Kamis, 18/09/2025
Kamis, 18/09/2025
Sultan Kutai saat melakukan prosesi beluluh. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
Kamis, 18/09/2025

Sultan Kutai saat melakukan prosesi beluluh. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Aura pesta adat Erau Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mulai dirasakan masyarakat Tenggarong.
Berbagai prosesi persiapan mulai digelar, diantaranya upacara Beluluh bagi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin di Kedaton Kesultanan, Kamis (18/9/2025) hari ini.
Pesta Adat Erau akan dibuka resmi 21 September hari Minggu nanti, berlangsung sampai sepekan ke depan, dipusatkan di Kota Raja.
Upacara adat beluluh Sultan ini dihadiri Asisten III Setkab Kukar Dafip Haryanto unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Perangkat Daerah, para kerabat kesultanan serta tokoh masyarakat tamu undangan lainnya.
Kerabat Kesultanan yang juga Juru Bicara Sultan Heriansyah menjelaskan, beluluh menandai dimulainya rangkaian Erau, yang bermakna pembersihan bagi Sultan serta memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Maknanya pembersihan diri dan Sultan berharap memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya pelaksanaan pesta adat Erau semua masyarakat diberikan keberkahan dan keselamatan,” papar Heriansyah kepada Korankaltim.com.
Kerabat Kesultanan yang menyandang gelar Pangeran Noto Negoro ini menjelaskan proses upacara Beluluh dikerjakan oleh seorang Belian, sebutan untuk tokoh laki-laki spritual Adat Kutai. Kemudian Sultan beranjak menuju balai yang berada di tengah Kedaton. Balai tiga tingkat yang kemudian diduduki Sultan tersebut terbuat dari haor atau bambu kuning yang memiliki 41 kaki. Sambil duduk diatas Balai dan diiringi doa, Sultan diberikan tempong tawar dan air bunga oleh Dewa (sebutan untuk tokoh wanita spritual Adat Kutai).
Sesuai adat yang sudah ada, setelah menjalani Beluluh, Sultan tidak menginjak tanah secara langsung hingga nanti pelaksanaan Erau berakhir. Di sela-sela beluluh, para pejabat daerah beserta unsur Forkopimda didaulat melakukan prosesi ‘Ketikai Lepas’ yang bermakna melepaskan segala unsur yang tidak baik.
“Setelah beluluh dilakukan, kemudian acara ditutup dengan do`a yang dipimpin seorang kerabat kesultanan lalu dilanjutkan dengan makan bersama,” tutup Heriansyah.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 18/09/2025
Sultan Kutai saat melakukan prosesi beluluh. (Foto: Heri/Korankaltim.com)
TERPOPULER