Minggu, 20/09/2026
Minggu, 20/09/2026
Kepala BMKG Kelas II Samarinda Riza Arian Noor saat menjelaskan terkait AWOS diruang pantau BMKG Samarinda. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)
Minggu, 20/09/2026

Kepala BMKG Kelas II Samarinda Riza Arian Noor saat menjelaskan terkait AWOS diruang pantau BMKG Samarinda. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sekitar Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda membuat kondisi udara di kawasan bandara dipantau lebih ketat.
Asap kebakaran yang berpadu dengan kabut pagi sempat menurunkan jarak pandang hingga sekitar 50 meter.
Meski demikian, kondisi tersebut belum sampai mengganggu aktivitas penerbangan secara signifikan. Pemantauan cuaca dilakukan secara intensif selama 24 jam untuk memastikan setiap perubahan kondisi atmosfer dapat segera diketahui dan menjadi dasar informasi bagi keselamatan penerbangan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor mengatakan kebakaran terjadi di sisi barat runway dalam beberapa hari terakhir.
“Memang hampir tiga sampai empat hari ini terjadi kebakaran di sisi runway sebelah barat. Artinya kebakaran ini walaupun anginnya tidak langsung mengarah ke runway, karena visibilitasnya masih cukup bagus sehingga operasi penerbangan secara umum tidak banyak terganggu,” ujar Riza.
Menurutnya, kondisi paling berisiko terjadi pada pagi hari ketika kabut yang menjadi karakteristik kawasan bandara bercampur dengan asap kebakaran lahan.
“Pagi hari itu visibility-nya cukup pendek, paling pendek sampai 50 meter. Tapi jam 8 atau jam 9 sudah mulai terbuka lagi sehingga aktivitas di bandara bisa berjalan normal,” katanya.
Riza menjelaskan, kabut pagi sebenarnya tetap dapat muncul meski tidak ada kebakaran. Namun, keberadaan asap karhutla membuat jarak pandang menjadi semakin berkurang.
“Kalau pagi itu percampuran yang ada. Karena memang karakteristik bandara di APT Pranoto ini, walaupun tidak ada asap juga biasanya pagi memang berkabut,” tuturnya.
“Ditambah lagi dengan adanya pembakaran-pembakaran di sekitar bandara sehingga kabut itu tercampur dengan asap dan mengurangi jarak pandang atau visibilitas,” sambungnya.
Meski sempat turun drastis, jarak pandang kembali membaik pada pagi menjelang siang. Selama sepekan terakhir, visibility pada pukul 08.00 hingga 09.00 WITA disebut telah berada di atas lima kilometer sehingga penerbangan tetap dapat beroperasi.
Untuk memastikan kondisi cuaca terpantau setiap saat, Stasiun Meteorologi APT Pranoto menggunakan Automatic Weather Observation System (AWOS). Perangkat tersebut ditempatkan di tiga titik ujung runway dan bekerja otomatis selama 24 jam.
“Peralatan ini secara otomatis memberikan informasi arah dan kecepatan angin, bagaimana perawanannya, bagaimana visibility-nya, bagaimana suhunya. Semuanya otomatis real time setiap satu menit update,” jelas Riza.
Informasi dari AWOS menjadi bagian penting dalam layanan meteorologi penerbangan, yang secara rutin diperbarui setiap 30 menit untuk mendukung keselamatan dan kelancaran operasional pesawat.
“Di sini tugas fungsi utamanya adalah layanan penerbangan. Kita memberikan informasi cuaca untuk keselamatan penerbangan,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Minggu, 20/09/2026
Kepala BMKG Kelas II Samarinda Riza Arian Noor saat menjelaskan terkait AWOS diruang pantau BMKG Samarinda. (Foto: Adnan Abdul/Korankaltim.com)
TERPOPULER