Selasa, 02/12/2025

KSDE Rugi, Direktur Mundur, BUMD Kaltim Kembali jadi Sorotan Ditengah Krisis Fiskal

Selasa, 02/12/2025

Riyawan

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

KSDE Rugi, Direktur Mundur, BUMD Kaltim Kembali jadi Sorotan Ditengah Krisis Fiskal

Selasa, 02/12/2025

logo

Riyawan

Oleh : Riyawan

(Pengamat Sosial asal Kukar)


KALIMANTAN Timur kembali dihadapkan pada kenyataan pahit soal kondisi keuangannya. Sebagai daerah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), situasi fiskal Kaltim semakin menegang. Dana perimbangan dari pusat diproyeksikan anjlok drastis—from Rp7 triliun menjadi hanya Rp2,49 Triliun pada 2026. Di saat yang sama, PAD dan penerimaan PPN stagnan. Nggak naik, nggak turun… cuma jalan di tempat.

Dengan tekanan sebesar itu, kemampuan Kaltim membiayai pembangunan dasar jelas terancam. Pertanyaan besarnya: sampai kapan Kaltim bisa bertahan dengan pendanaan yang makin mengecil?


APBD “Pincang”: Dua Kaki yang Tak Lagi Seimbang


Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud punya analogi menarik: APBD itu seperti tubuh yang berdiri di atas dua kaki.

Satu kaki adalah PAD (Pendapatan Asli Daerah)

Kaki lainnya adalah TKD (Transfer ke Daerah) dari pusat


Masalah muncul saat “kaki TKD” dipotong besar-besaran. Pemerintah daerah mau tak mau harus “jalan terpincang”.


PAD Wajib Diperkuat, Bukan Lagi Pilihan


Meningkatkan PAD kini menjadi kebutuhan mendesak. Beberapa langkah penting antara lain:

Optimalisasi pajak daerah

Penataan ulang sektor pertambangan & perkebunan yang rawan kebocoran

Pengembangan ekonomi hilir

Penguatan BUMD yang benar-benar produktif

Perbaikan ekosistem investasi


Tanpa “kaki PAD” yang kuat, Kaltim akan selalu goyah setiap kali pusat mengubah kebijakan anggaran.



BUMD Harusnya Jadi Penggerak PAD, Tapi…


Idealnya, BUMD bukan hanya penyumbang dividen, tapi juga motor ekonomi daerah. Dengan manajemen profesional dan transparan, BUMD mestinya mampu:

Mengelola aset daerah

Menyediakan layanan publik yang baik

Masuk ke investasi strategis

Mendorong aktivitas ekonomi lokal


Namun kenyataan di lapangan jauh dari ideal.



BUMD di Indonesia: Banyak, Tapi Sering Merugi


Mendagri Tito Karnavian pernah mengungkap data mengejutkan: sekitar 300 BUMD di Indonesia merugi, dengan total kerugian Rp5,5 triliun. Salah satu penyebab utama adalah intervensi politik. BUMD kerap dijadikan “alat” sejak era pilkada langsung, karena kepala daerah adalah pemegang saham utamanya.


Akibatnya:

Profesionalisme susah tumbuh

Kinerja tidak optimal

Arah bisnis kabur

Keuangan daerah ikut terbebani


Padahal, pendirian BUMD semestinya didasarkan atas kajian bisnis—bukan menjadi tempat “balas budi”


36 BUMD di Kaltim: Banyak, Tapi Sedikit yang Berkembang


Kaltim memiliki 36 BUMD di tingkat kabupaten/kota. Jumlahnya tak berubah sejak 2023, tapi stagnasi jumlah itu tidak diiringi peningkatan kinerja. Salah satu yang belakangan jadi sorotan adalah PT Kutai Sejahtera Dambaan Etam (KSDE) milik Pemkab Kukar.



KSDE Rugi Lagi, Direkturnya Mundur: Ada Apa?


KSDE masuk radar BPK setelah kembali mencatat kerugian pada 2024. Alih-alih menyumbang PAD, KSDE justru menjadi “lubang anggaran” yang terus menguras keuangan daerah tanpa arah bisnis yang jelas.


Temuan BPK & Catatan Keuangan KSDE


Dalam laporan keuangan Pemkab Kukar tercatat:

Piutang bagi hasil laba KSDE per 31 Desember 2024: Rp2.514.895.903

Turun Rp78.424.447 dari saldo awal

Penurunan berasal dari kekurangan setor Rp210.453.687 dan penyesuaian akuntansi Rp132.029.240


Sementara penyertaan modal daerah:

2023: Rp57.925.359.047

2024: Rp52.415.795.081


Meski menerima modal besar, KSDE tetap merugi. Bahkan disebut mengalami “gagal bisnis” hingga akhirnya Direktur Utamanya mengundurkan diri.


Audit BPKP


BPKP rutin mengevaluasi kinerja BUMD, namun laporan audit khusus KSDE tidak dipublikasikan. Menariknya, BUMD Kukar lainnya—PT MGRM—justru dinobatkan sebagai BUMD paling sehat versi BPKP. Kontras sekali.



Masalah-Masalah Klasik yang Membuat BUMD Merugi


Kegagalan BUMD di Indonesia cenderung berulang tiap tahun. Faktor utamanya:

1. Intervensi politik

2. Manajemen minim pengalaman

3. Birokrasi berbelit

4. Minim transparansi

5. Rotasi direksi berdasarkan kepentingan politik

6. Arah bisnis tidak jelas


Kombinasi masalah ini membuat banyak BUMD terseok-seok dan gagal menyumbang PAD.



Direktur Baru KSDE Dicari: Siapa Berani Jadi “Penyelamat”?


Seleksi terbuka Direktur Utama KSDE kini dibuka. Namun pertanyaannya: siapa yang berani mengambil tanggung jawab membenahi BUMD yang sedang sakit kronis ini?


KSDE membutuhkan sosok yang:

Punya visi bisnis yang jelas

Berani memutus rantai praktik buruk

Fokus membangun ulang model bisnis

Mampu mengembalikan KSDE agar kembali menghasilkan bagi daerah


Kursi Direktur Utama bukan hanya jabatan—tapi ujian kepemimpinan. Apakah akan muncul sosok yang mampu mengangkat KSDE menjadi perusahaan yang membanggakan?

Kita tunggu. (*)

KSDE Rugi, Direktur Mundur, BUMD Kaltim Kembali jadi Sorotan Ditengah Krisis Fiskal

Selasa, 02/12/2025

Riyawan

Share

Berita Terkait