Minggu, 12/07/2026
Minggu, 12/07/2026
Proses ritual mengulur naga ke laut menjadi agenda sakral dalam pelaksanaan event festival sekerat nusantara. (Foto: Dok.Dispar Kutim)
Minggu, 12/07/2026

Proses ritual mengulur naga ke laut menjadi agenda sakral dalam pelaksanaan event festival sekerat nusantara. (Foto: Dok.Dispar Kutim)
Penulis: Zulhamri
KORANKALTIM.COM, SANGATTA – Pelestarian adat, budaya dan kearifan lokal kembali menjadi perhati dalam Festival Sekerat Nusantara (FSN) V yang digelar di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Minggu (12/7/2026). Puncak festival ditandai dengan pelaksanaan Pesta Adat Belian Semegah dan penutupan prosesi adat Mengulur Naga.
Rangkaian prosesi tersebut menjadi penutup perayaan budaya yang telah berlangsung selama sepekan. Ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas masyarakat pesisir.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Sekerat yang terus menjaga dan melestarikan tradisi leluhur.
Menurutnya, ritual adat seperti Mengulur Naga tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga menjadi identitas daerah yang harus terus diwariskan kepada generasi mendatang.
“Tradisi seperti ini harus terus kita jaga karena menjadi bagian dari jati diri. Kami terus mendukung Desa yang konsisten melestarikan adat dan budaya sebagai kekayaan daerah,” ujar Ardiansyah.
Hingga saat ini, baru dua desa di Kutim yang masih rutin menggelar ritual adat Kutai setiap tahun, yakni Desa Sekerat di Kecamatan Bengalon dan Desa Marukangan di Kecamatan Sandaran.
“Kami berharap ke depan semakin banyak desa maupun kecamatan yang menghidupkan kembali ritual adat,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama agar warisan leluhur tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Mengulur Naga yakni, pelepasan perahu simbolis menuju laut sebagai lambang membuang segala bala dan malapetaka agar kampung serta masyarakat senantiasa diberikan keselamatan.
Prosesi Mengulur Perahu Naga menjadi simbol doa dan harapan masyarakat. Agar seluruh warga selalu diberikan keselamatan, dijauhkan dari musibah serta kehidupan masyarakat tetap harmonis.
Sementara itu, Kepala Desa Sekerat, Sunan Dhika mengatakan, selama masyarakat masih memiliki semangat melestarikan adat, tradisi ini akan terus hidup dan menjadi kebanggaan Desa Sekerat.
Belian Semegah merupakan ritual adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Sekerat selama bergenerasi. Tradisi tersebut bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan ritual sakral yang mengandung nilai spiritual, kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur.
Seluruh rangkaian Belian Semegah dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam dengan tahapan prosesi yang berbeda setiap harinya. Setiap ritual memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan hubungan manusia, alam dan Sang Pencipta.
“Belian Semegah bukan hanya agenda tahunan, tetapi amanah dari para leluhur yang wajib kami jaga,” tuturnya.
Editor: Erwin
Minggu, 12/07/2026
Proses ritual mengulur naga ke laut menjadi agenda sakral dalam pelaksanaan event festival sekerat nusantara. (Foto: Dok.Dispar Kutim)
TERPOPULER