Rabu, 22/07/2026
Rabu, 22/07/2026
Budidaya ikan tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat meningkatkan produksi perikanan air tawar sekaligus mendukung perekonomian kampung. (Foto: Julika/Korankaltim.com)
Rabu, 22/07/2026

Budidaya ikan tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat meningkatkan produksi perikanan air tawar sekaligus mendukung perekonomian kampung. (Foto: Julika/Korankaltim.com)
Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Budidaya ikan menggunakan sistem keramba jaring apung di Sungai Mahakam mulai menunjukkan hasil menggembirakan di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).
Meski berhasil mencatat panen perdana dengan produksi lebih dari satu ton, kelompok pembudidaya kini menghadapi tantangan berupa keterbatasan bantuan modal dan kualitas bibit ikan.
Kelompok Tani Jaring Apung Lauk Itah di Kampung Mamahak Ulu berhasil melakukan panen perdana pada 2025 setelah sekitar lima bulan masa pemeliharaan. Hasil panen tersebut dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMKA) sebelum didistribusikan ke Pasar Ujoh Bilang.
Anggota Kelompok Tani Jaring Apung Lauk Itah Restiana mengatakan, usaha budidaya ikan tersebut berawal dari bantuan pemerintah kampung berupa bibit ikan dan pakan. Hasil penjualan panen kemudian diputar kembali sebagai modal untuk membeli bibit baru agar usaha tetap berjalan.
"Awalnya pemerintah kampung memberikan bantuan bibit ikan dan pakan. Setelah panen kami jual, hasilnya dipakai lagi untuk membeli bibit baru agar budidaya ini terus berlanjut," kata Restiana, Rabu (22/7/2026).
Produksi panen berasal dari sekitar 20 keramba yang tersebar di sejumlah titik di Kampung Mamahak Ulu. Dalam sekali panen, setiap keramba mampu menghasilkan lebih dari 10 kilogram ikan sehingga total produksi diperkirakan telah melampaui satu ton.
Namun saat ini kelompok tani tidak lagi memperoleh bantuan bibit maupun pakan dari pemerintah kampung. Seluruh kebutuhan operasional kini ditanggung secara mandiri oleh anggota kelompok. Selain persoalan modal, kualitas bibit juga menjadi tantangan dalam pengembangan budidaya ikan. Ia mengungkapkan beberapa keramba sempat mengalami gagal panen karena bibit yang ditebar tidak memiliki kualitas yang baik.
"Kendala kami sekarang kualitas bibit. Beberapa keramba pernah gagal panen karena bibitnya kurang bagus, sementara bantuan bibit dan pakan juga sudah tidak ada lagi sehingga kami harus menanggung sendiri biaya operasional," sebut Restiana.
Meski menghadapi berbagai kendala, kelompok tani tetap berkomitmen melanjutkan budidaya ikan sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat.
Mereka berharap adanya dukungan pemerintah, terutama dalam penyediaan bibit berkualitas dan penguatan permodalan, agar produksi ikan air tawar di Mahakam Ulu dapat terus meningkat dan memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Editor: Aspian Nur
Rabu, 22/07/2026
Budidaya ikan tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat meningkatkan produksi perikanan air tawar sekaligus mendukung perekonomian kampung. (Foto: Julika/Korankaltim.com)
TERPOPULER