Prakirawan BMKG Henu Aulia Zuardi kepada Korankaltim.com Kamis (4/12/2025) hari ini menjelaskan, berdasarkan rekaman klimatologis satu dekade terakhir, tinggi gelombang di Selat Makassar pada periode Desember–Februari umumnya berada pada kisaran 0,5 hingga 0,75 meter.
"Ini bukan pengaruh dari siklon Monsun, tapi lebih ke yang biasa kami sebut periode DJF atau Desember, Januari, Februari," jelas Henu.
Selain itu fenomena bulan purnama perigee pada 4–6 Desember diprakirakan turut berkontribusi terhadap peningkatan muka air laut. Kondisi itu dapat memicu banjir rob di sejumlah pesisir Kaltim seperti Balikpapan, Penajam Paser Utara serta pesisir Kutai Kartanegara.
“Ketika jarak Bulan dan Bumi berada pada titik terdekatnya, muka air laut biasanya naik. Jika bertepatan dengan hujan lebat dan angin kencang, potensi banjir rob akan semakin tinggi,” ungkap Henu lagi.
Selat Makassar secara klimatologis tidak terlalu terpengaruh siklon monsun barat, namun aktivitas awan konvektif dinilai dapat memicu perubahan cuaca ekstrem di Kaltim. Desember ini aktivitas hujan juga diperkirakan meningkat. Curah hujan kategori lebat dapat berkisar 50–100 mm, sedangkan kategori sangat lebat berada pada 100–150 mm.
"Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Mahakam Ulu, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Berau, dan sebagian Paser," paparnya
Sementara terkait potensi angin puting beliung, Henu mengatakan fenomena itu lebih sering muncul pada masa peralihan musim, seperti September-Oktober atau Maret-April.
Namun dengan tumbuhnya awan kumolonimbus, Heru meminta masyarakat tetap waspada dengan potensi angin kencang juga badai petir. Potensi ini diperkirakan lebih meningkat pada awal tahun depan.
Editor: Aspian Nur