Hartono menjelaskan, percepatan RGM memerlukan sinergitas antar kementerian,
lembaga dan masyarakat yang bertujuan tak hanya pemulihan lingkungan, tetapi
juga dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Untuk itu BRGM bekerjasama dengan perguruan tinggi menerapkan metode pola
tanam smart silvofishery, hasil penelitian oleh Universitas pada lahan tambak
yang dimiliki masyarakat.
"Hasilnya, ekosistem mangrove terjaga, ekonomi masyarakat bertambah," kata
Hartono melalui keterangan tertulis yang diterima Korankaltim.com Sabtu
(7/11/2023).
Konsep smart silvofishery mengedepankan empat aspek penting yaitu pertama
edukasi dan sosialisasi untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan
masyarakat, kedua pembuatan demplot untuk peningkatan SDA yang sustainable,
ketiga penguatan ekonomi kemandirian desa berbasis Sumber Daya Alam (SDA)
dengan mendorong UMKM memiliki izin, pendampingan sertifikasi halal dan
pemasaran melalui pameran desa.
Yang terakhir adalah legal policy pengelolaan SDA yaitu pemetaan kapasitas
hukum sustainable ekologi dan ekonomi termasuk pembuatan dokumen NSPK dan
penyusunan peraturan desa.
"Penerapan smart silvofishery memberikan beberapa keuntungan, antara lain,
panen tambahan berupa jenis ikan lokal yang memiliki nilai ekonomi,
filterisasi air yang ada di dalam tambak guna menjaga kualitas air, suhu, pH
dan juga kecerahan air," ujar Hartono.
Serasah mangrove yang ada di dalam tambak berfungsi sebagai sumber nutrien
pada tambak. Menjaga fluktuasi kualitas air yang sesuai untuk budidaya udang.
" Sehingga dengan adanya mangrove, ongkos produksi dapat ditekan jauh lebih
murah," jelasnya.
Sementara Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas
Mulawarman Prof Esti Handayani Hardi menambahkan, penanaman mangrove melalui
metode silvofishery bisa meningkatkan panen hingga 40 kilogram per hektar.
Sementara untuk budidaya tanpa asosiasi dengan mangrove hanya sekitar 12
kilogram hingga 14 kilogram per hektar.
"Tidak hanya pada produksi, dari meat quality atau daging yang dihasilkan
mengandung asam amino yang tinggi kolesterol yang lebih rendah kemudian udang
- udang yang terinfeksi pathogen lebih rendah kemudian kelulusan hidup ikan
ataupun udang yang hidup di tambak akan meningkat," kata Esti.
Manfaat dari kegiatan silvofishery dirasakan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH)
Lembu Lestari yang berlokasi di Desa Muara Badak, Kutai Kartanegara.
Heriyadi, Ketua KTH Lembu Lestari mengatakan hasil panen ikan meningkat
setelah adanya metode silvofishery. Beberapa waktu lalu, dirinya berhasil
panen 8 pikul ikan atau setara dengan 800 kilogram. "Dan mendapatkan
keuntungan sebesar 13 - 14 kg,"ujar Heriyadi.
Wahjudi Wardojo, Penasihat Senior Menteri KLHK yang mendampingi Hartono
mengatakan, metode penanaman melalui silvofishery selain perbaikan hutan
mangrove, juga mampu menghasilkan produk - produk perikanan.
Tetapi yang menjadi tantangan kedepan adalah perlunya regulasi perundangan
yang menjamin mangrove ini akan lestari. "BRGM perlu menggandeng kementerian
dan lembaga seperti KLHK, KKP, ATR/BPN dalam pelaksanaan percepatan
rehabilitasi mangrove itu sendiri," kata Wahjudi. (*)