Kamis, 07/03/2024
Kamis, 07/03/2024
Penumpang speed boat dari ibu kota Mahulu menuju Long Pahangai saat istirahat makan di warung makan terapung Desa Long Nyan. (Foto: Julika)
Kamis, 07/03/2024

Penumpang speed boat dari ibu kota Mahulu menuju Long Pahangai saat istirahat makan di warung makan terapung Desa Long Nyan. (Foto: Julika)
Penulis: Julika
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Transportasi air berupa kapal cepat atau speed boat masih menjadi pilihan utama masyarakat Mahakam Ulu (Mahulu) kalau ingin bepergian ke Kutai Barat (Kubar) atau Kota Samarinda bahkan ke wilayah perbatasan Sarawak, Malayasia yaitu Kecamatan Long Pahangai dan Kecamatan Long Apari.
Di Mahulu saat ini ada 10 sampai 13 speed boat yang beroperasi dari ibu kota Mahulu yaitu Ujoh Bilang menuju dua kecamatan tersebut, sementara yang melintasi sungai mahakam menuju Kubar ada sekitar 25 speed boat yang sudah memiliki sertifikasi dari Dinas Perhubungan (Dishub) Mahulu.
Lukas, motoris speed boat ke daerah perbatasan mengaku memilih membawa penumpang ke Long Pahangai dan Long Apari. “Karena kalau ke Tering di Kutai Barat saya sudah seniornya,” ujar Lukas kepada Korankaltim.com Kamis (7/3/2024) hari ini.
Akses menuju Long Pahangai dan Long Apari harus melewati riam dan hanya memiliki satu jalur saja yaitu sungai dan dengan pengalaman selama 20 tahun jadi motoris Lukas merasa memiliki keseruan tersendiri saat melintas diatas riam tersebut. “Penumpang memerlukan kami dan motoris yang ke wilayah itu tak seberapa. Bisa dihitung jari,” ucap Lukas.
Perjalanan dari Ujoh Bilang ke Long Pahangai memakan waktu tiga jam 30 menit. “Tapi kalau kondisi sungainya lagi banjir,” imbuhnya.
Biasanya sebelum berangkat ke Long Pahangai atau Long Apari, penumpang terlebih dahulu mengisi daftar penumpang dengan pihak Dishub Mahulu di pelabuhan. “Setelah daftar, nanti penumpangnya dibagi-bagi life jacket,” jelasnya.
Kalau jumlah penumpang sudah mencapai 25 orang maka speed boat pun melakukan perjalanan menuju perbatasan. “Jam keberangkatannya tidak tentu, tergantung banyaknya penumpang,” sebut Lukas.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 30 sampai 45 menit speed boat istirahat dan penumpang makan di warung terapung atau di Kampung Long Nyan terlebih dahulu. “Biasanya begitu karena kan mau lewat riam,” jelasnya.
Ada enam jenis riam yang akan diterjanginya yaitu Riam Haloq, Riam Uang, Riam Udang, Riam Batu Berang, Riam Batu Kelo dan Riam Panjang. “Dari enam riam ini yang paling rawan itu Riam Udang sama Riam Panjang,” papar Lukas.
Naik speed boat menuju daerah perbatasan diakuinya memiliki sensasi tersendiri karena saat menanjak riam, semua penumpang bahkan dirinya selalu dibuat spot jantung.
Untuk menghilangkan ketegangan penumpang biasanya berteriak lepas. “Sudah jadi kebiasaan. Apalagi orang yang memang biasa milir mudik lewati riam,” tambahnya.
Keseruan lain yang dirasakan adalah keindahan alam yang sangat memanjakan mata. “Karena itu saya lebih memilih ke ulu dari pada ke ilir. Banyak pemandangan yang bisa dinikmati kalau di ulu,” ungkap Lukas.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 07/03/2024
Penumpang speed boat dari ibu kota Mahulu menuju Long Pahangai saat istirahat makan di warung makan terapung Desa Long Nyan. (Foto: Julika)
TERPOPULER