Senin, 18/08/2025
Senin, 18/08/2025
Senin, 18/08/2025

Oleh: Dr. Hj. Lilik Andar Yuni, S.H.I., M.S.I.
(Ketua Prodi Hukum Keluarga Pascasarjana UINSI Samarinda)
BANGSA Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2025. Dari ujung barat di Sabang hingga timur di Merauke, perayaan akan berlangsung meriah. Beragam perlombaan digelar dan pidato-pidato disampaikan, semuanya bertujuan menumbuhkan rasa cinta tanah air serta memperkuat jiwa patriotisme.
Delapan puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Sejak 17 Agustus 1945, bangsa ini berdiri tegak di atas kaki sendiri, berkat darah, air mata, dan nyawa para pejuang. Kini, 17 Agustus 2025 tiba—dan kita akan merayakan ulang tahun ke-80 kemerdekaan Indonesia. Tapi, di tengah gegap gempita lomba panjat pinang, hiasan merah putih di jalan, dan upacara bendera yang khidmat, ada satu pertanyaan yang sering terlewat: sudahkah kita benar-benar bersyukur atas kemerdekaan ini?
Bersyukur itu bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah” atau “terima kasih para pahlawan” setiap bulan Agustus tiba. Syukur sejati butuh bukti. Syukur bukan sekadar ucapan an sich, melainkan tindakan nyata. Kita belum sepenuhnya bersyukur bila pikiran masih terjajah oleh arus algoritma digital yang membentuk opini tanpa landasan logika. Kita belum pantas disebut bersyukur jika ekonomi bangsa masih terjebak pada budaya konsumtif, memburu kekayaan semu tanpa memikirkan kemaslahatan bersama. Dan kita tentu belum layak mengaku bersyukur jika keberanian bersuara demi kebenaran masih kalah oleh rasa takut pada tekanan kekuasaan.
Kemerdekaan itu mahal. Ia dibayar dengan pengorbanan luar biasa. Maka, rasa syukur yang pantas bukan sekadar mengisi hari kemerdekaan dengan pesta, tapi dengan kerja nyata: jujur dalam profesi, berani melawan ketidakadilan, dan mau peduli pada sesama. Syukur artinya menjaga kemerdekaan agar tak direbut kembali—bukan oleh senjata, tapi oleh kebodohan, keserakahan, dan rasa takut yang kita pelihara sendiri.
HUT RI ke-80 ini bukan hanya momen bersorak gembira. Ini waktu terbaik untuk bertanya: apa yang sudah kita lakukan agar Indonesia ini tetap merdeka, dan makin layak disebut merdeka? Karena kemerdekaan yang tidak disyukuri, akan perlahan hilang—bukan karena perang, tapi karena kita sendiri yang lupa menjaganya.
Mensyukuri Dua Nikmat
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir (1981, XXXII: 107) membagi nikmat-nikmat Allah menjadi dua bagian besar, yakni berupa nikmat menolak kemudaratan (daf‘u adh-dharari) dan nikmat mendatangkan kemanfaatan (jalb an-naf‘i). Dari kedua nikmat ini, menolak kemudaratan adalah lebih utama dan merupakan prioritas daripada mendatangkan kemanfaatan. Sampai-sampai para ulama menegaskan bahwa menolak kemudaratan terhadap jiwa adalah wajib hukumnya. Sementara, mendatangkan kemanfaatan adalah tidak wajib. Oleh karena itulah, maka nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Allah harus kita ekspresikan dengan syukur dan ibadah.
Kalau kita mau jujur, ada dua anugerah besar yang sering kali kita lupa syukuri, padahal hidup kita tak akan pernah tenang tanpanya. Al-Qur’an sendiri sudah mengingatkan dalam Surat Quraisy ayat 4: “Allah-lah yang memberi kita rezeki hingga perut tak lagi keroncongan, dan menjaga kita dari rasa takut yang menghantui”. Dua nikmat ini bukan sekadar soal makan kenyang dan tidur nyenyak, tapi tentang rasa aman dan damai yang menjadi fondasi kehidupan. Bayangkan, apa artinya kekayaan kalau hati selalu cemas? Apa gunanya rumah mewah kalau tiap hari dibayangi rasa lapar? Justru dua karunia inilah yang mestinya membuat kita terus bersyukur, karena keduanya adalah pondasi bahagia yang hanya Allah mampu berikan.
Kalau kita tengok kebutuhan dasar yang membuat masyarakat bisa hidup tenang, dua hal ini selalu muncul: kecukupan pangan dan rasa aman. Prof. Quraish Shihab menegaskan hal itu dalam tafsirnya (Tafsir al-Misbah, Volume 15, 2003: 539) — bahwa terpenuhinya kebutuhan makan dan terbebasnya dari ketakutan adalah kunci kebahagiaan bersama. Karena itu, kedua karunia itu layak kita mohonkan kepada Allah dan syukuri dengan cara memperbanyak ibadah.
Menariknya, kedua aspek ini saling bersambung. Ekonomi yang tumbuh menumbuhkan ketenangan; sebaliknya, situasi aman memberi ruang bagi ekonomi untuk berkembang. Jadi tidaklah tepat memandang pangan dan keamanan sebagai dua urusan terpisah — keduanya bagai dua sisi mata uang yang saling menentukan.
Dua hal penting ini—kecukupan pangan dan rasa aman—bukan cuma jadi target pemerintah di seluruh dunia, tapi juga sudah lama diperjuangkan oleh para nabi. Nabi Ibrahim AS misalnya, ketika mengunjungi Mekah, beliau berdoa memohon kedua nikmat itu kepada Allah, seperti tertulis dalam Al-Baqarah ayat 126.
Ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia adalah anugerah besar dari Allah yang wajib kita syukuri, terutama sebagai umat Muslim di Nusantara. Karena lewat kemerdekaan dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, kita bisa terhindar dari berbagai bahaya dan justru mendapatkan manfaat yang besar dalam hidup berbangsa dan bernegara. Nikmat ini harus terus kita jaga dan hargai, bukan sekadar warisan, tapi juga sumber kekuatan kita bersama.
Makna Ideal Mensyukuri Kemerdekaan
Mensyukuri kemerdekaan bukan hanya sekadar ucapan, tapi harus tercermin dalam hati dan tindakan kita. Mengucapkan kalimat tahmid, berterima kasih, serta mengenang dan mendoakan para pahlawan adalah bentuk syukur yang nyata. Kita berharap amal mereka diterima oleh Allah SWT, karena mengenang jasa mereka juga adalah bagian dari rasa terima kasih kita kepada Sang Pemberi Nikmat. Rasulullah SAW mengingatkan, “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah” (HR Abu Daud). Jadi, menghargai perjuangan mereka adalah tanda kita menghargai karunia Allah.
Lebih dari itu, syukur atas kemerdekaan harus diwujudkan dengan mengisi waktu merdeka ini dengan amal-amal yang diridhai oleh Allah, bukan dengan perbuatan maksiat. Allah SWT memberikan petunjuk jelas dalam Surat Al-Hajj ayat 41 tentang bagaimana seharusnya kita mengisi kemerdekaan: dengan mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengajak pada kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Ayat itu juga menyebut “kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,” yang bisa diartikan sebagai bentuk kemerdekaan dari segala penjajahan. Maka, kemerdekaan sejati adalah saat kita bebas untuk menjalankan ajaran Allah secara penuh, sambil terus berkontribusi membangun bangsa yang lebih baik.
Walhasil, Sebagai penutup, mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan cara yang paling berarti, yaitu: menjaga dan mempertahankan jati diri bangsa lewat amalan dan nilai-nilai Islam yang luhur. Cintailah tanah air ini dengan sepenuh hati, dan jauhilah segala bentuk upaya memperkaya diri-sendiri, baik yang nyata maupun terselubung. Dengan tekad dan usaha yang tulus seperti ini, Insya Allah kita bangsa Indonesia akan mampu mengukir kejayaan di masa depan, melanjutkan perjalanan sejarah bangsa menuju “baldatun thayyibatun warabbun ghafuur”—negara yang penuh rahmat, kesejahteraan, dan kedamaian dari Allah SWT, selamanya. Wallahu a’lam. (*)
Profil Singkat Penulis:
Dr. Hj. Lilik Andar Yuni, S.H.I, M.S.I., adalah dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Prodi Hukum Keluarga Pascasarjana UINSI Samarinda. Aktif di beberapa organisasi antara lain: Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Kalimantan Timur, Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) Provinsi Kalimantan Timur, Perkumpulan Dosen Hukum Keluarga Islam (PDHKI), Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Timur.
Senin, 18/08/2025
TERPOPULER