Sabtu, 07/10/2023
Sabtu, 07/10/2023
Warga menunjukkan hasil budidaya kepiting hasil dari penerapan metode silvofishery pada tambak masyarakat. (Doc BRGM)
Sabtu, 07/10/2023

Warga menunjukkan hasil budidaya kepiting hasil dari penerapan metode silvofishery pada tambak masyarakat. (Doc BRGM)
Penulis : La Eko
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Percepatan rehabilitasi mangrove di Kalimantan Timur ditinjau Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Hartono Rawiraatmadja di Kalimantan Timur dan berlangsung tiga hari sejak 4 Oktober hingga 6 Oktober kemarin.
Hartono menjelaskan, percepatan RGM memerlukan sinergitas antar kementerian, lembaga dan masyarakat yang bertujuan tak hanya pemulihan lingkungan, tetapi juga dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Untuk itu BRGM bekerjasama dengan perguruan tinggi menerapkan metode pola tanam smart silvofishery, hasil penelitian oleh Universitas pada lahan tambak yang dimiliki masyarakat.
"Hasilnya, ekosistem mangrove terjaga, ekonomi masyarakat bertambah," kata Hartono melalui keterangan tertulis yang diterima Korankaltim.com Sabtu (7/11/2023).
Konsep smart silvofishery mengedepankan empat aspek penting yaitu pertama edukasi dan sosialisasi untuk memperkaya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, kedua pembuatan demplot untuk peningkatan SDA yang sustainable, ketiga penguatan ekonomi kemandirian desa berbasis Sumber Daya Alam (SDA) dengan mendorong UMKM memiliki izin, pendampingan sertifikasi halal dan pemasaran melalui pameran desa.
Yang terakhir adalah legal policy pengelolaan SDA yaitu pemetaan kapasitas hukum sustainable ekologi dan ekonomi termasuk pembuatan dokumen NSPK dan penyusunan peraturan desa.
"Penerapan smart silvofishery memberikan beberapa keuntungan, antara lain, panen tambahan berupa jenis ikan lokal yang memiliki nilai ekonomi, filterisasi air yang ada di dalam tambak guna menjaga kualitas air, suhu, pH dan juga kecerahan air," ujar Hartono.
Serasah mangrove yang ada di dalam tambak berfungsi sebagai sumber nutrien pada tambak. Menjaga fluktuasi kualitas air yang sesuai untuk budidaya udang. " Sehingga dengan adanya mangrove, ongkos produksi dapat ditekan jauh lebih murah," jelasnya.
Sementara Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mulawarman Prof Esti Handayani Hardi menambahkan, penanaman mangrove melalui metode silvofishery bisa meningkatkan panen hingga 40 kilogram per hektar. Sementara untuk budidaya tanpa asosiasi dengan mangrove hanya sekitar 12 kilogram hingga 14 kilogram per hektar.
"Tidak hanya pada produksi, dari meat quality atau daging yang dihasilkan mengandung asam amino yang tinggi kolesterol yang lebih rendah kemudian udang - udang yang terinfeksi pathogen lebih rendah kemudian kelulusan hidup ikan ataupun udang yang hidup di tambak akan meningkat," kata Esti.
Manfaat dari kegiatan silvofishery dirasakan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Lembu Lestari yang berlokasi di Desa Muara Badak, Kutai Kartanegara.
Heriyadi, Ketua KTH Lembu Lestari mengatakan hasil panen ikan meningkat setelah adanya metode silvofishery. Beberapa waktu lalu, dirinya berhasil panen 8 pikul ikan atau setara dengan 800 kilogram. "Dan mendapatkan keuntungan sebesar 13 - 14 kg,"ujar Heriyadi.
Wahjudi Wardojo, Penasihat Senior Menteri KLHK yang mendampingi Hartono mengatakan, metode penanaman melalui silvofishery selain perbaikan hutan mangrove, juga mampu menghasilkan produk - produk perikanan.
Tetapi yang menjadi tantangan kedepan adalah perlunya regulasi perundangan yang menjamin mangrove ini akan lestari. "BRGM perlu menggandeng kementerian dan lembaga seperti KLHK, KKP, ATR/BPN dalam pelaksanaan percepatan rehabilitasi mangrove itu sendiri," kata Wahjudi. (*)
Sabtu, 07/10/2023
Warga menunjukkan hasil budidaya kepiting hasil dari penerapan metode silvofishery pada tambak masyarakat. (Doc BRGM)
TERPOPULER