Kamis, 02/07/2026
Kamis, 02/07/2026
Penjual ikan hias yang ada di Gunung Steleng, Kecamatan Penajam. (Dinda/korankaltim.com)
Kamis, 02/07/2026

Penjual ikan hias yang ada di Gunung Steleng, Kecamatan Penajam. (Dinda/korankaltim.com)
Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini mulai berdampak pada berbagai sektor usaha, terutama pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik.
Satu diantaranya adalah penjual ikan hias dan akuarium yang menghadapi risiko kerugian akibat terganggunya sistem pendukung kehidupan biota air.
Pemilik usaha akuarium Budiono mengatakan, pemadaman listrik dengan durasi panjang berpotensi menyebabkan kematian ikan karena pompa akuarium yang berfungsi memasok oksigen berhenti beroperasi. Pemadaman selama sekitar satu jam masih dapat ditoleransi, namun jika berlangsung lebih lama risikonya semakin besar.
"Kalau pemadamannya paling lambat satu jam mungkin enggak seberapa, sih. Tapi kalau lebih satu jam, ya pasti ada risiko ikan mati," kata Budiono saat diwawancarai Korankaltim, Kamis (2/6/2026).
Pemadaman listrik yang terjadi saat ini umumnya berlangsung hingga tiga jam. Kondisi tersebut membuat pasokan oksigen di dalam akuarium terhenti sehingga meningkatkan risiko kematian ikan yang dipeliharanya.
Ia mengaku harus menanggung kerugian materi akibat kondisi tersebut. Meski tidak menghitung secara rinci nilai kerugian yang dialami, Budiono memastikan jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah.
"Pasti ada risikonya mati, ada. Jelas (rugi), tapi ya mau bagaimana lagi, kita sebagai pedagang juga enggak bisa ngomong, cuma antisipasi saja yang ada," katanya.
Saat ditanya mengenai besaran kerugian, Budiono mengaku tidak pernah melakukan perhitungan secara pasti. Namun, dampak pemadaman listrik terhadap usahanya sangat dirasakan. "Ya kalau kerugian sih kita enggak pernah ngitung. Tapi kalau ratusan ribu pasti ada,” jelasnya.
Budiono berharap pemadaman listrik tidak dilakukan terlalu sering. Apabila pemadaman diperlukan untuk perawatan jaringan, ia meminta agar durasinya tidak terlalu lama dan frekuensinya dapat dibatasi, misalnya satu atau dua bulan sekali.
Sebagai langkah antisipasi apabila pemadaman bergilir terus berlangsung dalam jangka waktu lama, Budiono mengaku tidak memiliki pilihan selain membeli mesin genset untuk menjaga kelangsungan usahanya. "Ya mau enggak mau kalau terus begini saya terpaksa beli genset daripada ikan mati. Mau komplain ke mana lagi," pungkas Budiono.
Editor : Aspian Nur
Kamis, 02/07/2026
Penjual ikan hias yang ada di Gunung Steleng, Kecamatan Penajam. (Dinda/korankaltim.com)
TERPOPULER