Jumat, 28/08/2026
Jumat, 28/08/2026
kegiatan rapat koordinasi untuk mengoptimalkan penanganan dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan. (Dok.distanppu)
Jumat, 28/08/2026

kegiatan rapat koordinasi untuk mengoptimalkan penanganan dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan. (Dok.distanppu)
Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani
KORANKALTIM.COM, PENAJAM - Dampak El Nino mulai menjadi perhatian dalam upaya mempertahankan produksi pangan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Menghadapi kondisi tersebut, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersama Dinas Pertanian Kabupaten PPU menggelar rapat koordinasi untuk mengoptimalkan penanganan dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan yang dilaksanakan di Petung, Jumat (28/8/2026).
Rakor tersebut dibuka Ketua Tim Kerja PPL Kabupaten PPU Aulia Rahman, diikuti seluruh PPL., dihadiri perwakilan Dinas Pertanian PPU, yakni Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Gunawan.
Gunawan menyebut tantangan peningkatan produksi pangan pada musim tanam 2026/2027 tidak hanya berkaitan dengan kondisi lahan, tetapi juga perubahan iklim yang saat ini mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian.
Selain perubahan iklim, sejumlah tantangan lainnya meliputi alih fungsi lahan, minimnya regenerasi petani, penerapan teknologi smart farming, peningkatan pendapatan petani, serta persoalan food loss dan food waste dalam penanganan panen dan pascapanen.
"Data produksi, baik tanaman pangan maupun hortikultura selama kurun waktu 2021 sampai 2025 menunjukkan tren peningkatan dengan puncak produksi pada 2024. Namun, mempertahankan capaian tersebut tidak mudah, terutama ketika saat ini kita menghadapi El Nino," ujar Gunawan.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi pertanian pada 2026. Berdasarkan laporan insidentil kekeringan pada Juli lalu, terdapat 204 hektare lahan yang terdampak kekeringan.
Namun hujan cukup deras yang terjadi pada awal Agustus lalu memberikan dampak positif bagi tanaman yang sebelumnya terancam kekeringan. Kondisi tersebut membuat tanaman masih dapat diselamatkan hingga akhirnya bisa dipanen.
Meski demikian, ancaman kekeringan belum sepenuhnya berakhir. Laporan insidentil pada Agustus kembali mencatat kekeringan yang terjadi di tiga kecamatan dengan total luasan 19 hektare.
"Kondisi ini perlu segera dicarikan solusi agar dampak kekeringan tidak berlanjut dan produksi pangan tetap dapat dipertahankan," katanya.
Selain penanganan lahan yang terdampak kekeringan, stabilitas produksi pangan juga dinilai membutuhkan aksi nyata di tingkat masyarakat. Salah satunya melalui budidaya tanaman dalam pot, pemanfaatan pekarangan, serta gerakan menanam aneka jenis sayuran.
Sementara Aulia Rahman dalam arahannya menekankan pentingnya PPL menjalankan tugas pokok dan fungsi secara optimal. Ia juga mengingatkan setiap PPL untuk melakukan pelaporan secara mandiri atas tugas dan kegiatan yang telah dilaksanakan.
Pelaporan tersebut, berkaitan dengan pemenuhan hak dan kewajiban PPL sekaligus menjadi bagian dari penilaian mandiri lembaga terhadap kinerja masing-masing penyuluh.
"Harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Pelaporan mandiri yang dilakukan masing-masing PPL menjadi bagian penting dalam penilaian kinerja yang dituangkan dalam Sasaran Kinerja Pegawai atau SKP," jelas Aulia.
Melalui koordinasi antara PPL dan Dinas Pertanian, upaya menjaga produksi pangan diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan dampak El Nino, tetapi juga membangun pola produksi yang lebih merata.
Dengan pemanfaatan lahan pekarangan dan gerakan menanam berbagai jenis sayuran, produksi pangan diharapkan dapat seimbang antarbulan sehingga tidak terjadi ketimpangan produksi.
Editor : Aspian Nur
Jumat, 28/08/2026
kegiatan rapat koordinasi untuk mengoptimalkan penanganan dampak perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan. (Dok.distanppu)
TERPOPULER