Selasa, 25/08/2026
Selasa, 25/08/2026
Tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melakukan penerbangan perdana menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNP dari Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau, untuk menyemai awan sebagai upaya mempercepat turunnya hujan dan mengantisipasi karhutla. (Dok. BNPB)
Selasa, 25/08/2026

Tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melakukan penerbangan perdana menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNP dari Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau, untuk menyemai awan sebagai upaya mempercepat turunnya hujan dan mengantisipasi karhutla. (Dok. BNPB)
Penulis : Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Berau mulai mengandalkan pertumbuhan awan sebagai kunci untuk mempercepat turunnya hujan di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tim OMC dijadwalkan menjalankan penyemaian selama lima hari, dengan waktu penerbangan menyesuaikan kondisi awan yang memenuhi syarat.
Penerbangan perdana OMC berlangsung dari Bandara Kalimarau, Kecamatan Teluk Bayur, Senin (24/8/2026) malam. Pesawat Cessna 208 Caravan milik Smart Cakrawala Aviation dengan registrasi PK-SNP lepas landas pukul 20.46 WITA dan kembali mendarat sekitar pukul 22.24 WITA setelah menjalankan misi di wilayah lokal.
Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB Tono Sumarsono menyebut penerbangan tersebut merupakan bagian dari misi OMC Kalimantan Timur. Pesawat membawa pilot dan kopilot, dua flight scientist serta dua penabur bahan semai.
Dalam penerbangan perdana, tim melakukan penyemaian di wilayah barat laut Kabupaten Berau pada ketinggian sekitar 8.000–12.000 kaki. Area penyemaian mencakup sektor radial 240–360 dan 020–070 nautical mile (NM) dengan titik acuan sekitar bearing 300 dari Bandara Kalimarau. "Penyemaian pertama dilakukan malam tadi," kata Tono kepada Korankaltim.com Selasa (25/8/2026).
PMG Muda Kedeputian Modifikasi Cuaca Hari Saputro menambahkan, pelaksanaan OMC tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan jadwal penerbangan. Keberadaan dan karakteristik awan menjadi faktor utama dalam menentukan kapan penyemaian dilakukan. “Dijadwalkan praktiknya selama lima hari,” ujar Hari.
Potensi pertumbuhan awan di Berau pada hari pelaksanaan dinilai cukup baik. Tim akan memantau perkembangan awan sejak pagi hingga sore, bahkan membuka peluang pelaksanaan pada malam hari apabila kondisi memenuhi persyaratan.
OMC bukan bertujuan menciptakan awan dari kondisi langit yang cerah. Bahan semai hanya diberikan kepada awan yang telah terbentuk dan memiliki kandungan uap air yang cukup. “Kami membutuhkan awan karena tidak membuat awan,” tegasnya.
Karakteristik awan menjadi penentu efektivitas penyemaian. Awan yang masih kecil dan belum berkembang dinilai belum ideal untuk disemai. Sebaliknya, awan yang tumbuh besar dengan massa uap air memadai memiliki peluang lebih tinggi untuk menghasilkan hujan setelah mendapat bahan semai.
Dalam operasi tersebut, tim membawa 1 ton natrium klorida (NaCl) non-yodium yang dikemas dalam 50 karung dengan berat masing-masing 20 kilogram. Bahan tersebut digunakan sebagai material semai untuk mendorong proses pembentukan presipitasi di dalam awan.
Bahan semai yang digunakan memiliki ukuran sangat halus dan berbeda dengan garam konsumsi yang dijual di pasaran. “Bahan semainya berukuran sekitar 0,1 mikron,” jelasnya.
Setelah proses penyemaian, hujan berpotensi turun dalam waktu sekitar dua hingga tiga jam. Namun, peluang keberhasilannya tidak bersifat mutlak karena sangat dipengaruhi kondisi awan yang menjadi sasaran. “Persentasenya sekitar 30–50 persen, tergantung potensi awannya,” ujar Hari lagi.
Semakin besar dan matang awan yang disemai, peluang terbentuknya hujan juga semakin besar. Karena itu, tim OMC akan terus mengamati perkembangan awan selama masa operasi agar bahan semai digunakan pada kondisi yang paling efektif.
Operasi ini menjadi langkah mitigasi pemerintah dalam menghadapi kondisi kering dan meningkatkan peluang hujan di wilayah Berau. Hujan yang dihasilkan diharapkan dapat membantu menekan risiko karhutla sekaligus mendukung penanganan titik-titik rawan kebakaran.
Penerbangan perdana OMC malam tadi berlangsung aman dan lancar. Tim selanjutnya akan melanjutkan operasi dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan potensi awan selama lima hari pelaksanaan. Keberhasilan operasi tidak hanya ditentukan oleh bahan semai, tetapi terutama oleh kondisi awan yang menjadi sasaran. “Semakin besar awan yang disemai, semakin besar potensinya untuk turun hujan,” tutup Hari.
Editor: Aspian Nur
Selasa, 25/08/2026
Tim Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melakukan penerbangan perdana menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNP dari Bandara Kalimarau, Kabupaten Berau, untuk menyemai awan sebagai upaya mempercepat turunnya hujan dan mengantisipasi karhutla. (Dok. BNPB)
TERPOPULER