Senin, 14/09/2026

Produksi Lokal Terbatas, Mahulu Masih Bergantung Pangan dari Kubar

Senin, 14/09/2026

Asisten I Setkab Mahulu Agustinus Teguh Santoso menyampaikan Mahakam Ulu masih bergantung pada pasokan pangan dari Kabupaten Kutai Barat karena produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Produksi Lokal Terbatas, Mahulu Masih Bergantung Pangan dari Kubar

Senin, 14/09/2026

logo

Asisten I Setkab Mahulu Agustinus Teguh Santoso menyampaikan Mahakam Ulu masih bergantung pada pasokan pangan dari Kabupaten Kutai Barat karena produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Penulis: Julika Hengin

KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) mengakui hingga saat ini daerah tersebut masih bergantung pada pasokan pangan dari Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Keterbatasan produksi pangan lokal membuat kebutuhan sayuran, ikan, ayam, hingga daging masih didatangkan dari daerah tetangga.

Asisten I Setkab Mahulu Agustinus Teguh Santoso mengatakan kondisi tersebut terjadi karena sektor pertanian di Mahulu masih didominasi sistem ladang dengan pola tanam satu kali dalam setahun sehingga produksi pangan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun.

“Untuk pertanian kita juga belum bisa mandiri karena kita belum memakai sistem sawah. Kebanyakan masih menggunakan sistem ladang dan itu hanya setahun sekali kami menanamnya,” kata Agustinus, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, pola pertanian tersebut membuat hasil panen sulit mencukupi kebutuhan masyarakat selama satu tahun penuh.

“Jadi tidak mungkin sekali menanam, sekali panen bisa mencukupi kebutuhan dalam setahun,” ujarnya.

Agustinus mengatakan pemerintah daerah mulai mendorong perubahan pola pertanian melalui program cetak sawah yang mulai berjalan tahun ini. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

“Nah ini baru tahun ini kita diberikan program model cetak sawah. Mudah-mudahan nanti bisa menanam setahun dua sampai tiga kali dengan sawah,” katanya.

Ia menjelaskan ketergantungan Mahulu terhadap pasokan dari luar daerah tidak hanya terjadi pada komoditas pertanian, tetapi juga produk peternakan dan perikanan.

Menurutnya, hampir setiap hari pasokan kebutuhan pangan dari Kutai Barat masuk ke Mahulu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Untuk sayuran, produk ternak seperti ikan dan daging, hampir setiap hari yang datang menuju Mahakam Ulu membawa sayur, membawa ayam, membawa ikan untuk dikonsumsi masyarakat Mahakam Ulu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, lanjut Agustinus, menunjukkan Mahulu masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian pangan, terutama sebagai daerah perbatasan yang memiliki keterbatasan akses dan distribusi.

“Artinya bahwa belum ada kemandirian di Kabupaten Mahakam Ulu masalah pangan,” tegasnya.

Agustinus menilai program seperti peternakan ayam, budidaya ikan, maupun pengembangan usaha produktif lainnya dapat membantu meningkatkan produksi pangan lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

“Kami siap menerima program-program Baznas yang tadi disampaikan, support untuk peternakan ayam, peternakan ikan baik arus deras maupun menggunakan metode kolam, dan kegiatan-kegiatan lainnya,” pungkasnya.

Editor: Erwin 

Produksi Lokal Terbatas, Mahulu Masih Bergantung Pangan dari Kubar

Senin, 14/09/2026

Asisten I Setkab Mahulu Agustinus Teguh Santoso menyampaikan Mahakam Ulu masih bergantung pada pasokan pangan dari Kabupaten Kutai Barat karena produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. (Foto: Julika/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait