Kamis, 10/09/2026

Kemarau Panjang, Petani dan Pekebun di Desa Embalut Tenggarong Seberang Alih Profesi jadi Pendulang Emas 

Kamis, 10/09/2026

Warga Kecamatan Tenggarong mencari emas di Sungi Mahakam. (Dok. Tangkapan Layar/Instagram)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Kemarau Panjang, Petani dan Pekebun di Desa Embalut Tenggarong Seberang Alih Profesi jadi Pendulang Emas 

Kamis, 10/09/2026

logo

Warga Kecamatan Tenggarong mencari emas di Sungi Mahakam. (Dok. Tangkapan Layar/Instagram)

Penulis: Muhammad Anshori

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Dampak musim kemarau panjang di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, justru memicu aktivitas ekonomi baru. Sebanyak 100 hingga 150 warga di kecamatan tersebut setiap hari beralih profesi menjadi pendulang emas dadakan di bantaran Sungai Mahakam, tepatnya di Desa Embalut.

Penyusutan drastis debit air sungai terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim) ini dimanfaatkan warga Desa Embalut untuk mengais butiran emas di area bantaran yang kini mengering. Berbekal alat tradisional seperti panci dan wajan dapur, warga dari Desa Embalut dan sekitarnya terpantau memadati lokasi sejak pagi hingga menjelang malam hari.

Kepala Desa Embalut Yahya menjelaskan,  fenomena musiman ini selalu terjadi setiap tahun saat kemarau tiba. Penurunan volume air memudahkan masyarakat menjangkau titik-titik pasir yang diduga kuat mengandung kandungan logam mulia. "Aktivitas mendulang ini skalanya kecil-kecilan. Warga kami turun ke Sungai Mahakam hanya bermodalkan panci atau wan untuk menyaring pasir," kata Yahya kepada Korankaltim.com Kamis (10/9/2026).

Pendapatan yang diperoleh para pendulang sangat fluktuatif. Kendati ada warga yang tidak mendapatkan hasil sama sekali, beberapa di antaranya justru berhasil meraup keuntungan yang signifikan dalam waktu singkat. "Hasilnya bervariasi. Ada yang hanya membawa pulang butiran emas halus seperti pasir, tetapi kemarin ada juga warga yang beruntung dan berhasil mengumpulkan hingga enam gram emas," ungkapnya.

Bagi mayoritas warga, aktivitas mendulang ini menjadi katup penyelamat ekonomi keluarga. Pasalnya, cuaca panas ekstrem membuat lahan pertanian dan perkebunan di wilayah tersebut kering dan tidak dapat digarap. Pendulangan emas dinilai sebagai alternatif penghasilan yang sangat membantu ditengah minimnya lapangan pekerjaan saat ini.

"Saat ini banyak warga yang tidak bisa bertani atau berkebun karena faktor cuaca. Mungkin ini cara Tuhan memberikan jalan rezeki lain bagi masyarakat kami," jelas Yahya

Meski menjadi stimulus ekonomi yang menjanjikan bagi warga, Pemerintah Desa Embalut tetap memberikan atensi khusus pada aspek keselamatan kerja.

Karakteristik medan sungai yang tidak menentu dinilai menyimpan risiko kecelakaan bagi para pendulang. Pihak pemerintah desa secara berkala terus melakukan monitoring dan mengeluarkan larangan keras bagi warga agar tidak melibatkan anak-anak di area kerja tersebut.
"Kami selalu mengimbau warga agar mengutamakan keselamatan dan ekstra hati-hati. Kami juga menegaskan agar jangan sampai ada yang membawa anak-anak ke lokasi pendulangan," tegasnya.

Aktivitas perburuan emas tradisional di bantaran Sungai Mahakam ini diprediksi akan terus mengalami peningkatan intensitas selama debit air sungai belum kembali ke volume normal.

Editor: Aspian Nur

Kemarau Panjang, Petani dan Pekebun di Desa Embalut Tenggarong Seberang Alih Profesi jadi Pendulang Emas 

Kamis, 10/09/2026

Warga Kecamatan Tenggarong mencari emas di Sungi Mahakam. (Dok. Tangkapan Layar/Instagram)

Share

Berita Terkait