Untuk efektivitas operasi, wilayah penyisiran dibagi menjadi tiga Search and Rescue Unit (SRU), SRU I menyisir area menggunakan Speedboat TNI AL dan Speedboat Damkar pada titik koordinat lokasi penemuan awal perahu Hasriarto yang setengah tenggelam. Kemudian, SRU II melakukan pencarian seluas 57,8 NM² dengan mengerahkan perahu nelayan setempat serta dibantu oleh pihak keluarga korban. Sementara, SRU III, menyisir area seluas 47,6 NM² menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas. "Sampai saat ini tim gabungan di lapangan masih terus melakukan penyisiran di tengah perairan," kata Adianto, Sabtu (18/7/2026). Kesulitan utama dalam proses pencarian ini adalah gelombang laut yang cukup tinggi, meskipun kondisi cuaca secara umum dilaporkan cerah.
Gelombang tinggi dan arus laut yang kuat menyulitkan pergerakan armada berukuran kecil untuk mendekati beberapa titik strategis.
Mekanisme penanganan operasi didasarkan pada standar resmi. Menurut Standar Operasional Prosedur (SOP) Basarnas, proses pencarian orang hilang dilakukan paling lama pada hari ke-tujuh sejak laporan diterima resmi. Jika belum ditemukan, operasi dapat diperpanjang tiga hari menjadi hari ke-10, hingga hari ke-14 atau lebih, bergantung pada hasil evaluasi dan penemuan tanda-tanda di lapangan.
"Kalau nanti tidak ditemukan juga, pencarian selanjutnya tergantung pihak keluarga, mau dilanjutkan atau tidak, saat ini kami hanya mengikuti SOP pencarian saja dan akan terus berusaha menemukan nelayan itu," jelasnya.
Operasi pencarian dapat diperpanjang atas dasar hasil evaluasi, pertimbangan kemanusiaan, adanya petunjuk atau tanda-tanda baru di lokasi, serta hasil koordinasi dengan keluarga korban.
Pencarian resmi akan dihentikan dan dinyatakan ditutup apabila telah ditemukan, dievakuasi, atau jika pencarian dinilai sudah tidak efektif dan tidak rasional lagi untuk dilanjutkan berdasarkan analisa teknis.
"Jika operasi resmi ditutup, Tim gabungan tetap akan memantau wilayah tersebut," sebutnya.
Proses pencarian dapat dibuka kembali sewaktu-waktu jika nanti ditemukan informasi valid atau tanda-tanda baru mengenai keberadaan korban di lapangan. "Semoga perluasan radius penyisiran ini dapat segera membuahkan hasil dan menemukan keberadaan Hasriarto," harap Adianto.
Sebelumnya dikabarkan Hasriarto berangkat memancing seorang diri menggunakan kapal pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 16.30 WITA.
Pihak keluarga mulai panik karena dirinya tidak kunjung kembali ke rumah hingga keesokan harinya. Hilangnya Hasriarto mulai menemui titik terang saat nelayan setempat melintas di perairan Muara Berau dan melihat sebuah perahu yang sudah setengah tenggelam.
Setelah diperiksa berdasarkan ciri-ciri fisiknya, pihak keluarga memastikan kapal tersebut adalah miliknya. Hingga saat ini, penyebab pasti hilangnya Hasriarto belum bisa dipastikan. Namun, pihak keluarga membeberkan bahwa korban memiliki riwayat medis sering mengalami kejang secara tiba-tiba. Kondisi ini diduga memicu situasi darurat saat Hasriarto berada sendirian di tengah laut.
Editor Aspian Nur