Rabu, 17/06/2026

PDIP Kaltim Gelar Fatmawati Trophy, Angkat Kekayaan Motif Daerah ke Panggung Nasional

Rabu, 17/06/2026

Kegiatan Fatmawati Trophy yang digelar DPD PDIP Kaltim pada dengan melibatkan sejumlah desainer yang ada di Benua Etam. (Foto: Ainur/Korankaltim.com)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

PDIP Kaltim Gelar Fatmawati Trophy, Angkat Kekayaan Motif Daerah ke Panggung Nasional

Rabu, 17/06/2026

logo

Kegiatan Fatmawati Trophy yang digelar DPD PDIP Kaltim pada dengan melibatkan sejumlah desainer yang ada di Benua Etam. (Foto: Ainur/Korankaltim.com)

Penulis: Ainur Rofiah 

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Kaltim, menggelar Fatmawati Trophy Lomba Desain Kebaya tingkat Kaltim sebagai upaya mendorong kreativitas para desainer sekaligus memperkenalkan kekayaan motif dan budaya daerah ke tingkat nasional hingga internasional.

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat DPD PDI Perjuangan Kaltim, Jalan AW Syahranie, Samarinda, Rabu (17/6/2026), diikuti perwakilan desainer dari sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim. 

Lomba ini menjadi bagian dari program nasional PDI Perjuangan yang terinspirasi dari sosok Fatmawati Soekarno, tokoh yang dikenal menjahit Sang Saka Merah Putih menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengatakan Fatmawati Trophy bukan sekadar ajang kompetisi desain kebaya, tetapi juga menjadi ruang bagi para desainer dan pelaku industri kreatif untuk menyalurkan bakat serta menghasilkan karya yang mampu mengangkat identitas budaya Indonesia.

“Ini adalah wadah bagi teman-teman desainer atau mereka yang memiliki bakat di bidang desain untuk berkarya. Kami ingin memberikan ruang dan motivasi agar mereka semakin semangat menghasilkan karya-karya yang tidak hanya membanggakan daerah, tetapi juga mampu mengharumkan nama bangsa,” kata Ananda.

Menurutnya, semangat lomba tersebut sejalan dengan nilai perjuangan yang diwariskan Fatmawati, yakni semangat berkarya dan berkontribusi bagi bangsa melalui kemampuan yang dimiliki masing-masing individu.

Ananda menjelaskan, salah satu tujuan utama penyelenggaraan Fatmawati Trophy adalah menggali dan memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki setiap daerah, khususnya Kaltim. Berbagai motif batik khas daerah menjadi inspirasi utama dalam desain kebaya yang dilombakan.

Ia menilai masih banyak masyarakat di luar daerah yang belum mengenal beragam motif tradisional Kaltim. Padahal, setiap motif memiliki filosofi, sejarah, dan ciri khas yang berbeda.

“Indonesia ini sangat kaya. Tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga kaya budaya dan karya-karya yang dihasilkan sumber daya manusianya. Melalui lomba ini, kami ingin menggali potensi kekayaan itu dan memperlihatkannya kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Ananda mencontohkan, sejumlah motif khas Kaltim yang mulai diangkat dalam karya para peserta, seperti motif Kelakai atau Pakis, Ulap Doyo, hingga berbagai motif yang terinspirasi dari kekayaan alam daerah.

Menurutnya, tidak sedikit masyarakat luar daerah yang keliru mengenali motif-motif tersebut karena minimnya informasi dan promosi budaya.

“Banyak yang belum tahu. Misalnya motif Kelakai, ada yang menyebutnya motif cumi-cumi karena bentuknya. Padahal itu motif khas daerah yang memiliki makna tersendiri. Begitu juga dengan Ulap Doyo yang memiliki banyak variasi motif dan teknik pembuatan,” jelasnya.

Ananda optimistis karya-karya desainer Kaltim memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Ia menyebut sejumlah produk berbasis motif tradisional Kaltim selama ini telah diminati wisatawan mancanegara.

“Tadi disampaikan juga bahwa motif seperti Ulap Doyo dan motif khas daerah lainnya cukup diminati wisatawan asing. Kalau kekayaan ini terus diperkenalkan dan dipromosikan, tentu peluangnya semakin besar untuk dikenal dunia internasional,” katanya.

Menurut dia, salah satu harapan PDI Perjuangan melalui kegiatan tersebut adalah memperluas promosi budaya Indonesia melalui karya fesyen yang memiliki identitas lokal kuat.

“Yang ingin kami sosialisasikan adalah kekayaan Indonesia. Tidak hanya Kaltim, tetapi seluruh kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa,” tambahnya.
Fatmawati Trophy tingkat Kaltim diikuti peserta dari tujuh kabupaten dan kota, yakni Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur (Kutim), Kutai Barat (Kubar), Penajam Paser Utara (PPU), Paser, dan Kutai Kartanegara (Kukar).

Pada tahap awal, para peserta mengirimkan sketsa desain dan moodboard sebagai bahan penilaian dewan juri. Proses penjurian tahap pertama dilakukan pada kegiatan yang berlangsung di Samarinda tersebut.

Tiga peserta terbaik nantinya akan diminta merealisasikan desain mereka menjadi busana kebaya untuk mengikuti penjurian tingkat regional yang mempertemukan peserta dari Kaltim dan Kaltara.

“Pertama mereka membuat sketsa dan moodboard. Hari ini dilakukan penjurian. Tiga pemenang nantinya akan membuat busananya untuk dinilai kembali di tingkat regional Kaltim-Kaltara,” terang Ananda.

Peserta terbaik dari tingkat regional kemudian akan mewakili wilayah Kalimantan menuju babak nasional Fatmawati Trophy di Jakarta.

Ditambahkannya, DPD PDI Perjuangan Kaltim berharap lahir desainer-desainer muda yang mampu mengangkat nilai budaya lokal ke dalam karya fesyen modern sekaligus memperkenalkan kekayaan motif tradisional Kaltim kepada masyarakat nasional maupun dunia internasional.

Editor: Erwin

PDIP Kaltim Gelar Fatmawati Trophy, Angkat Kekayaan Motif Daerah ke Panggung Nasional

Rabu, 17/06/2026

Kegiatan Fatmawati Trophy yang digelar DPD PDIP Kaltim pada dengan melibatkan sejumlah desainer yang ada di Benua Etam. (Foto: Ainur/Korankaltim.com)

Share

Berita Terkait