Senin, 06/07/2026
Senin, 06/07/2026
Pompa air yang berada di SMPN 1 Penajam. (Foto: Dinda/Korankaltim.com)
Senin, 06/07/2026

Pompa air yang berada di SMPN 1 Penajam. (Foto: Dinda/Korankaltim.com)
Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM - SMPN 1 Penajam di Penajam Paser Utara kembali menghadapi persoalan banjir yang kerap mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), mewacanakan relokasi sekolah sebagai solusi jangka panjang, setelah rencana peningkatan bangunan terkendala akses dan pembiayaan.
Kepala SMPN 1 Penajam Budi Lestarianto mengatakan, rencana peningkatan gedung sebenarnya telah lama dibahas. Bangunan tertua yang berada di sisi sekolah dinilai perlu ditingkatkan agar ruang belajar tidak lagi terdampak genangan saat hujan deras.
"Rencana wacana itu sudah lama. Kalau melihat kondisi SMP 1 ini gedung yang paling lama itu mau ditingkat," kata Budi saat diwawancarai Korankaltim Senin (6/7/2026).
Namun rencana tersebut sulit direalisasikan karena akses menuju lokasi sekolah tidak memungkinkan dilalui kendaraan berat. Kawasan di sekitar sekolah telah dipenuhi permukiman warga sehingga mobilisasi alat dan material pembangunan menjadi sangat terbatas.
"Kendala kami aksesnya tidak ada. Akses masuk alat beratnya tidak ada karena kiri-kanan sudah penuh perumahan. Jadi kalau dipaksakan, otomatis gedung yang sudah tingkat ini harus dihancurkan," jelasnya.
Selain persoalan akses, pembangunan juga terkendala skema pembiayaan. Berdasarkan koordinasi dengan bidang Sarana dan Prasarana Disdikpora, pembangunan SMPN 1 Penajam hanya memungkinkan dilakukan melalui skema anggaran multiyears atau tahun jamak. Tanpa skema tersebut, proyek dinilai berisiko terhenti di tengah jalan karena kondisi anggaran yang terbatas.
Sebagai alternatif penyelesaian, Disdikpora mewacanakan relokasi sekolah ke lahan milik pemerintah daerah yang dinilai lebih representatif.
"Kemarin ada wacana dari Dinas Pendidikan, baik dari Pak Mukhtar, itu relokasi. Direlokasi ke tanah yang miliknya negara atau pemerintah kabupaten. Salah satunya itu Lapangan Nenang yang di depan SD, atau opsi kedua di jalan masuk Pantai Amal," ungkap Budi.
Hingga kini, pihak sekolah masih menunggu keputusan pemerintah terkait kepastian anggaran dan realisasi rencana relokasi tersebut.
Sementara menunggu solusi permanen, SMPN 1 Penajam mengandalkan dua unit pompa air bantuan Disdikpora untuk mempercepat penyedotan genangan. Meski cukup membantu, pengoperasiannya belum optimal karena belum didukung bak penampungan air atau sistem drainase yang memadai.
Banjir yang terjadi berulang kali berdampak langsung terhadap proses belajar mengajar sekitar 507 siswa. Apabila genangan air berlangsung lama dan sulit dikendalikan, pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa demi menjaga keselamatan dan kelancaran pembelajaran.
"Kalau banjirnya lama, ya terus terang kita pulangkan anak-anak. Kalau tidak, malah menambah beban guru-guru karena anak-anak usia segini susah dikendalikan. Namanya anak-anak, pasti main air. Jadi kalau banjirnya terlalu besar, ya otomatis kita pulangkan dan memberi tahu orang tua untuk menjemput," tutup Budi.
Editor: Aspian Nur
Senin, 06/07/2026
Pompa air yang berada di SMPN 1 Penajam. (Foto: Dinda/Korankaltim.com)
TERPOPULER