Kamis, 11/06/2026
Kamis, 11/06/2026
SPBU di Jalan Timbau Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/Korankaltim.com)
Kamis, 11/06/2026

SPBU di Jalan Timbau Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/Korankaltim.com)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Antrean kendaraan roda dua dan roda empat tampak mengular di jalur pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite di salah satu SPBU di Kecamatan Tenggarong.
Kondisi ini terjadi setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) yang mulai berlaku sejak Rabu (10/6/2026).
Harga Pertamax tercatat naik dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter. Kenaikan tersebut memicu perubahan pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dengan sebagian pengguna memilih beralih ke BBM bersubsidi untuk menekan pengeluaran.
Pengawas SPBU Timbau Tenggarong, Gatot Purwoko, mengatakan penyesuaian harga tersebut merupakan kebijakan PT Pertamina (Persero) untuk wilayah distribusi Kalimantan Timur (Kaltim).
Meski harga Pertamax mengalami kenaikan, ia memastikan harga jenis BBM lainnya tidak berubah. Harga Pertalite tetap Rp10.000, Biosolar Rp6.800, Pertamax Turbo Rp21.200, Dexlite Rp23.500 dan Pertamina Dex Rp25.350 per liter.
“Untuk harga BBM kami pastikan tidak semua naik, ada beberapa saja, yang lainnya masih harga normal,” tegasnya, Kamis (11/6/2026).
Selain itu, ia memastikan pasokan BBM di kawasan Tenggarong dipastikan aman. Proses pengiriman dari Pertamina terus berjalan normal sesuai kapasitas tangki penyimpanan di SPBU.
Pergeseran konsumsi ke Pertalite diakui langsung oleh para pengendara. Seorang pedagang yang setiap hari menempuh rute Tenggarong-Loa Janan mengaku kaget dan terpaksa mengubah kebiasaan pengisian BBM akibat anggaran hariannya yang tidak lagi mencukupi untuk membeli Pertamax.
“Saya harus menyesuaikan dengan pengeluaran setiap bulan. Kenaikan harga BBM ini pastinya akan jadi beban,” ungkap warga Tenggarong, Angga (33).
Kondisi ini juga memukul para pelaku usaha kecil, termasuk penjual BBM eceran di kawasan Tenggarong. Salah seorang pengecer, Riki Anggara, mengeluhkan tingginya lonjakan modal yang harus ia keluarkan. Akibat harga baru di SPBU, ia terpaksa mematok harga eceran hingga Rp17.000 per liter.
Dirinya mengkhawatir modalnya mandek karena sepinya pembeli yang beralih ke Pertalite, Riki mengambil langkah ekstrem dengan memangkas stok dagangannya dari yang biasanya 20 liter menjadi hanya 5 liter per hari.
“Kami pedagang harus memutar otak bagaimana mempertahankan pembeli agar tetap berbelanja di sini. Harapan saya semoga ada solusi dari pemerintah terkait dengan kebijakan naiknya harga BBM ini,” ucapnya.
Masyarakat dan pelaku usaha mikro di Tenggarong berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan ini.
Editor: Erwin
Kamis, 11/06/2026
SPBU di Jalan Timbau Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/Korankaltim.com)
TERPOPULER