesuatu dari pernyataan itu sebagai kambing hitam kegagalan timnya mengulang sukses Piala Dunia 1966. Mereka mengutip salinan kutipan itu dibalut rasa menjadi korban ketidakadilan akibat aksi tipu menipu terang-terangan Maradona.
Namun, mengingat tanpa ada terjemahan resmi, mereka belum mendengar pengakuan Maradona itu sampai kawat Reuters masuk ke kantor mereka. Beberapa media tidak percaya Mardona sungguh mengatakan hal itu, mungkin kesal karena mereka melewatkan kutipan paling menghebohkan dekade itu.
Ketika para penulis sepak bola Inggris marah, rekan-rekan mereka dari Argentina malah memuji Maradona. "Mereka tak berusaha memasalahkan bahwa dia telah menggunakan tangannya," kenang Gowar. "Mereka tahu apa yang telah terjadi tetapi menganggap hal itu tidak sopan kepada dia, mereka terkesan bahwa dia lolos begitu saja." ucapnya.
Duduk di tribun media di atas, Gowar mengisahkan momen yang akan menjadi bagian dari legenda olahraga itu. "Rekan-rekan saya dari Reuters terkejut ketika Maradona yang berpura-pura menyundul gol pembuka, berlari merayakan gol itu. Wasit, menunjuk ke titik tengah (pertanda gol), dikelilingi para pemain Inggris yang menuntut keluarnya keputusan hand ball," kata dia.
"Tribun pers yang terletak di atas di barisan ketiga stadion raksasa itu dan jauh dari gawang di mana dia mencetak gol seketika gempar hampir tidak percaya wasit melewatkan trik itu." Beberapa jurnalis bisa membanggakan wawasan Gowar tentang karier Maradona yang luar biasa.
Dia mendapat wawancara eksklusif dengan Maradona ketika masih berusia 19 tahun pada April 1980, beberapa pekan sebelum dia memukau Inggris di Wembley dalam tur Eropa sang juara dunia baru kala itu. Dan dia juga berada di Amerika Serikat 14 tahun kemudian ketika impian Maradona memenangkan Piala Dunia kedua dihancurkan oleh tes doping yang hasilnya positif. "Itu menghancurkan mimpi kami juga," papar Gowar.
Sementara gelandang Inggris Trevor Steven yang menjadi lawan Maradona 34 tahun silam mengatakan sudah saatnya melupakan apa yang dilakukan Maradona kepada negaranya. "Dia mencetak gol paling terkenal dalam sejarah sepak bola dunia dan juga gol paling ikonik serta fantastis mengingat situasinya," kata Steven yang turut bertanding saat itu.
Steven mengatakan bahwa rekan-rekan satu timnya memang marah besar. "Dia curang dan lolos begitu saja. Dia tidak pernah terlihat mengakui apa yang telah dia lakukan," kata mantan gelandang Everton, Burnley dan Rangers ini. Walaupun begitu waktu pula yang melunakkan hati pria 57 tahun itu. "Seiring berjalannya waktu, perasaan itu agak berkurang dan luka pun sembuh.
Anda bisa menganggap Maradona sebagai apa adanya, yakni pesepakbola yang jenius, jenius yang cacat dalam gaya hidupnya, tetapi dalam soal kemampuan sepak bolanya, dia luar biasa," sebutnya. “Kita harus mengingat dia karena prestasi-prestasi itu ketimbang menjadi sangat picik atau pribadi akibat hari di bulan Juni 1986 itu," pungkas Steven. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di antaranews.com hari Kamis 26 November 2020 dengan judul Bagaimana kutipan "Tangan Tuhan" Maradona menyebar ke seluruh jagat
Kamis, 26/11/2020
Aksi tangan Tuhan Diego Maradona ke gawang Inggris yang dikawal Peter Shilton di Stadion Azteca, sudah berlalu 34 tahun namun akan terus dikenang sepanjang masa. (Foto: dailymail)
TERPOPULER