Selasa, 09/09/2025
Selasa, 09/09/2025
Atlet usia dini yang dibina DBON Kaltim, potensi berprestasi di masa mendatang untuk olahraga Kalimantan Timur. (aspian)
Selasa, 09/09/2025

Atlet usia dini yang dibina DBON Kaltim, potensi berprestasi di masa mendatang untuk olahraga Kalimantan Timur. (aspian)
SETIAP tahun di tanggal 9 September, Indonesia merayakan National Sports Day atau Hari Olahraga Nasional (Haornas) dan tahun ini sudah masuk edisi ke-XLII atau yang ke-42, tanggal yang dipilih berdasarkan tanggal penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama di Stadion Sriwedari, Solo 9 -12 September 1948.
Dengan tema Mempersatukan Indonesia Melalui Olahraga dan tagline Olahraga Satukan Kita, makna mendalam terkandung di dalamnya, yaitu olahraga bukan sekadar sarana untuk meraih prestasi, tetapi juga dapat memperkokoh persatuan bangsa serta selaras dengan peringatan 80 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Astacita Presiden Republik Indonesia.
Di Kalimantan Timur, target tinggi diberikan Gubernur Rudy Mas’ud yang sudah jauh-jauh hari meminta agar atlet-atlet Benua Etam bisa menampati posisi terbaik seperti yang pernah ditorehkan pada tahun 2008 saat PON XVII/2008 digelar di provinsi sendiri yaitu tiga besar.
Bukan sesuatu yang mudah bahkan teramat sulit, mengingat posisi 3 Besar yang ditorehkan 17 tahun silam adalah posisi tertinggi yang diraih pada pesta olahraga multievent empat tahunan dan digelar saat jadi tuan rumah. Setelahnya, posisi kontingen Kaltim cenderung menurun.
Setelah posisi 5 Besar pada PON XVIII/2012 di Riau, pada PON XX/2021 di Papua ranking Kaltim turun ke urutan ke-7 dan kembali turun satu peringkat saat pelaksanaan PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut), yaitu posisi ke-8.
Mendapat gelontoran anggaran sebesar Rp45,5 Miliar dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim, target 3 Besar itu diharapkan bisa diraih. “Kalau banyak dana tapi tidak ada prestasi, berarti ada yang salah. Regional harus juara, nasional bersaing di tiga besar,” tegas Rudy Mas’ud saat menyerahkan dana hibah kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim.
Tugas berat ada dipundak Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim yang jadi perpanjangan tangan tugas dari Dispora.
Sebagai organisasi olahraga penyokong utama keberadaan atlet-atlet berprestasi, krisis bahkan darurat atlet saat ini menaungi organisasi olahraga tertinggi ditingkat provinsi itu. Dalam pertemuan dengan LeKOP Kaltim di Samarinda beberapa waktu lalu, Ketua KONI Kaltim H Rusdiansyah Aras menyatakan kekuatan atlet mereka tersisa 20 persen. Merekalah yang diandalkan untuk mendulang medali terutama emas saat PON XXII/2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) digelar.
Dalam kurun waktu yang sangat singkat untuk melakukan persiapan, kurang dari tiga tahun, sejatinya ada harapan bagi KONI dengan kehadiran Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kaltim pada tahun 2022 lalu, karena mereka membina atlet-atlet usia dini yang meski mungkin saja tidak secara keseluruhan namun sebagian dari mereka bisa diandalkan menyumbang medali emas saat PON tersebut digelar.
Menaungi tujuh cabang olahraga dari 14 proyeksi nasional yaitu taekwondo, karate, pencak silat, balap sepeda, angkat besi, menembak dan panahan, pencarian potensi atlet berprestasi langsung dilakukan DBON Kaltim diseluruh daerah
Layaknya naik kendaraan tanpa menginjak rem, gaspol langsung dilakukan. Tak hanya atlet, pelatih setiap cabang olahraga pun didatangkan. Tak perlu waktu lama, hasil latihan intensif yang diberikan kepada atlet-atlet usia dini antara 4 tahun hingga 15 tahun kala itu membuahkan hasil dengan kemampuan mereka bersaing dengan atlet senior untuk meraih medali mulai dari perunggu, perak hingga emas.
Balap sepeda, taekwondo, karate dan pencak silat juga menembak menunjukkan grafik meningkat, mampu meraih medali demi medali dari even tingkat daerah hingga nasional yang mereka ikuti.
KONI Kaltim pun seolah mendapat angin segar dengan keberadaan Akademi Desain Olahraga Daerah (DOD) yang masuk dalam program DBON Kaltim. Setidaknya mereka bisa berharap atlet usia muda tersebut bisa terus meningkatkan prestasi selama berada di asrama Akademi DOD Kaltim.
Sayangnya, ditengah semangat dan motivasi yang tinggi dari atlet usia dini, induk mereka yaitu DBON Kaltim justru dibubarkan. Ironisnya, organisasi olahraga yang dibentuk dengan payung hukum Perpres 86 tahun 2021, dikuatkan dengan SK Gubernur Kaltim kala itu Isran Noor, dibubarkan hanya lewat sebuat rapat internal tanpa ada surat keputusan diawal tahun 2025 dengan alasan restrukturisasi kelembagaan dan bukan penghentian program.
Yang terjadi selanjutnya, pengurus DBON Kaltim diperiksa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim atas dugaan penyalahgunaan anggaran hibah sebesar Rp31 Miliar yang diterima namun sampai saat ini sepertinya tidak ada indikasi ke arah tersebut.
Kerja keras dan nyata yang ditunjukkan pengurus DBON Kaltim dalam waktu hampir dua tahun dan dibuktikan dengan torehan prestasi yang sudah didapatkan seolah tertutup dengan berita demi berita mengenai pemeriksaan di Kejati Kaltim tersebut.
Tak ada pengganti, Dispora Kaltim mengambil alih akademi yang sudah berdiri dan sudah pasti berbeda pola pendekatan yang dilakukan kepada pelatih dan atlet. Dispora Kaltim pastinya tak bisa fokus memberikan perhatian seperti yang dilakukan DBON Kaltim dalam segala hal, mulai dari atlet bangun tidur, sekolah, berlatih hingga beristirahat.
Kini ditengah target 3 Besar yang digaungkan, krisis atlet terasa semakin dalam dan KONI Kaltim pun harus semakin bekerja keras disisa waktu yang ada untuk merealisasikan keinginan dari kepala daerah kalau tidak ingin semakin tertinggal dari daerah lain.
Misi yang boleh disebut mustahil pun harus dijalani Kaltim pada PON XXII/2028 di NTB dan NTT. Target realistis adalah kembali ke 5 Besar atau kembali ke posisi yang diraih saat PON XXI/2024 yaitu 8 Besar, setidaknya tidak keluar dari 10 Besar.
Semangat Haornas 2025 yaitu memperkokoh persatuan antarsemua stake holder olahraga di Kalimantan Timur sangat diperlukan kalau ingin mewujudkan prestasi tertinggi. Dukungan untuk KONI juga Dispora yang mungkin satu diantaranya caranya adalah “menghidupkan kembali” DBON Kaltim sangat diperlukan agar potensi olahraga bisa semakin dalam tergali untuk menemukan atlet-atlet berprestasi.
Kalau memang mendukung target gubernur, maka Dispora Kaltim harus mengaktifkan dan menggerakkan “pabrik” pengolah prestasi dalam hal ini selain DBON juga ada Sekolah Khusus Olahraga Internasional (SKOI), termasuk cabang olahraga itu sendiri, karena “menutup pabrik” sama halnya mematikan pembinaan atlet untuk jangka panjang.
Patut dicermati apakah Dispora Kaltim sebagai instansi resmi pemerintah yang menaungi KONI Kaltim menginginkan prestasi dan menjadikannya prioritas atau sekadar membangun sumber daya manusia, terutama pemuda, tanpa prioritas apa-apa. (*)
Sebuah Catatan di Hari Olahraga Nasional 9 September
oleh Lembaga Kajian Olahraga Provinsi (LeKOP) Kalimantan Timur.
Selasa, 09/09/2025
Atlet usia dini yang dibina DBON Kaltim, potensi berprestasi di masa mendatang untuk olahraga Kalimantan Timur. (aspian)
TERPOPULER