Selasa, 21/07/2026
Selasa, 21/07/2026
Kebakaran lahan yang terjadi di Samarinda beberapa waktu lalu. (Foto: Dok.Info Taruna Samarinda)
Selasa, 21/07/2026

Kebakaran lahan yang terjadi di Samarinda beberapa waktu lalu. (Foto: Dok.Info Taruna Samarinda)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Kota Samarinda meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebakaran permukiman, serta ancaman kekeringan.
Langkah antisipasi diperkuat menyusul prediksi menguatnya fenomena El Nino pada Agustus 2026, berdasarkan koordinasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda.
Kepala BMKG Samarinda, Reza Arfian Noor, menyebut tren penurunan curah hujan mulai terjadi sejak April hingga Mei. Memasuki Juni, sekitar 40 persen wilayah Kalimantan Timur telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut meluas pada Juli dan diperkirakan mencapai sekitar 90 persen wilayah pada Agustus.
“Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang dapat ditimbulkan,” ujar Reza, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, hasil pemantauan atmosfer menunjukkan adanya kecenderungan menuju fase El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat pada Agustus. BMKG juga memprakirakan curah hujan di Samarinda pada periode 20–31 Juli hanya berkisar 10–50 milimeter atau berada pada kategori rendah sehingga berpotensi memengaruhi ketersediaan air.
“Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang berpotensi memicu kebakaran, serta selalu mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG,” katanya.
Menindaklanjuti prakiraan tersebut, BPBD Samarinda meningkatkan kesiapsiagaan melalui pemantauan wilayah rawan, penguatan koordinasi lintas instansi, dan optimalisasi relawan kebencanaan.
Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Samarinda, Hamzah, mengatakan pihaknya terus menyesuaikan langkah mitigasi berdasarkan perkembangan cuaca yang disampaikan BMKG.
“Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan karena musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang. Masyarakat kami imbau tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah sembarangan karena risiko penyebaran api jauh lebih tinggi,” ujarnya.
BPBD mencatat sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 telah terjadi 26 kejadian kebakaran lahan dengan luas terdampak sekitar 122 ribu meter persegi. Kecamatan Samarinda Utara, Sambutan, dan Palaran menjadi wilayah prioritas pemantauan karena memiliki tingkat kerawanan karhutla lebih tinggi.
Meski demikian, BPBD mengingatkan seluruh masyarakat tetap waspada dan berperan aktif mencegah kebakaran selama musim kemarau.
Editor: Erwin
Selasa, 21/07/2026
Kebakaran lahan yang terjadi di Samarinda beberapa waktu lalu. (Foto: Dok.Info Taruna Samarinda)
TERPOPULER