Senin, 24/11/2025
Senin, 24/11/2025
Senin, 24/11/2025

Penulis: Aldhie Alzanuar
(Pemenang Lomba Feature Diarpus Kukar dalam Festival Memory Of Yupa Muara Kaman)
“Jiwanya di sini, Pak. Tapi jasadnya di Jakarta.”
Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Pak Aji, seorang pria paruh baya yang mendedikasikan dirinya sebagai penjaga ingatan di Muara Kaman. Kami berdiri di dekat Lesong Batu, sebuah balok andesit kuno yang tergeletak hening di tanah, diyakini sebagai "dapur" tempat para Brahmana menempa tugu-tugu Yupa ribuan tahun lalu.
Pak Aji menatap lurus ke arah cungkup (bangunan pelindung) situs yang baru saja saya kunjungi. Raut wajahnya sulit diartikan. Ia seolah sedang menjaga sebuah rumah megah yang isinya telah lama dirampas.
“Orang-orang datang mencari keagungan Mulawarman,” lanjutnya. “Mereka membaca cerita tentang dua puluh ribu ekor sapi. Tapi yang mereka temukan di cungkup itu? Hanya tiruan,” katanya, merujuk pada fakta bahwa ketujuh Yupa yang ada di situs Muara Kaman saat ini hanyalah replika.
Kisah 20.000 sapi adalah mitos pendiri kawasan ini. Sebuah legenda yang, tidak seperti lampor terbang, ternyata benar-benar tertulis di batu. Prasasti Muarakaman II (D.2b) mencatat bagaimana Maharaja Mulawarman, di sebuah lapangan suci bernama Waprakeswara, menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Bagi Pak Aji dan warga Muara Kaman, kisah itu adalah harga diri mereka. Bukti bahwa 1.600 tahun lalu, tempat ini adalah pusat peradaban yang makmur, bukan sekadar pedalaman hutan belantara. Namun, ia menyaksikan generasi demi generasi wisatawan datang dan pergi dengan perasaan yang sama seperti saya satu jam sebelumnya: sedikit kecewa.
Pukul sebelas siang, saya tiba di Muara Kaman Ulu. Perjalanan darat dari Samarinda memakan waktu berjam-jam, melintasi jalan provinsi yang di beberapa titik kondisinya cukup memprihatinkan. Udara di hulu Sungai Mahakam terasa berat dan basah, membawa aroma tanah lembap dan riak air cokelat yang tak pernah berhenti mengalir.
Saya datang untuk satu hal: melihat "akta kelahiran" Indonesia. Titik nol yang menandai akhir zaman prasejarah dan awal zaman sejarah kita.
Perlengkapan sudah siap. Ponsel, buku catatan, dan pena siap menangkap cerita. Namun, langkah mantap saya harus terhambat oleh sebuah rintangan formalitas yang tidak saya duga.
Rintangan itu bukanlah seorang satpam yang melarang saya masuk. Rintangan itu adalah
kenyataan.
Saat saya melangkah masuk ke cungkup situs Prasasti Yupa, jantung saya berdebar. Dan kemudian, berhenti. Tujuh tugu batu itu berdiri di sana, gagah dalam diamnya. Tapi ada yang salah. Goresannya terlalu sempurna. Warnanya terlalu seragam. Ini adalah semen, bukan batu andesit purba. Ini adalah replika.
Saya tertegun. Saya datang ribuan kilometer untuk mencari batu bersejarah itu, dan yang saya temukan adalah salinannya. Seluruh rencana reportase saya seakan buyar. Saya merasakan anti-klimaks yang aneh. Sejarah itu terasa hadir di udara, namun jasadnya telah lama pergi.
Saya duduk di luar cungkup, mengisi media sosial dengan foto-foto replika. Persis seperti wisatawan lain yang kecewa. Saya harus mencari narasumber. Di sinilah saya diberitahu untuk mencari Pak Aji, yang sedang berada di situs Lesong Batu tak jauh dari sana.
Sambil berjalan ke Lesong Batu, saya mengamati desa. Desa Muara Kaman Ulu sebenarnya hidup. Ada tradisi adat Cerau, ada kuliner kerupuk ikan haruan. Tapi bayang-bayang sejarah besar itu terasa membebani. Mereka memiliki potensi wisata budaya yang luar biasa , namun terhalang oleh dua hal: infrastruktur jalan yang buruk dan fakta bahwa artefak terpenting mereka ada di tempat lain.
Pak Aji, tidak seperti kepala stasiun di cerita referensi, mau menerima saya. Ia sedang duduk di dekat Lesong Batu, seolah sedang menjaganya.
“Jiwanya di sini, Pak. Tapi jasadnya di Jakarta,” katanya, mengulang kalimat pembuka yang menusuk itu.
Saya bertanya padanya, apa harapan warga di sini.
“Kami tentu berharap yang asli bisa kembali ke Museum Yupa Muara Kaman,” katanya, menyuarakan aspirasi resmi yang juga diutarakan camat setempat. “Agar kami tidak hanya menjaga rumahnya yang kosong.”
Dia benar. Seluruh tujuh Prasasti Yupa yang asli, yang ditemukan pada 1879 dan 1940 , kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Saat berbincang dengan Pak Aji, saya membuka buku catatan saya, mencoba mengonfirmasi fakta sejarah yang saya bawa. "Jadi, Pak," kata saya, "di sinilah Kerajaan Kutai pertama berdiri?"
Di sinilah saya menghadapi rintangan kedua. Sebuah rintangan yang lebih besar dari sekadar replika. Pak Aji tersenyum tipis.
“Coba Bapak cari kata 'Kutai' di prasasti-prasasti itu. Sampai kapan pun tidak akan ketemu.” Saya tertegun.
Perkataan Pak Aji mendorong saya melakukan penelusuran literatur malam itu juga. Saya membaca karya sejarawan seperti Muhammad Sarip. Dan apa yang saya temukan adalah kekeliruan terpanjang dalam historiografi Indonesia.
Pak Aji benar. Tak satu pun dari tujuh prasasti Yupa yang memuat kata "Kutai".
Kerajaan yang dipimpin Mulawarman di Muara Kaman itu, kemungkinan besar bernama Martapura. Buktinya? Kitab Salasilah Kutai (sebuah kronik yang jauh lebih muda, ditulis 1849) menyebut kerajaan kuno di hulu Mahakam ini sebagai Martapura. Hingga hari ini, ada sebuah bukit di kawasan purbakala Muara Kaman yang disebut "Gunung Martapura".
Lalu, dari mana nama "Kutai"?
"Kutai" adalah nama kerajaan lain. Kerajaan Kutai Kertanegara (yang kemudian menjadi kesultanan Islam) baru berdiri sekitar tahun 1300 Masehi, 900 tahun setelah era Mulawarman. Kerajaan ini berpusat di hilir sungai, dan pada akhirnya menyerang dan menaklukkan Kerajaan Martapura pada tahun 1635.
Apa yang terjadi di buku sejarah kita adalah sebuah simplifikasi fatal. Para sejarawan (terutama Belanda) menamakan kerajaan Mulawarman sebagai "Kutai" hanya karena prasastinya ditemukan di wilayah Kesultanan Kutai.
Kita telah salah menamakan kerajaan tertua kita. Kita menamainya dengan nama penakluknya.
Rahasia Yupa adalah ia saksi bisu kerajaan bernama Martapura, yang namanya telah "dikudeta" oleh sejarah.
Rintangan itu kini jelas: saya mencari "jasad" di Muara Kaman padahal ada di Jakarta, dan saya mencari kerajaan "Kutai" padahal namanya "Martapura".
Beberapa minggu kemudian, "kepala stasiun" saya akhirnya "berubah pikiran". Saya terbang ke Jakarta dan berdiri di ruang temaram di lantai 1 Gedung Baru Museum Nasional. Inilah dia. Jasad itu.
Tidak ada halangan. Tidak ada satpam. Saya bisa berjalan dan berdiri hanya beberapa senti dari batu-batu itu. Tujuh tugu batu andesit yang asli.
Ada yang masih kokoh, ada yang sudah aus dimakan waktu. Arsitektur ruangannya modern dan ber-AC, kontras dengan bayangan saya tentang hulu Mahakam yang panas dan lembap. Saya menyentuh dinginnya batu Muarakaman II (D.2b), batu yang menceritakan 20.000 sapi. Saya berdiri di depan Muarakaman I (D.2a), menatap langsung goresan aksara Pallawa yang mencatat silsilah itu.
Di sinilah, di depan jasadnya, saya menemukan pencerahan terakhir. Saya bertemu dengan "narasumber tak terduga" itu. Bukan seorang manusia, melainkan teks itu sendiri.
Prasasti Muarakaman I (D.2a) tidak hanya menceritakan sedekah. Ia mencatat sebuah silsilah: Sri Maharaja Kundungga... putro ‘svavarmmo vikhyatah... vansakartta... sri mulavarmma rajendro...
Di sinilah rahasia identitas kita terkuak. "Kudungga" adalah nama asli Indonesia, nama lokal. Namun putranya, "Aswawarman," adalah nama Sanskerta murni. Dan prasasti itu dengan jelas menyebut Aswawarman bukan Kudungga yang sebagai Vansakartta atau "Pendiri Dinasti".
Ini adalah potret cerdas dari sebuah transisi. Ini bukan koloni India. Ini adalah penguasa lokal yang kuat, yang putranya melihat keuntungan politik dan spiritual dalam mengadopsi sistem Hindu, dan cucunya menyempurnakannya.
Ini adalah pencerahan yang saya cari, yang mirip dengan kesimpulan Samuel di artikel referensi. Mitosnya (bahwa kita dijajah budaya India) tidak sepenuhnya benar. Faktanya adalah "lokalisasi". Seperti yang dikatakan para ahli, Yupa adalah cermin karakter bangsa yang mampu beradaptasi dengan budaya asing tanpa menerimanya mentah-mentah.
Saat saya meninggalkan museum, saya teringat kembali pada Pak Aji di tepian Mahakam.
"Memang banyak mitos yang berkembang di sana," kata Samuel di artikel referensi, "...tapi itu tak ada kaitannya dengan sejarah..."
Bagi saya, Pak Aji akan berkata, "Memang banyak cerita hebat tentang 20.000 sapi. Tapi itu tak ada artinya jika kami di sini dilupakan, dan nama kerajaan kami yang asli (Martapura) dihilangkan."
Harapannya, seperti Samuel, adalah pelestarian. Bukan hanya fisik, tapi juga ingatan.
Kini, Indonesia sedang berjuang mendorong Yupa agar diakui sebagai Memory of the World (Memori Kolektif Dunia) oleh UNESCO. Tujuannya, seperti kata para ahli, adalah untuk melawan "amnesia kolektif". Agar kita tidak lupa pada Martapura. Agar kita tidak lupa pada Kudungga.
Pada waktu yang sama, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan juga berupaya meregistrasi arsip situs Yupa sebagai memori kolektif bangsa di Arsip Nasional Republik Indonesia, sebuah ikhtiar sunyi yang ingin mengembalikan ingatan itu ke tempat asalnya.
Stasiun Ijo menjadi saksi bisu Tanam Paksa. Prasasti Yupa adalah saksi bisu lahirnya sebuah peradaban. Ia adalah akta kelahiran bangsa kita yang melek aksara, bukti definitif bahwa sejak awal, identitas kita adalah sebuah dialog cerdas antara yang lokal dan yang global.
Referensi
Antara News. (2025, 8 September). Kemenbud usung prasasti Yupa jadi memori kolektif dunia. https://www.antaranews.com/berita/5093285/kemenbud-usung-prasasti-yupa-jadi-memor i-kolektif-dunia
Berita Nusantara. (2025, 8 September). Prasasti Yupa Diajukan ke UNESCO sebagai Memori Kolektif Dunia.
http://beritanusantara.co/prasasti-yupa-diajukan-ke-unesco-sebagai-memori-kolektif-duni a/
Detik. (2021, 6 Desember). 7 Prasasti Yupa Ini Jadi Bukti Keberadaan Kerajaan Tertua di Indonesia.
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5841849/7-prasasti-yupa-ini-jadi-bukti-keberada an-kerajaan-tertua-di-indonesia
Intisari. (2022, 25 April). Prasasti Kerajaan Kutai Ini Semuanya Disimpan di Museum Nasional. https://intisari.grid.id/read/033254340/prasasti-kerajaan-kutai-ini-semuanya-disimpan-di- museum-nasional
Kaltim Kece. (n.d.). Keliru panjang di buku pelajaran, kerajaan tertua di nusantara bernama Martapura, bukannya Kutai. Diakses 8 November 2025, dari https://kaltimkece.id/historia/keliru-panjang-di-buku-pelajaran-kerajaan-tertua-di-nusantar a-bernama-martapura-bukannya-kutai
Kaltim Today. (2020, 7 Desember). Muara Kaman Miliki Potensi Sebagai Wisata Budaya Situs Peninggalan Kerajaan Kutai. https://kaltimtoday.co/muara-kaman-miliki-potensi-sebagai-wisata-budaya-situs-peningga lan-kerajaan-kutai
Kompas. (2022, 7 Februari). Isi 7 Prasasti Yupa, Prasasti Tertua di Indonesia yang Ditemukan di Kalimantan Timur.
https://regional.kompas.com/read/2022/02/07/142031378/isi-7-prasasti-yupa-prasasti-ter tua-di-indonesia-yang-ditemukan-di?page=all
Kumparan. (2025, 3 April). Jejak 20 Ribu Sapi di Muara Kaman, Kisah Kedermawanan
Maharaja Mulawarman.(https://m.kumparan.com/terbang-tinggi/jejak-20-ribu-sapi-di-muara-kaman- kisah-kedermawanan-maharaja-mulawarman-24nyo2uPnWF)
Kumparan. (2025, 3 Februari). Sejarah Sungai Mahakam yang Menyimpan Banyak Misteri.(https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/sejarah-sungai-mahakam-yang-menyi mpan-banyak-misteri-24QZyQFxSth)
Liputan6. (n.d.). Kerajaan Tertua Bercorak Hindu di Indonesia Adalah Kutai: Sejarah dan Peninggalannya. Diakses 8 November 2025, dari https://www.liputan6.com/feeds/read/5783861/kerajaan-tertua-bercorak-hindu-di-indones ia-adalah-kutai-sejarah-dan-peninggalannya
PPID Kutai Kartanegara. (n.d.). Profil Kecamatan Muara Kaman. Diakses 8 November 2025, dari https://ppid.kukarkab.go.id/opd/50
ResearchGate. (2020, Desember). Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan
Timur.(https://www.researchgate.net/publication/349511642_Kajian_Etimologis_Kerajaa n_Kutai_Martapura_di_Muara_Kaman_Kalimantan_Timur)
Scribd. (n.d.). Tugas Prasasti Yupa. Diakses 8 November 2025, dari(https://de.scribd.com/document/741289341/Tugas-Prasasti-Yupa)
Urban Kaltim. (2025, 5 April). Muara Kaman Ulu, Desa Wisata yang Menghidupkan Sejarah Kutai Lewat Tradisi dan Rasa. https://urbankaltim.com/advertorial/5415/muara-kaman-ulu-desa-wisata-yang-menghidup kan-sejarah-kutai-lewat-tradisi-dan-rasa/
Validnews. (2025, 8 November). Diusulkan Ke Memory of the World UNESCO, Ini Isi Prasasti Yupa.
https://validnews.id/kultura/diusulkan-ke-memory-of-the-world-unesco-ini-isi-prasasti-yupa.
PDF karya pemenang Lomba Feature Diarpus Kukar dalam Festival Memory of Yupa
Senin, 24/11/2025
TERPOPULER