Rabu, 17/06/2026
Rabu, 17/06/2026
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan memperlihatkan zona subduksi Megathrust yang bisa berdampak Tsunami di Kalimantan. (Foto: Januar/Korankaltim.com)
Rabu, 17/06/2026

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan memperlihatkan zona subduksi Megathrust yang bisa berdampak Tsunami di Kalimantan. (Foto: Januar/Korankaltim.com)
Penulis: Muhammad Solih Januar
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan mengingatkan masyarakat bahwa kawasan Pantai Timur Kalimantan, mulai dari Kalimantan Utara (Kaltara), Kalimantan Timur (Kaltim), hingga Kalimantan Selatan (Kalsel) memiliki potensi ancaman gempa dan tsunami yang nyata.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, mematahkan anggapan umum yang menyebut Pulau Kalimantan sepenuhnya aman dari bencana tsunami. Menurutnya, potensi ancaman di wilayah utara dan tengah Pantai Timur Kalimantan dipicu oleh sumber tektonik yang berbeda.
“Untuk wilayah utara seperti Kaltara dan Kaltim bagian utara, sumber ancamannya cukup banyak. Ada Subduksi Utara Sulawesi, Subduksi Ganda Maluku, hingga Subduksi Filipina,” ujar Rasmid, Rabu (17/6).
Rasmid menjelaskan, jika zona penunjaman lempeng megathrust tersebut mengalami patah dan memicu gempa besar, maka gelombang tsunami yang dihasilkan dipastikan akan menjalar dan berdampak langsung ke pesisir Kaltara dan Kaltim.
Sementara itu, untuk wilayah tengah seperti Kota Samarinda, Bontang, dan Balikpapan, ancaman tsunami tidak datang langsung dari zona subduksi purba, melainkan dipicu oleh karakteristik batimetri (topografi bawah laut) Selat Makassar yang sangat curam.
Kondisi bawah laut yang curam ini, lanjut Rasmid, sangat rentan runtuh apabila diguncang oleh gempa bumi yang bersumber dari sesar aktif di bagian barat Sulawesi, seperti peristiwa Gempa Palu pada 2018 dan Gempa Mamuju.
“Gempa-gempa di barat Sulawesi itu memicu longsoran bawah laut (underwater landslide). Ketika ribuan meter kubik material tanah longsor di dasar laut yang curam, stabilitas air laut akan terganggu dan membentuk gelombang tsunami yang menjalar ke segala arah, termasuk ke Balikpapan,” jelasnya.
Meskipun tinggi gelombang tsunami hasil longsoran bawah laut tersebut diprediksi relatif kecil saat berada di laut lepas yakni di bawah satu meter namun karakteristik wilayah pesisir seperti Teluk Balikpapan justru meningkatkan risiko bahaya.
Rasmid mengkhawatirkan terjadinya efek amplifikasi saat gelombang masuk ke kawasan teluk yang sempit dan dangkal.
“Ketika gelombang masuk ke teluk yang sempit, terjadi pemantulan atau superposisi gelombang di mana gelombang saling bertumpuk. Fenomena ini membuat amplitudo atau ketinggian gelombang yang menghantam daratan menjadi jauh lebih tinggi. Ini yang kita khawatirkan di Teluk Balikpapan,” tegasnya.
Di sisi lain, Rasmid mengakui, tantangan terbesar saat ini adalah belum adanya sistem peringatan dini tsunami yang terpadu dan terintegrasi langsung ke masyarakat di pesisir Kalimantan.
Saat ini, alur penyebaran informasi kebencanaan masih terbatas pada sistem intermesari. BMKG bertindak memberikan data cepat ke pemangku kepentingan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk kemudian diteruskan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat setempat.
“Artinya, kita masih sangat membutuhkan sarana dan prasarana yang lebih terpadu agar informasi peringatan dini bisa langsung tersampaikan secara *real-time* ke masyarakat di pinggir pantai. Ini pekerjaan rumah kita bersama untuk memperkuat sistem mitigasi di Kalimantan,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Rabu, 17/06/2026
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan memperlihatkan zona subduksi Megathrust yang bisa berdampak Tsunami di Kalimantan. (Foto: Januar/Korankaltim.com)
TERPOPULER