Sabtu, 06/06/2026
Sabtu, 06/06/2026
Suasana pelayanan di RSUD Inche Abdoel (IA) Moeis Samarinda. Tahun ini rumah sakit milik Pemkot Samarinda tersebut akan menambah kapasitas ruang isolasi pasien TB-HIV dari enam menjadi 10 tempat tidur. (Ayu/KoranKaltim.com)
Sabtu, 06/06/2026

Suasana pelayanan di RSUD Inche Abdoel (IA) Moeis Samarinda. Tahun ini rumah sakit milik Pemkot Samarinda tersebut akan menambah kapasitas ruang isolasi pasien TB-HIV dari enam menjadi 10 tempat tidur. (Ayu/KoranKaltim.com)
Penulis : Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Kapasitas ruang isolasi untuk pasien tuberkulosis (TB) dan HIV di RSUD Inche Abdoel (IA) Moeis Samarinda Seberang akan ditambah tahun 2026 ini.
Rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tersebut bakal memperluas daya tampung dari enam menjadi 10 tempat tidur guna mengakomodasi peningkatan kebutuhan layanan.
Direktur Utama RSUD IA Moeis, Osa Rafshodia mengataka, langkah ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mengedepankan fungsi sosial di samping pelayanan kepada masyarakat.
“Rumah sakit milik pemerintah. Fungsi sosial itu nomor satu selain fungsi pelayanan,” ujar Osa.
Saat ini, fasilitas penanganan TB-HIV di rumah sakit itu hanya menyediakan enam tempat tidur isolasi.
Namun seiring tren kasus yang terus meningkat, penambahan fasilitas dinilai mendesak agar pasien tidak perlu mengantre untuk mendapatkan perawatan.
Langkah ini juga menjadi bagian dari pemenuhan 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
“Agar setiap pasien bisa mendapatkan kepastian ruang pelayanan,” kata dia.
Proses penambahan ruang isolasi ini telah didukung ketersediaan anggaran dan kini sedang dalam tahap reviu oleh Inspektorat Daerah sebelum memasuki proses lelang. Ditargetkan,pengerjaan fisik dapat dimulai pada Juli mendatang dan rampung pada akhir 2026.
“Anggarannya sudah ada. Ini nanti mau masuk tahap lelang. Juli pekerjaan dimulai dan Desember selesai,” ungkapnya.
Selama ini, apabila jumlah pasien melebihi daya tampung yang ada, manajemen rumah sakit menyiasatinya dengan mengalihfungsikan ruang rawat biasa menjadi tempat isolasi sementara.
“Tidak mungkin juga pasien dipulangkan. Jadi, ruang rawat yang bukan isolasi kita siapkan supaya bisa digunakan untuk isolasi,” jelas Osa.
Di sisi lain, dukungan logistik berupa obat-obatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) sejauh ini berjalan baik, meskipun tahun lalu sempat terjadi keterlambatan distribusi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Melihat tren kasus TB dan HIV yang masih merangkak naik, Osa memandang peningkatan sarana isolasi menjadi penting demi menjaga mutu pelayanan tetap optimal.
“Kalau kapasitasnya sudah penuh, biasanya dirujuk. Kalau kita tidak, karena kita punya kewajiban pelayanan dari pemerintah,” pungkas Osa.
Editor: Aspian Nur
Sabtu, 06/06/2026
Suasana pelayanan di RSUD Inche Abdoel (IA) Moeis Samarinda. Tahun ini rumah sakit milik Pemkot Samarinda tersebut akan menambah kapasitas ruang isolasi pasien TB-HIV dari enam menjadi 10 tempat tidur. (Ayu/KoranKaltim.com)
TERPOPULER